Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Di mana dia sekarang???


__ADS_3

Dua hari kemudian


Armada memberi kabar pada Hantara telah membawa Reva ke tempat yang sama dengan Andika. namun Armada sengaja menempatkan keduanya di ruangan yang berbeda.


Hantara yang baru saja mengantar istrinya ke tempatnya bekerja segera melajukan mobilnya menuju salah satu rumah miliknya yang memiliki fasilitas ruang bawah tanah.


Kurang dari satu jam mobil yang di kendarai Hantara memasuki gerbang rumah mewah yang di jaga ketat oleh beberapa pria bertubuh kekar.


Tap


tap


tap


Suara langkah seseorang mengalihkan pandangan Reva ke sumber suara. "Hantara." dengan senyum mengembang di bibirnya Reva memandang kedatangan pria yang pernah mengisi relung hatinya tersebut. "Aku tahu kamu pasti akan datang untuk menyelamatkan aku." lanjutnya. wajah Reva yang awalnya berseri berubah layu saat menyadari tatapan tajam pria itu.


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu sementara aku sendiri yang telah memerintahkan anak buahku untuk membawamu ke tempat ini." jawaban sinis yang terlontar dari mulut Hantara membuat kedua bola mata Reva membulat dengan sempurna.


"Apa maksudmu??? jangan bilang mereka adalah orang suruhanmu??" tanya Reva dengan tatapan curiga.


"Tepat seperti dugaanmu, orang orang itu memang anak buahku." jawab Hantara seadanya.


Reva memicingkan matanya menatap tak percaya jika pria yang dulunya begitu menyayangi dirinya bisa sampai menyuruh anak buahnya untuk menyekapnya di ruang yang penerangannya sangat minim seperti saat ini.


"Aku beri waktu sepuluh menit untuk berpikir, kesalahan apa yang telah kau perbuat hingga aku berbuat seperti ini padamu???" tanya Hantara dengan sorot mata sulit di tebak, bahkan sampai membuat Reva bergidik ngeri di buatnya. sorot mata yang belum pernah di lihat Reva Sebelumnya di mata mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Aku tidak merasa berbuat kesalahan padamu." jawab Reva yakin yang justru membuat Hantara tersenyum miring menanggapinya.


"Oh ya...." jawabnya seolah percaya dengan ucapan Reva. sebelum beberapa saat kemudian Hantara melempar sebuah berkas ke hadapan wanita yang pernah mengisi relung hatinya di masa lalu tersebut.


Dengan tangan bergetar Reva meraih berkas itu kemudian mulai membacanya. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan ini??." tanya Reva dengan suara bergetar usai membaca berkas dari rumah sakit tempat dirinya melahirkan seorang anak beberapa tahun silam.


"Tidak penting bagaimana aku bisa mendapatkan surat itu, sekarang jawab siapa ayah dari anak itu??." pertanyaan Hantara di tujukan pada anak yang di lahirkan Reva beberapa tahun yang lalu.


"Untuk apa kamu bertanya tentangnya, dia anakku dan juga pria selingkuhanku." Reva nampak memalingkan wajahnya saat menjawab pertanyaan Hantara, dan hal itu membuat Hantara semakin yakin akan pengakuan Andika dua hari lalu padanya.


Tidak ingin mantan istrinya itu terus mengelak, Hantara kembali melempar sebuah amplop coklat ke arah Reva. " Bagaimana dengan bukti ini." ucapnya.


Tubuh Reva nampak menegang saat membuka dan membaca isi dalam amplop coklat tersebut. sebuah bukti hasil tes DNA yang menyatakan Andika Mahendra dan bayi yang saat itu ada di dalam kandungannya 99,99 berbeda dan itu artinya janin itu bukan milik pria itu.


Melihat Reva masih diam tak bersuara, Hantara pun memberi perintah pada asisten pribadinya. "Armada... pastikan semua pemilik saham di perusahaan milik tuan Handoko menarik saham mereka!!." mendengar perintah Hantara pada asisten pribadinya membuat tangis Reva akhirnya pecah juga.


"Jangan lakukan itu...!!! aku mohon, ayahku tidak bersalah padamu. ini semua salahku." Reva nampak memohon di kaki Hantara.


