Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Menjalani beratnya kehidupan.


__ADS_3

Suasana nampak canggung saat Gita tiba di restoran di mana Dimas sudah sejak tadi menanti kedatangannya.


Hantara menarik sebuah kursi untuk istrinya yang berhadapan dengan kursi yang tengah di duduki Dimas, sebelum kemudian menarik satu lagi untuk dirinya ketika Dimas mempersilahkan mereka untuk duduk.


Hantara yang berada di antara keduanya berusaha bersikap biasa untuk mengusir kecanggungan yang begitu terasa di antara Istrinya dan juga kakak kandung dari istrinya tersebut.


"Apa kau tidak berniat memesan sesuatu untuk sarapan???." Hantara mulai bersuara untuk mengusir kecanggungan dengan bertanya pada Dimas, karena kebetulan pagi itu hanya secangkir kopi yang tersaji di hadapan Dimas.


"Aku sudah sarapan tadi di mansion." dusta Dimas, padahal kenyataannya pagi ini pria itu begitu bersemangat menuju restoran sehingga melewatkan sarapan paginya. untungnya sebagai seorang istri Renata dapat mengerti karena suaminya semalam telah menceritakan tentang rencana Hantara tersebut pada dirinya.


Kini Dimas memandang ke arah Gita yang nampak masih nampak diam di samping suaminya.


"Maafkan aku.... karena kesalahpahaman dan juga kondisi kejiwaan mama yang terganggu setelah kejadian di masa lalu sehingga membuatku bertindak jahat padamu." tutur Dimas dengan wajah penuh penyesalan.


Gita menengadahkan kepalanya membalas pandangan Dimas dengan tatapan sendu. " Jika anda Saja yang masih memiliki kesempatan hidup bersama wanita yang telah melahirkan anda masih merasa seperti dendam, lalu bagaimana dengan saya yang kehadirannya tidak diinginkan oleh ibu kandungnya sendiri??." Sesak, tentu saja Gita merasa dadanya terasa sesak saat berucap, bahkan kini kedua pelupuk matanya mulai di genangi air mata.


Hantara yang kini duduk di samping istrinya memilih diam seraya mengusap punggung istrinya untuk menenangkan, membiarkan Gita mengeluarkan isi hatinya di hadapan pria yang merupakan kakak kandungnya.


"Tetapi saya iklhas, mungkin semua ini sudah menjadi takdir hidup saya." sejenak Gita menghentikan kalimatnya dengan mengangkat pandangannya ke atas untuk menghalau air matanya agar tidak sampai terjatuh.


"Anda tahu, saya bahkan harus berjuang seorang diri untuk menyambung hidup sejak usia lima belas tahun sedangkan anda bisa hidup layak bersama ibu anda, lalu mengapa anda masih menaruh rasa dendam dan bahkan berniat menghabisi nyawa saya??. Jika saat itu tuhan tak mengirim seseorang untuk menolong saya, mungkin saat ini kita tidak akan bisa bertemu di sini.." kini Gita tak sanggup lagi menahan air matanya sehingga membuat Dimas semakin menyesali perbuatan jahatnya.


Sejujurnya Hantara tak tega melihat istrinya mulai berurai air mata, namun begitu Hantara tetap memilih diam membiarkan Gita mencurahkan semuanya di hadapan Dimas.

__ADS_1


Sedangkan Dimas sendiri kini merasa hatinya bagai terkoyak saat mendengar adiknya secara tidak langsung mengisahkan kehidupannya, sebuah kehidupan yang bisa di bilang sangat lah menderita.


Ingin rasanya Dimas memeluk adik perempuannya itu, namun ia enggan melakukannya mengingat Betapa jahatnya dirinya dulu pada Gita.


Kini Gita merasa pandangan mulai berputar sebelum kemudian menghitam dan wanita itu pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Untungnya sejak tadi Hantara tetap stay di sisinya sehingga saat tubuhnya hendak terjatuh dengan sigap Hantara menghalau sehingga Gita terjatuh di pelukan suaminya.


Tidak jauh berbeda dengan Hantara, Dimas pun terlihat begitu panik saat Gita jatuh pingsan.


Dimas bergegas menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Hantara yang kini tengah mengangkat tubuh Gita.


