
Riko nampak menggeser ke atas tombol hijau di saat ponselnya berdering. "Sepertinya Riko akan terlambat tiba di Jakarta" ucap Riko pada seseorang memalui sambutan telepon.
"Riko terpaksa harus ketinggalan pesawat karena harus berurusan dengan seorang gadis yang tidak waras." jawab Riko ketika seseorang di seberang telepon bertanya alasan mengapa bisa sampai dirinya ketinggalan pesawat.
Bola mata Rahma nampak membulat sempurna saat mendengar obrolan Riko melalui sambungan telepon. Rahma yang awalnya duduk di kursi yang berseberangan dengan Riko kini berdiri dengan berkacak pinggang.
"Anda bilang apa barusan?." tanya Rahma dengan nada ketus. lagi pula siapa yang akan terima jika di Katai tidak waras.
Riko menanggapi ucapan Rahma dengan senyuman miring dan hal itu semakin membuat Rahma merasa kesal.
"Anda ini benar benar ya...."ucap Rahma. gadis itu nampak mengepalkan tangannya menahan geram. sehingga membuat security bandara tadi terpaksa kembali bersuara.
"Maaf Tuan...Nona...jika kalian masih terus bersikap seperti ini terpaksa kami akan menggiring Anda berdua ke kantor polisi karena sudah membuat keributan yang menggangu kenyamanan pengunjung bandara lainnya." ucap security Bandara hingga pria itu mendapat tatapan tajam dari Rahma dan juga Riko.
Rahma terpaksa kembali duduk di kursinya usai mendengar ancaman dari pria itu. sedangkan Riko yang sejak tadi tidak beranjak dari duduknya nampak kembali memikirkan cara agar ia bisa kembali ke Jakarta secepatnya.
Beberapa jam yang lalu keduanya terpaksa di giring ke pos security karena menyebabkan ketidak nyamanan bagi pengunjung bandara yang lain akibat perdebatan antara keduanya. hingga tanpa sadar pesawat yang akan mereka tumpangi telah lepas landas dan otomatis keduanya pun ketinggalan pesawat.
Setelah menunggu beberapa jam kemudian, baik Riko maupun Rahma telah mendapatkan tiket penerbangan yang baru.
Rahma nampak bernapas lega karena akhirnya ia bisa segera kembali ke Jakarta di mana kedua orang tuanya telah menantikan kedatangannya.
Baru saja beberapa menit bisa kembali bernapas lega kini Rahma kembali di buat seolah kekurangan pasokan oksigen saat menyadari seseorang yang kini duduk di bangku sebelahnya.
"Kamu???" ucap Rahma terkejut sedangkan Riko tetap menampilkan wajah tenang walau pada kenyataannya pria itu juga cukup terkejut dengan keberadaan Rahma.
"Sepertinya hari ini aku benar-benar sedang sial." gumam Riko namun masih terdengar oleh Rahma yang duduk di bangku sebelah kanan Riko.
"Sepertinya bukan hanya anda yang sedang sial tuan, saya juga merasa hari ini adalah hari tersial dalam hidup saya karena harus bertemu dengan orang seperti anda." jawab Rahma tak mau kalah.
Perdebatan keduanya membuat salah satu penumpang yang duduk di belakang kursi Riko dan Rahma tersenyum sambil menggeleng."Sepertinya tuan ini memang jodoh anda Nona." ucapan pria paru baya tersebut mendapat gelengan kompak dari keduanya.
__ADS_1
"Amit amit." ucap Rahma seolah tidak Sudi dengan ucapan pria paru baya tersebut sedangkan Riko sendiri tidak habis pikir dengan sikap wanita itu. bagaimana tidak, baru kali ada wanita yang menolak pesona ketampanannya.
"Jangan terlalu benci nona, karena perbedaan benci dan Cinta itu beda beda tipis." lanjut pria itu sambil tersenyum ke arah Rahma yang kini duduk membelakangi dirinya.
🌹🌹🌹
Siang ini sesuai dengan janji Hantara menuju sebuah restoran mewah untuk bertemu dengan calon rekan bisnisnya yaitu pimpinan perusahaan Satria Prayoga Group.
Tiba di restoran, Armada mengarahkan Hantara pada sebuah meja yang telah di tempati oleh dua orang pria yang hampir seumuran dengan keduanya.
"Selamat siang tuan...maaf sudah membuat anda menunggu." ucap Hantara setibanya di meja tersebut.
Kedua pria tersebut berdiri dari duduknya saat menyadari kedatangan Hantara dan juga asisten pribadinya.
"Tidak masalah tuan, lagi pula kami baru saja tiba beberapa menit yang lalu." jawab salah seorang di antaranya.