Teringat akan penyakit Jantung yang di derita ayahnya, Reva yakin akan berdampak buruk pada kesehatan sang ayah jika sampai pemilik saham menarik saham mereka dari perusahaan milik ayahnya.


"Jika kau masih sayang pada ayahmu, maka katakan yang sebenarnya padaku!! sebelum aku mencari tahu kebenarannya sendiri dan jika sampai itu terjadi akan kupastikan kau akan menyesalinya." peringatan Hantara kembali membuat Reva tak berkutik dan akhirnya mulai mengatakan semua kebenaran yang pernah terjadi tiga tahun lalu pada pria itu.


Dengan Isak tangis Reva coba mulai bercerita sedangkan Hantara nampak diam fokus mendengarkan setelah mendengar sebagian cerita Reva, Hantara pun berucap.


"Kau bahkan tega menyembunyikan kabar kehamilanmu agar bisa tetap bercerai dariku hanya karena pria lain." ucapan Hantara semakin membuat Reva merasa bersalah, bukan hanya pada mantan suaminya itu namun juga pada putrinya yang sampai detik ini ia tak tahu lagi di mana keberadaannya.

__ADS_1


"Maafkan atas sikapku yang dulu, tapi aku bisa memperbaiki semuanya jika kita bisa kembali bersama." ucap Reva penuh harap.


"Tidak perlu minta maaf karena aku sudah memaafkan mu sejak lama, tapi jangan pernah bermimpi untuk bisa kembali bersama denganku, karena semua itu sangat mustahil. saat ini aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku." jawab Hantara dengan wajah datarnya.


Reva nampak menggeleng saat mendengar pengakuan Hantara." tidak mungkin...tidak mungkin kau mencintai wanita itu, kau pasti masih mencintaiku kan." ucap Reva seolah menepis kebenaran atas ucapan mantan suaminya.


"Aku memang mencintaimu." ucapan Hantara sontak membuat senyum terbit di wajah Reva, namun sepersekian detik kemudian senyum itu memudar saat pria itu kembali melanjutkan ucapannya. " Tapi itu dulu saat masih menjadi istriku, sebelum kau lebih memilih menggugat cerai demi pria lain. kini tak ada lagi namamu di dalam sini." Ucap Hantara seraya menepuk dadanya.


"Jangan pernah berpikir jika selama ini aku masih bersikap baik padamu karena masih mencintaimu. Asal kau tahu, aku melakukan semua itu semata mata karena Akila. aku tidak mau menyakiti putriku lewat sikap jahatku pada ibu kandungnya. Meksi kita sama sama tahu jika sebenarnya Akila kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya." kalimat terakhir Hantara sungguh membuat Reva merasa menjadi seorang ibu yang paling jahat pada darah dagingnya sendiri. terlebih lagi pada putri keduanya yang tidak ia ketahui keberadaannya sampai saat ini.


Reva hanya bisa menangis mendengar ucapan Hantara sampai tubuhnya luruh ke lantai. sejujurnya Hantara kasihan melihat kondisi Reva saat ini, namun Hantara memilih diam tak menyentuh ataupun sampai membantu wanita itu untuk berdiri.


Dengan sorot matanya Hantara memerintahkan Armada untuk melakukannya.


"Ayo berdiri Nyonya!!." Armada membantu Reva untuk berdiri kemudian mengarahkan wanita itu untuk duduk di sebuah kursi.


"Aku sungguh menyesal atas kebodohanku dulu." ucap Reva dengan pandangan tertunduk di sela tangisnya


"Jika kau memang telah menyesali perbuatanmu di masa lalu, sebaiknya sekarang katakan padaku di mana anak itu??." meski sangat marah dengan sikap Reva selama ini, namun Hantara tak ingin sampai mengotori tangannya menghukum wanita itu karena tidak ada untungnya juga baginya.


Karena bagi Hantara yang terpenting saat ini adalah keberadaan putri keduanya.


"Aku juga tidak tahu di mana dia sekarang, sejak usianya dua Minggu aku tak pernah lagi bertemu dengannya." jawaban Reva dengan suara bergetar tersebut seolah kembali membuat darah Hantara seakan mendidih.


"Apa maksudmu??." tanya Hantara dengan tatapan curiga mengingat mantan situ memiliki sifat nekat.

__ADS_1


__ADS_2