Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Tes DNA.


__ADS_3

Seminggu berlalu, Asyifa pun telah sadar sejak tiga hari yang lalu. tak hentinya Gita bersyukur karena akhirnya putri kecilnya bisa kembali seperti semula, bahkan Asyifa kini sudah bisa kembali ceria seperti biasanya.


Meski kondisinya di nyatakan dokter semakin membaik namun Asyifa masih belum di izinkan untuk kembali ke rumah. dokter masih akan melakukan observasi hingga beberapa hari ke depan untuk memastikan kondisi kesehatannya.


Selama Asyifa di rawat di rumah sakit hampir setiap hari pula kedua orang tua Hantara menjenguk gadis kecil itu, bahkan beberapa malam baik nyonya Merina maupun tuan Adipura Sanjaya memilih menginap di rumah sakit untuk menjaga Asyifa.


Sama seperti pagi ini, Nyonya Merina tiba di rumah sakit bersama dengan sang suami dengan wajah berbinar. berbeda dengan sang istri, tuan Adipura Sanjaya seperti tengah memikirkan sesuatu hal itu tampak dari sikapnya yang lebih banyak diam.


sepertinya isi dari surat yang beberapa hari lalu di bacanya masih memenuhi pikirannya.


"Sayang, apa pagi ini kamu tidak bekerja??." tanya Nyonya Merina pada putranya yang masih belum siap dengan pakaian kerjanya. padahal biasanya meski menginap di rumah sakit Hantara akan tetap berangkat kerja.


"Tidak mah." jawab Hantara kemudian memandang ke arah ayahnya, karena pria itulah yang menjadi alasan dirinya tak berangkat ke perusahaan pagi ini.


Semalam ayahnya menghubungi Hantara dan mengatakan ingin bicara sesuatu padanya, itulah mengapa Hantara memilih tak berangkat kerja hari ini.


Sedangkan Gita kini tengah sibuk menyuapi Asyifa. hanya sesekali wanita itu menimpali obrolan antara suami dan kedua mertuanya.


Beberapa saat kemudian, Hantara yang mengerti dengan arti tatapan ayahnya itu pun segera pamit pada Gita. "Sayang, mas ingin membahas pekerjaan bersama papa, tidak masalah kan mas tinggal sebentar." Hantara mengusap lembut puncak kepala istrinya sebelum pergi.


"Iya mas." jawab Gita sembari mengukir senyum di wajahnya.


Baik Hantara maupun tuan Adipura Sanjaya segera berlalu meninggalkan ruang VVIP di mana Asyifa kini di rawat.


Sejujurnya Hantara sendiri belum tahu pasti apa yang akan di bicarakan ayahnya padanya.

__ADS_1


Tuan Adipura mengajak putranya menuju sebuah cafe yang letaknya di seberang jalan rumah sakit.


Baru Saja memasuki pintu masuk cafe Hantara melihat keberadaan Riko menempati salah satu meja di cafe itu. Hantara yang mengira hal itu hanyalah sebuah kebetulan kembali melangkah mengikuti langkah ayahnya menuju meja yang di tempati Riko.


"Pagi om." Sapa Riko yang kini berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Hantara dan juga ayahnya.


"Pagi nak Riko." jawab Tuan Adipura sebelum kemudian menarik sebuah kursi lalu menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi dan di ikuti oleh Hantara setelahnya.


"Hanya papa saja yang kamu sapa, apa kamu pikir saya ini makhluk tak kasat mata." protes Hantara memasang wajah sebal pada sahabatnya itu.


"Sori kawan." kata Riko. "Pagi Hantara." ucap Riko seolah ingin mengulang momen yang tadi terlupakan. namun dari nadanya seperti meledek.


"Ck." Hantara hanya menanggapi ucapan Riko dengan decakan kesal.


"Sudah...sudah....kalian seperti anak kecil saja!!!." tuan Adipura nampak menengahi perdebatan tak berfaedah putranya dengan Riko.


"Ada apa sebenarnya pa??." Hantara yang sudah sejak tadi gatal ingin bertanya itu pun akhirnya buka suara.


Hantara nampak memandang ayahnya dan Riko bergantian seolah menuntut jawaban dari kedua pria itu.