"Silahkan duduk tuan!!." Armada menarik sebuah kursi untuk di duduki oleh Hantara sebelum ia pun kembali menarik kursi lainnya untuk di duduki olehnya.
"Dimas Satria Prayoga, senang bisa berkenalan dengan pengusaha sukses seperti anda tuan Hantara." jawab Dimas saat keduanya berjabat tangan. setelah melepas tautan tangan di antara keduanya baik Hantara maupun Dimas memperkenalkan asisten pribadi masing masing, sebelum akhirnya kedua belah pihak melanjutkan obrolan mengenai bisnis.
Beberapa jam kemudian meeting pun berakhir dengan hasil kedua belak pihak menanda tangani kontrak kerja. setelahnya kedua belah pihak kembali ke perusahaan masing masing.
"Cari tahu latar belakang perusahaan Satria Prayoga Group serta pimpinannya!!." Di perjalanan menuju perusahaan miliknya Hantara nampak memerintahkan Armada.
"Baik tuan." jawab Armada patuh.
Di waktu yang hampir bersamaan, Dimas yang juga tengah berada di perjalanan kembali ke perusahaan miliknya nampak mengukir sebuah senyuman di wajah tampannya. sebuah senyum yang sulit di artikan.
Sedangkan asisten pribadinya yang menyaksikan itu hanya diam tanpa berniat bertanya sedikit pun. mungkin karena kurang fokus atau bagaimana, asisten pribadi Dimas yang tengah mengemudi nampak menginjak pedal rem secara mendadak.
"Ada apa kenapa kau menginjak rem secara mendadak??." tanya Dimas kesal. karena kejadian itu membuat lamunannya tentang seseorang terpaksa harus buyar begitu saja.
__ADS_1
"Sepertinya saya hampir saja menabrak seseorang tuan." jawab Asisten Dimas bernama Arka, sebelum pria itu turun dengan tergesa gesa untuk memastikan dugaannya. dan benar saja kini di depan mobil yang di kemudikan Arka nampak seorang wanita dengan posisi berjongkok seperti seseorang yang hendak melindungi diri saat sebuah mobil hendak menabrak tubuhnya.
Dimas pun ikut turun dari mobilnya.
"Anda tidak apa apa Nona???" tanya Arka namun wanita itu hanya diam sama sekali tidak merespon ucapan Arka. wanita itu terlihat seperti seseorang yang tengah mengalami trauma.
Dimas yang tidak bisa melihat wajah wanita itu hanya bisa memerintahkan Arka untuk menggendong tubuh wanita itu dan segera membawanya ke rumah sakit. tiba tiba suara wanita itu membuat Dimas menghentikan langkahnya yang hendak kembali masuk ke mobil.
"Ayah...ibu....Gita mohon jangan tinggalkan Gita sendirian, Gita takut ayah...ibu....Gita takut harus hidup seorang diri." ternyata wanita yang hampir saja tertabrak oleh mobil yang di kendarai Arka tak lain adalah Gita. tangisan Gita terdengar begitu menyayat hati.
Deg.
"Gita" ucap Dimas saat menyadari siapa wanita itu.
setelah memastikan jika wanita itu benar Gita, Dimas kemudian menghentikan Arka yang hendak menggendongnya.
"Biar aku saja." ucap Dimas dan diangguki oleh Arka sebelum pria itu membukakan pintu untuk bosnya yang tengah menggendong tubuh Gita sebelum ia kembali duduk di kursi kemudi.
"Kenapa dia begitu histeris??apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya??." dalam hati Dimas saat di perjalanan menuju rumah sakit.
🌹🌹🌹
"Terima kasih tuan Dimas karena anda sudah menolong istri saya." ucap Hantara dan di tanggapi dengan senyuman oleh Dimas."Tidak perlu berterima kasih tuan Hantara." jawab Dimas.
Setelah mengucap terima kasih pada Dimas Hantara kembali ke ruang perawatan Gita, sedangkan Dimas segera pamit kembali ke perusahaan miliknya.
Kurang lebih satu jam yang lalu, Hantara yang baru tiba di perusahaan miliknya tiba tiba menerima panggilan dari nomor yang tak di kenal. Hantara nampak begitu terkejut saat penelpon memberi kabar jika saat ini istrinya tengah di rawat di rumah sakit. Mendengar kabar tersebut Hantara kembali meraih kunci mobilnya yang baru saja di letakkan di atas meja kerjanya, dengan rasa khawatir penuh Hantara berkendara seorang diri menuju rumah sakit tanpa mengajak serta Armada bersamanya.
Jangan lupa mampir ke karya recehku yang lain ya guys,,,,,🙏🙏🙏
I LOVE YOU ALL 😘😘😘😘😘
__ADS_1