Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Tak Sengaja bertemu.


__ADS_3

Kini baik Renata dan juga Dimas telah kembali bergabung bersama Hantara dan juga kedua orangtuanya.


"Apa kalian sudah memutuskan kapan kalian akan melangsungkan pernikahan??." pertanyaan tuan Adipura lebih di tujukan kepada Dimas.


"Sudah."


"Belum."


Jawab Renata dan Dimas hampir bersamaan namun jawaban keduanya terdengar berbeda,. Sehingga membuat Hantara, ibunya serta tuan Adipura nampak mengeryit bingung dengan jawaban keduanya.


"Maaf tuan, maksud saya, saya sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan kami Minggu depan tetapi saya belum meminta persetujuan dari Renata." ucap Dimas, Tuan Adipura pun terlihat mengangguk setuju dengan keputusan Dimas.


"Saya setuju jika pernikahan kalian di lakukan Minggu depan, lebih cepat lebih baik." timpal Hantara setuju dengan rencana Dimas, namun begitu tatapan Hantara masih terlihat begitu dingin terhadap Dimas.


Renata yang mendengarnya hanya bisa menghela napas pasrah karena tidak berani membantah keputusan Hantara.


"Baiklah, Rena setuju pernikahannya di laksanakan Minggu depan, tetapi Rena ingin pernikahan kami hanya di rayakan secara sederhana." jawab Rena yang mulutnya sejak tadi sudah merasa gatal ingin bersuara.


Dimas yang mendengarnya hanya Bisa diam meskipun ingin rasanya ia menolak permintaan calon istrinya tersebut, karena prinsip Dimas pernikahan itu di lakukan hanya sekali seumur hidup apa salahnya menggelar pesta resepsi. untungnya ucapan Hantara seolah mewakili perasaannya saat ini.


"Tidak, mas tidak setuju jika pernikahan ini di lakukan secara sederhana karena kamu adik mas perempuan satu-satunya mas ingin kita merayakannya dengan menggelar pesta resepsi. kamu tidak perlu khawatir karena mas sendiri yang akan mempersiapkan pesta resepsi untuk pernikahanmu" tegas Hantara, dan hal itu membuat Dimas nampak menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Sebelumnya terima kasih karena anda berniat untuk mempersiapkan resepsi pernikahan kami, tetapi sebagai calon pengantin pria sudah sepatutnya saya yang mengurus semuanya, jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda, tuan Hantara, izinkan saya sendiri yang akan mempersiapkan resepsi untuk pernikahan kami nanti." pinta Dimas dan Hantara pun nampaknya tidak keberatan, pria itu justru merasa Dimas tahu sesuatu yang sepatutnya menjadi tanggung jawabnya.


"Baiklah, lakukan seperti yang kau inginkan!!!." jawab Hantara mengiyakan permintaan Dimas. sedangkan Renata hanya melirik kesal ke arah Dimas yang kini duduk di sampingnya.


Dimas sendiri hanya nampak tersenyum manis menanggapi lirikan tajam dari Renata.


Meskipun aura perang dingin masih begitu terasa di antara Hantara dan Dimas namun keduanya seolah mengesampingkan ego masing-masing saat ini, buktinya keduanya terlihat saling menimpali obrolan masing masing saat membahas tentang pernikahan Dimas dan Renata.

__ADS_1


Setelah selesai membahas tentang rencana pernikahannya dengan Renata, Dimas pamit namun sebelumnya pria itu meminta izin kepada tuan Adipura Sanjaya untuk mengajak Renata bertemu dengan ibunya sebelum pernikahan mereka dilangsungkan, dan pria paru baya tersebut pun memberikan izin padanya.


****


Di kediaman Hantara.


Di pagi menjelang siang hari ini kedua sahabat Gita datang berkunjung, karena kebetulan keduanya mendapat hari libur yang sama.


"Kami sangat merindukanmu Gita." Rahma dan Anis nampak berlari kecil menuju ke arah Gita yang baru saja turun dari kamarnya.


Gita pun nampak merentangkan kedua tangannya menyambut kedua sahabatnya."Aku juga sangat merindukan kalian." ucapnya ketika ketiganya saling berpelukan untuk beberapa saat, sebelum kembali melerai pelukannya.


"Apa suamimu tidak ada di rumah??." tanya Anis asal karena tidak melihat keberadaan Hantara dan Gita pun mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi sepertinya sebentar lagi mas Hantara akan segera kembali, karena siang ini mas Hantara mengundang kedua temannya untuk makan siang di rumah sekaligus ingin membahas sesuatu dengan kedua sahabatnya." jawab Gita sebelum wanita itu memandang ke arah jarum jam dinding yang kini telah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Oh begitu....." Anis hanya terlihat ber oh ria saat mendengarnya, namun beberapa saat kemudian gadis itu seolah teringat akan sesuatu yang membuatnya kini mengembangkan senyum di bibirnya."Apa pak Armada juga akan ikut makan siang di sini??." batin Anis.


