
Di perusahaan Putra Adipura Sanjaya.
Hantara baru saja mendapat pesan lewat aplikasi hijau miliknya dari Armada, jika pagi ini adiknya baru saja menemui calon ibu mertuanya.
Mengingat tidak mudah berada di posisi Dimas saat ini, Hantara meminta Armada untuk bergerak lebih cepat untuk mendapatkan Fakta tentang kejadian yang terjadi di masa lalu yang menjadikan istrinya sebagai pelampiasan dendam dari pria itu.
Setidaknya jika fakta membuktikan jika ibu mertuanya memang terbukti bersalah telah merebut ayahnya Dimas dari Dimas dan ibunya, setidaknya pria itu tidak menjadikan istrinya sebagai sarana untuk membalaskan dendamnya.
Tetapi jika sebaliknya, Maka Hantara ingin pria bernama Dimas satria Prayoga yang tidak lain adalah calon suami dari adiknya tersebut harus meminta maaf karena telah melakukan tindakan kejahatan terhadap istri dan anaknya.
Hantara berpikir, Sebagai kepala keluarga di dalam keluarga kecilnya serta kakak dari Renata, dirinya harus mengambil keputusan yang bijaksana. keputusan yang tidak akan merugikan baik istrinya maupun adik bungsunya.
Beberapa saat kemudian ponsel Hantara nampak bergetar tanda seseorang melakukan panggilan.
"Armada." ucap Hantara dalam hati , sebelum menggeser ke atas icon hijau di ponselnya.
"Jika kau yakin dengan informasi yang kau dapatkan, segera bawa Pria itu untuk menemuiku!!!." titah Armada setelah mendengar penjelasan Armada dari seberang telepon, sebelum kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Ternyata Dimas dan pria itu memiliki ikatan saudara." gumam Hantara setelah kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.
Di satu sisi Hantara sangat mencintai istrinya dan tentunya hal itu membuat Hantara ingin selalu menjaga dan melindungi Gita, tetapi di sisi lain sebagai seorang kakak, Dirinya juga tidak ingin melakukan sesuatu yang akan merugikan adik perempuannya.
Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh Armada selama dua hari terakhir, Fakta membuktikan jika Dimas merupakan kakak dari istrinya, dan pastinya fakta tersebut telah di ketahui oleh Dimas sebelumnya, begitu menurut pemikiran Hantara.
"Sebesar itu kah dendam pria itu sampai tega melampiaskannya terhadap adiknya sendiri, setidaknya meski mereka tidak terlahir dari ibu yang sama, Gita tetaplah adiknya karena mereka memiliki ayah kandung yang sama." batin Hantara tidak habis pikir dengan tindakan Dimas dulu terhadap istrinya.
Namun satu hal yang tidak di ketahui Hantara, yaitu, selama ini Dimas mengira Gita merupakan anak dari selingkuhan ibunya bukanlah anak kandung dari ayahnya. Selama ini Dimas berpikir jika ibunya Gita sengaja menjebak ayahnya agar bisa menikah dengannya.
****
Di waktu yang sama, Renata dan Dimas hendak meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Renata lebih dulu masuk ke mobil sementara Dimas masih nampak berbicara serius dengan Abimanyu di area parkiran, sebelum keduanya pun berpisah Abimanyu menuju mobilnya begitu pun dengan Dimas yang kini masuk ke mobilnya.
Beberapa saat kemudian.
"Maaf." permintaan maaf Renata di tujukan pada Dimas yang kini hendak memasang sit belt pada tubuhnya.
"Maaf untuk apa??." tanya Dimas dengan wajah bingung.
"Maaf karena aku sudah terlalu ikut campur di dalam urusan keluarga kamu." Renata menghentikan ucapannya Sejenak saat melihat wajah Dimas berubah datar.
Renata pun mengangkat kedua jarinya ke udara seraya berkata."Tapi aku berani bersumpah aku sama sekali tidak berniat buruk pada ibumu, aku terpaksa berdusta pada ibumu karena aku hanya ing_." ucapan Renata melayang begitu saja di udara, saat merasakan benda kenyal milik Dimas kini menyentuh bibirnya dengan lembut.
"Terima kasih." ucap Dimas setelah menyudahi kecupannya.
Sedangkan Renata yang masih merasa terkejut dengan tindakan Dimas yang tiba-tiba mengecup bibirnya, masih nampak terpaku tanpa berdekip sedikit pun.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, kita bahkan pernah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman." dengan menyunggingkan senyum kecil Dimas berucap, sehingga membuat Renata yang menyadari itu spontan memalingkan wajahnya ke arah depan.
