Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Menginginkan seorang anak darinya.


__ADS_3

Gita yang kini tengah berdiri di balkon kamar dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sembari menatap indahnya bintang bintang di langit tiba tiba di kejutkan dengan sebuah tangan kekar yang kini melingkar di perut rampingnya.


"Mas kamu sudah pulang??" Meksi tidak melihat siapa pemilik tangan kekar itu, Gita bisa menebak jika tangan itu milik suaminya, Hantara. Gita bisa mengenali Hantara dari aroma tubuh pria itu, aroma maskulin yang seolah mampu menghipnotis dirinya.


"Hemt." jawab Hantara di sela aksinya mengendus aroma vanila yang berasal dari tubuh Gita. aroma yang akhir akhir ini selalu membuatnya candu dan membuatnya ingin terus menyentuh wanitanya.


"Biarkan tetap seperti ini!!." pinta Hantara, Saat Gita hendak mengurai pelukannya. dengan mata terpejam Hantara menikmati aroma tubuh istrinya.


Gita pun memilih diam tak lagi berusaha melepas tangan kekar suaminya yang masih memeluk tubuhnya dari belakang.


Setelah merasa puas mengendus aroma tubuh Gita dengan mata terpejam, perlahan Hantara mulai membuka matanya dengan menyandarkan dagunya pada bahu Gita.


"Bagaimana dengan harimu, apa kamu sangat lelah hari ini?." tanya Hantara dan Gita pun mengangguk sebagai jawaban.


"Hari ini pasien lumayan banyak." jawab Gita seadanya.


Mendengar jawaban Gita membuat Hantara menghembus napas bebas di udara."Bagaimana dia bisa segera hadir di sini jika mamanya terlalu lelah bekerja." ucap Hantara sambil mengelus lembut perut ramping Gita. sedangkan Gita yang paham kemana arah kalimat Hantara hanya diam tidak berniat menimpali.

__ADS_1


Meski ingin sekali rasanya ia protes akan keinginan pria itu.


"Bagaimana kamu bisa memintaku untuk segera mengandung anakmu di saat aku sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku mas." tentunya kalimat itu hanya ada di dalam benak Gita. Gita tak berani bertanya langsung pada Hantara, karena takut mood pria itu yang bisa saja berubah kapan saja sesuai dengan suasana hatinya.


Hantara mengarahkan tubuh Gita memandang ke arahnya.


"Apa kamu tidak keberatan mengandung anakku??." tanya Hantara sambil menatap manik mata Gita. beberapa saat Gita terdiam meresapi tatapan Hantara yang terasa begitu menenangkan.


"Kamu sendiri bagaimana mas, apa kamu bersedia menerima anak yang lahir dari rahimku??." bukannya menjawab Gita malah balik bertanya.


"Jika aku tidak bersedia menerima anak yang lahir dari rahim istriku, bagaimana mungkin aku sampai meminta hakku sebagai seorang suami." entah mengapa Gita merasa tidak puas dengan jawaban Hantara.


"Apa hanya itu alasan kamu mas??." entah mengapa Gita berharap ada alasan lain yang membuat Hantara ingin segera memiliki anak darinya.


"Aku rasa tidak perlu alasan khusus untuk menginginkan kehadiran seorang anak." jawab Hantara yang kurang peka kemana arah pertanyaan Gita sebenarnya, sebelum Hantara menarik tubuh istrinya bersandar pada dada bidang miliknya.


Gita nampak tersenyum miris di dalam dekapan Hantara, tentunya sebuah senyuman yang tak di sadari oleh pria itu."Bagaimana bisa aku berharap mas Hantara menginginkan seorang anak karena mencintaiku." batin Gita tersenyum miris akan nasibnya.

__ADS_1


"Mas." masih berada di dalam dekapan Hantara Gita berujar.


"Hemt." Hantara hendak mengurai dekapannya pada tubuh Gita, namun sepertinya Gita ingin tetap dalam posisi yang sama. Gita seolah tidak sanggup menatap wajah suaminya saat hendak melanjutkan kalimatnya. sehingga Hantara pun tak memaksa, membiarkan Gita tetap berada di dekapannya.


"Aku tahu mas, kamu sangat menyayangi Akila karena Akila terlahir dari rahim wanita yang sangat kamu cintai, tapi apakah kamu akan memberi kasih sayang yang sama pada anak yang akan lahir dari rahimku mas??." Kalimat Gita terdengar begitu menyayat hati.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu??." bukannya menjawab pertanyaan Gita, Hantara malah balik bertanya sambil mengurai dekapannya agar bisa menatap intens wajah istrinya.


"Bukan apa apa mas,,,,aku hanya ingin bertanya saja." jawab Gita saat Hantara menatapnya intens.


Entah apa yang membuat Gita berani menyentuh wajah tampan suaminya saat itu.


"Nona Reva sangat beruntung bisa di cintai oleh pria seperti dirimu mas." Hantara yang tak suka mendengar ucapan Gita barusan melayangkan tatapan tak bersahabat, sehingga membuat Gita berpikir jika pria itu marah karena ia sudah dengan berani menyentuh wajah tampannya.


"Maaf." ucap Gita tertunduk. Gita nampak mulai takut dengan tatapan Hantara. di tengah ketegangan Gita tiba tiba suara seseorang mengetuk pintu kamar membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


"Gita... jangan terlalu tinggi jika bermimpi, kau akan sakit jika terhempas begitu saja." batin Gita seolah memperingatkan dirinya sendiri, agar tidak terlalu berharap jika suatu saat Hantara akan jatuh cinta padanya. Gita nampak membatin di kala Hantara melangkah hendak membuka pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2