Hantara yang kini memangku tubuh istrinya duduk di jok belakang sementara Dimas bertugas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Setibanya di rumah sakit Dimas yang tak kalah paniknya dengan Hantara, bergegas meminta bantuan petugas rumah sakit yang bertugas untuk membantu menangani Gita segera.


"Bagaimana kondisi istri saya dok??."


"Bagaimana kondisi adik saya dok??."


Tanya Hantara dan juga Dimas hampir bersamaan, sehingga membuat Dokter harus memandang ke arah keduanya secara bergantian Sebelum kemudian menjawab.


"Tidak ada masalah serius, pasien hanya mengalami anemia ringan. saya sudah menyuntikkan beberapa Vitamin melalui injeksi serta meresepkan obat penambah darah. setelah cairan infusnya habis pasien di perbolehkan pulang."Akhirnya baik Dimas maupun Hantara bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.

__ADS_1


"Setelah mengetahui kebenarannya istriku memang sering susah tidur di malam hari, mungkin itu yang membuatnya sampai mengalami anemia. apalagi saat ini Gita sedang hamil." tutur Hantara memberitahu setelah kepergian dokter.


Sementara Dimas yang mendengarnya nampak memijat pangkal hidungnya karena saat ini pria itu merasa kepalanya terasa berdenyut. begitu besar penyesalan yang kini di rasakan Dimas sehingga membuat kepalanya Sampai berdenyut memikirkannya.


"Boleh aku tetap berada di sini sampai Gita sadar??." Tanya Dimas meminta izin dari Hantara dan di jawab anggukan oleh Dimas.


Dimas adalah Kakak kandung istrinya, wajar jika pria itu juga mencemaskan keadaan adiknya. sehingga tidak ada alasan bagi Hantara untuk tidak mengizinkan Dimas tetap berada di sana sampai istrinya sadarkan diri.


Lima belas menit kemudian seorang perawat menghampiri keduanya. "Keluarga nyonya Mentari sagita??." tanya perawat tersebut kepada Dimas dan juga Hantara yang tengah duduk di bangku ruang tunggu.


"Iya sus." jawab Hantara sementara Dimas yang juga ikut berdiri ketika menyadari kedatangan perawat tersebut memilih diam, membiarkan Hantara bicara karena pria itu lebih berhak karena Hantara adalah suaminya sedangkan dirinya hanyalah seorang kakak yang pernah berbuat jahat kepada adik kandungnya sendiri.


Hal itu membuat Dimas merasa begitu rendah diri.


"Pasien sudah sadar dan kondisinya sudah jauh lebih baik, setelah cairan infus yang terpasang habis pasien boleh pulang. namun sebelumnya silahkan menyelesaikan administrasinya!!." ucap perawat yang di akhir kalimatnya menunjuk ke arah kasir rumah sakit berada dan Hantara pun mengangguk paham.


Setelah kepergian perawat tadi barulah Hantara menyadari jika saat ini Dimas tak lagi berada di tempat. " Ke mana dia??." Gumam Hantara sebelum kemudian tak lagi terlalu memikirkan keberadaan Dimas. Hantara berpikir mungkin Dimas segera meninggalkan rumah sakit karena ada urusan mendadak sehingga tidak sempat berpamitan padanya.


"Permisi Bu, saya ingin menyelesaikan administrasi untuk istri saya, pasien atas nama Mentari Sagita." tutur Hantara kepada petugas kasir rumah sakit kemudian di jawab anggukan ramah oleh petugas kasir.


"Maaf tuan, administrasi untuk pasien atas nama Nyonya Mentari Sagita telah di lunasi beberapa saat yang lalu." jawab petugas kasir rumah sakit setelah melihat stempel lunas.


"Coba di periksa lagi Bu, karena saya belum merasa melunasinya." tutur Hantara dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Benar tuan, administrasi pasien atas nama Mentari Sagita telah di lunasi oleh seseorang beberapa saat yang lalu. yang tertera di sini penebus mengaku sebagai kakak dari pasien, tuan." dari penjelasan petugas kasir Hantara bisa menebak bahwa Dimas lah yang telah melunasi administrasi perawatan istrinya.


Hantara menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum kecil sebelum pria itu pamit untuk kembali ke ruang di mana istrinya berada.


__ADS_2