Riko kemudian meletakkan amplop coklat yang tadi di bawanya tepat di hadapan Hantara.


"Apa ini??." tanya Hantara dengan wajah bingung.


"Sebaiknya kamu buka saja amplop itu, jawaban pertanyaan kamu ada di dalam!!!." seru ayahnya dan Riko pun turut mengangguk saat pandangan Hantara beralih padanya.

__ADS_1


Perlahan Hantara membuka amplop coklat tersebut kemudian meraih secarik kertas di dalam lalu mulai membacanya.


Terkejut bukan main, itulah yang kini di rasakan Hantara saat ini ketika membaca isi kertas putih berlogo rumah sakit.


Jantung Hantara seakan berdebar lebih kencang usai membaca semua isi kertas putih tersebut yang menyatakan bahwa hasil DNA dari seorang pria bernama Hantara putra Adipura Sanjaya dengan seorang anak perempuan bernama Asyifa Sri Ramadani 99,99 persen memiliki kemiripan. dan itu artinya keduanya memiliki ikatan darah.


Hantara nampak mengusap wajahnya sebelum kembali memandang ayahnya dan Riko bergantian.


"Iya...Asyifa adalah putri keduamu bersama Reva, nak." Ucap tuan Adipura.


"Ternyata firasat seorang ibu itu tidak pernah salah." lanjut ucap tuan Adipura mengingat akan kecurigaan nyonya Merina tentang sosok Asyifa. namun saat itu Nyonya Merina mengira jika Putranya telah berhubungan di luar batas dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak. karena saat itu Nyonya Merina sama sekali tidak mengetahui kabar kehamilan Mantan menantunya dulu ketika berpisah dari putranya.


"Apalagi saat papa tahu jika golongan darah Reva sama dengan golongan darah Asyifa, hal itu semakin menguatkan dugaan ayah tentang sosok Asyifa." tuan Adipura menceritakan semua kecurigaannya selama ini hingga memutuskan untuk melakukan tes DNA antara putranya dan Asyifa. dan pada akhirnya hasil tes DNA pun membuktikan jika Gadis itu adalah anak kandung putranya.


"Dari mana papa tahu kabar tentang Reva pernah melahirkan anak Hantara setelah berpisah??." tanya Hantara masih dengan perasaan tak menentu.


"Maaf kawan....aku tidak bermaksud mengingkari janjiku padamu, namun aku rasa ini adalah yang terbaik. pada akhirnya putri yang sedang kau cari keberadaannya itu ternyata berada di tengah tengah keluarga kecilmu." bukan Tuan Adipura yang menjawab melainkan sahabatnya, Riko. karena pria itu lah yang telah mengatakan pada tuan Adipura tentang rahasia kehamilan Reva.


"Ternyata selama ini aku berada begitu dekat dengan putriku, betapa bodohnya aku sampai tidak menyadari itu." batin Hantara yang kembali menatap intens hasil tes DNA yang berada di genggamannya. "Pantas saja selama ini rasa sayangku pada Asyifa sama persis dengan rasa sayangku pada Akila, ternyata Asyifa juga putri kandungku." lanjut batin Hantara. nampak jelas di matanya jika pria itu sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah.


Sedangkan tuan Adipura yang bisa merasakan apa yang kini di rasakan putranya segera memeluk putranya itu.dan kini tangis Hantara pun pecah saat bersandar di bahu ayahnya. "Terima kasih pa." ucapnya di sela tangis haru.


"Tidak perlu berterima kasih sudah menjadi kewajiban papa untuk melakukan yang terbaik untuk anak anak papa." ucap Tuan Adipura pada putranya.


Sekuat dan sehebat apapun Hantara di mata orang lain namun di mata tuan Adipura Sanjaya, Hantara tetaplah putranya yang butuh sandaran jika sedang rapuh dan itu adalah bahu seorang ayah.

__ADS_1


Sementara Riko yang duduk di antara keduanya nampak terharu dengan kasih sayang tuan Adipura Sanjaya pada putranya. hal itu kembali mengingatkan Riko akan sosok ayahnya, seorang pria hebat yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2