"Mungkin saja kau menyesali kejadian malam itu, tetapi aku tidak pernah menyesalinya. aku justru merasa bangga bisa memilikimu seutuhnya terlebih lagi aku merupakan pria pertama yang melakukannya padamu." lanjut Dimas teringat akan malam panas mereka beberapa bulan yang lalu.
Raut wajah Renata yang mendengarnya pun semakin memerah menahan malu, namun wanita itu memilih diam sembari memandang ke arah deretan mobil yang terparkir di area parkiran mobil dari pada menoleh ke arah Dimas berada, seolah deretan mobil yang terparkir dengan rapi tersebut lebih menarik di banding wajah tampan Dimas.
"Terima kasih untuk semuanya, sayang." terakhir ucap Dimas sebelum menghidupkan mesin mobil kemudian mulai menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan area parkiran rumah sakit.
Sedangkan Renata yang mendengar Dimas kembali memanggilnya dengan sebutan sayang, membuat kedua bola mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Seandainya kamu benar-benar sayang padaku, mas." dalam hati Renata.
Waktu kini menunjukkan pukul sepuluh pagi namun Renata merasa perutnya mulai terasa lapar.
"Apa kamu merasa lapar??." Dimas yang tidak sengaja melirik ke arah samping melihat Renata memegangi perutnya.
__ADS_1
"Tidak." dusta Renata, namun sepertinya irama yang berasal dari perutnya kontras dengan ucapannya.
Dimas pun tersenyum kecil saat mendengar bunyi yang berasal dari perut calon istrinya tersebut."Sepertinya anakku sudah kelaparan di dalam sana." ucapnya seraya menahan senyum.
Sedangkan Renata yang mendengarnya memilih diam, karena sebenarnya dirinya sudah merasa sangat lapar padahal pagi tadi ia sudah Sarapan.
Dimas kemudian menepikan mobilnya saat melihat restoran terdekat." Kita makan di restoran ini saja." usul Dimas dan Renata pun mengangguk senang saat melihat restoran tersebut menyediakan bakso granat, makanan yang sejak kemarin diidamkannya.
Sementara Dimas kembali tersenyum saat melihat reaksi Renata yang menurutnya sangat menggemaskan. seperti seorang anak kecil yang bahagia karena baru saja di belikan mainan baru.
Renata segera turun dari mobil saat Dimas telah membukakan pintu mobil untuknya.
Tanpa sadar Renata yang tengah melangkah tersebut menggandeng lengan Dimas dan hal itu membuat Dimas menyunggingkan senyum senang.
"Duduklah!! aku akan memesan bakso granat seperti keinginan anakku." ucap Dimas. pria itu telah mengetahui keinginan Renata karena wanita itu yang mengatakannya tadi, tetapi karena gengsi Renata mengatasnamakan anaknya untuk memenuhi keinginannya.
"Maaf tuan, bakso granatnya habis porsi terakhir telah di pesan oleh tuan yang duduk di sana!!." kata pelayan restoran saat Dimas melakukan pesanan, di akhir kalimat pelayan tersebut menunjuk ke arah sebuah meja yang tengah di tempati oleh seorang pria.
"Rena, Bakso granatnya habis, apa sebaiknya kita cari di tempat lain saja." kata Dimas setelah kembali ke meja yang kini di tempati Renata.
"Yah....." jawab Renata dengan wajah kecewa.
Baru saja Renata hendak berdiri dari tempat duduknya, Tiba tiba seseorang menghampiri meja mereka.
"Ini untuk anda Nona, Kelihatannya istri anda sangat menginginkan bakso granat ini." ucap seorang pria seraya meletakkan semangkuk bakso granat miliknya ke hadapan Renata.
"Terima kasih tuan anda baik sekali" kata Renata sebelum menatap penuh minat ke arah mangkok bakso di hadapannya.
"Terima kasih tuan, istri saya sedang mengidam itu sebabnya istri saya sangat menginginkannya." jawab Dimas merasa sungkan namun sekaligus merasa bersyukur karena keinginan Renata terpenuhi.
"Sama sama, semoga istri dan calon anak anda selalu sehat dan kelahirannya semakin menjadi penguat hubungan di antara kedua orang tuanya." ucap pria tersebut, dari nadanya terdengar begitu tulus.
__ADS_1
"Aamiin...." dengan cepat Dimas mengamininya doa pria tersebut, setelahnya pria itu pun pamit.