"Ada apa bi??." tanya Gita saat menyadari kedatangan salah satu ART nya tersebut.


"Itu nyonya, ada temannya tuan di depan." kata Bi Ela.


Belum sempat Gita menjawab, kini telah terdengar suara Hantara yang baru saja tiba mengobrol dengan kedua sahabatnya di ruang tamu.


"Kenapa kalian tidak langsung masuk saja, malah menunggu di depan segala seperti orang asing saja." kata Hantara pada Riko dan juga Damar.


"Kata Bi Ela, Istrimu sedang ada tamu di ruang ya terpaksa kami memilih menunggumu di sini." jawab Damar seraya menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu.


Hantara yang mendengarnya langsung bertanya pada Bi Ela yang baru saja melintas hendak ke depan." Siapa yang datang menemui istri saya bi??." tanya Hantara sempat berpikir jika tamu yang di maksud adalah Reva.

__ADS_1


"Non Rahma dan Non Anis tuan, sekarang mereka lagi ngobrol di ruang tengah." jawab Bi Ela. setelah melihat majikannya tersebut tak lagi bertanya Bi Ela pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya dan Hantara pun mempersilahkannya.


Riko yang kini duduk di samping Damar pun terkejut mendengarnya.


"Gadis itu ada di sini??." batin Riko.


"Mas, kamu sudah kembali??." tanya Gita, kemudian mengulurkan tangan pada suaminya kemudian mencium punggung tangan suaminya.


"Iya sayang, ke mana Anis dan Rahma??." tanya Hantara saat tak melihat keberadaan keduanya.


"Ada di ruang tengah mas, apa mas dengan teman teman mas tidak ingin bergabung sekalian biar lebih seru." tawar Gita, dan mau tidak mau Hantara pun mengiyakan tawaran istrinya karena tidak ingin penolakannya akan membuat mood istrinya menjadi buruk.


Semenjak hamil mood Gita gampang sekali berubah ubah, kadang wanita itu bisa marah atau pun menangis hanya karena masalah kecil.


"Boleh juga." jawab Hantara.


Berbeda dengan Riko yang belum juga beranjak dari tempat duduknya, Damar justru nampak begitu bersemangat mendengarnya. pria itu segera bangkit dari tempat duduknya untuk mengikuti langkah Hantara dan juga Gita.


Menyadari Riko belum juga melangkah, Damar pun menoleh."Apa kau akan tetap duduk di situ??." tanya Damar seraya kembali melangkah ke arah Riko."Ayolah...!!! aku dengar dengar kedua sahabat Gita masih singel, siapa tahu ada yang naksir sama kita." seloroh Damar disertai dengan senyum serta kedipan mata sebelah.


Sementara Riko yang mendengarnya hanya nampak berdecak."Ck...dasar buaya, tidak bisa mendengar ada anak gadis langsung kambuh penyakit mata keranjangnya." cetus Riko dan Damar hanya tersenyum mendengarnya.


"Namanya juga usaha." jawab Damar dengan sisa senyum di wajahnya.


"Hai..." Nampaknya Damar mulai memasang aksinya, terlihat saat pria itu mulai menyapa Anis dan juga Rahma. tak lupa Damar juga memasang senyum termanis yang di milikinya.


"Hai juga tuan Damar." Hanya Anis yang terlihat menjawab sapaan Damar, sementara Rahma hanya terlihat tersenyum kecil.


"Hai juga tuan Riko." sapa Anis pada pria yang kini berjalan di belakang Damar, dan Riko pun menanggapi sapaan Anis dengan anggukan kecil.

__ADS_1


Kini Hantara dan kedua sahabatnya telah bergabung dengan Anis dan juga Rahma di ruang tengah. Dengan posisi Rahma dan Anis duduk di karpet bulu sedangkan Riko dan Damar duduk di sofa yang cukup dekat dengan Anis dan Rahma.


Sayang sayangku,,,,jangan lupa untuk terus mendukung karya recehku ya,,,,,dengan cara like, koment, dan juga Vote....!!!! karena itu sangat membantu perkembangan karya recehku,,,,,dan jangan lupa untuk menekan tombol favorit ya,,,,,,😘😘😘😘😘😘🥰🥰😘😘😍😍🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏🙏 I Love you all,,,,


__ADS_2