Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Mengetahui kebenaran tentang Asyifa.


__ADS_3

Selama satu jam meeting bersama dengan Dimas, Renata menunjukkan sikap profesionalitas kerja. wanita itu bersikap seolah belum pernah mengenal Dimas sebelumnya, sontak hal itu membuat Dimas mengetatkan rahangnya menahan kesal.


"Sepertinya Renata sengaja bersikap seperti ini padaku." batin Dimas ketika itu.


"Tunggu!!" Dimas mencekal lengan Renata saat di ruang tersebut hanya mereka berdua yang tersisa setelah meeting usai.


"Apa masih ada yang ingin anda tanyakan tuan Dimas Satria Prayoga, jika masih ada silahkan tanyakan pada meeting berikutnya karena meeting hari ini telah usai." ucap Renata dengan bahasa Formal, sehingga membuat wajah Dimas nampak memerah menahan kesal di hatinya.


Melihat Dimas yang kini terus melangkah mendekatinya spontan Renata memundurkan langkahnya sampai tubuhnya kini mentok pada meja.


"Apa yang ingin kau lakukan?? jika aku berani macam-macam aku akan teriak." ucap Renata dengan tatapan curiga saat Dimas semakin mendekatkan wajahnya.


Dimas nampak menyunggingkan senyum saat mendengar Renata yang tak lagi berbicara dengan bahasa Formal padanya.


"Kenapa, kamu takut aku akan mencium mu??." dengan tatapan dalam Dimas berucap, sementara Renata memilih diam tidak menanggapi ucapan Dimas.


Untuk Beberapa saat mereka saling menatap dengan tatapan dalam, sebelum Renata memutus pandangan dengan memalingkan wajahnya, sebelum kemudian mendorong tubuh Dimas agar menjauh darinya. setelah mendapat kesempatan Renata pun segera pergi meninggalkan meeting room, di mana Dimas masih berdiri sembari menatap kepergiannya.


"Aku pastikan, jika urusanku selesai aku akan membuatmu kembali kepadaku,Renata." gumam Dimas setelah kepergian Renata.


"Ada apa Nona??." tanya sekretaris ayahnya saat melihat Renata berjalan dengan terburu buru.


"Ti_tidak ada apa apa." dusta Renata dengan nada terbata, kemudian kembali melangkah menuju ruang kerjanya.


Setibanya di ruang kerjanya Renata langsung mengunci pintunya.


"Kamu harus kuat Renata kamu tidak boleh lemah!!! ingat Dimas tidak mencintaimu dia mencintai wanita lain!!." Dengan mata terpejam Renata bergumam, seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri. tubuh Renata yang kini berdiri bersandar pada daun pintu perlahan merosot ke lantai.


Dengan posisi memeluk lututnya Renata kembali menitihkan air mata."Sampai kapan aku akan terus menyembunyikan hal sebesar ini dari keluargaku, mama dan papa pasti sangat kecewa padaku.maafkan Renata mah...pah...." tangis Renata terdengar begitu pilu.

__ADS_1


****


Di kediaman Hantara.


Gita yang baru saja kembali dari mansion mertuanya dan hendak menuju kamarnya berada, tiba tiba bi Ela menyerukan namanya.


"Nyonya..." Gita menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke sumber suara.


"Ada apa bi??.tanya Gita.


"Ini ada paket untuk nyonya." ujar Bi Ela seraya menyerahkan bingkisan pada Gita.


"Dari siapa bi?? " Hantara yang baru saja menyusul langkah istrinya yang kini bertanya.


"Bibi juga nggak tahu Tuan, tadi di kasi sama penjaga di depan katanya paketnya di antar sama kurir." jawab Bi Ela seadanya.


"Baiklah kalau begitu bi." jawab Gita sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga.


Namun aktivitas Hantara terhenti saat melihat istrinya diam terpaku menatap selembar kertas di tangannya.


Lembaran kertas tersebut jatuh begitu saja ke lantai bersamaan dengan air mata Gita yang kini luruh membasahi pipinya.


"Ada apa sayang??." tanya Hantara dengan wajah cemas sembari meraih kertas yang kini tergeletak di lantai.


Kedua bola mata Hantara sontak membulat sempurna saat membaca tulisan di atas kertas putih tersebut.


"Bisa kamu jelaskan semua ini padaku,mas!!." pinta Gita yang kini berurai air mata. wajah wanita itu nampak begitu syok.


Hantara menghela napas dalam sebelum menjawab."Sepertinya sudah saatnya kamu tahu kebenaran tentang Asyifa, Sayang." ucap Hantara yang kini tidak punya pilihan lain, selain menceritakan semuanya pada istrinya.

__ADS_1


"Benar,,,,Asyifa adalah anak kandung mas dan juga Reva." mendengar pengakuan dari suaminya, Gita pun tersenyum kecut.


"Sejak kapan kamu mengetahui kebenaran ini mas?? kenapa kamu menyembunyikannya dariku??." cecar Gita. tersirat kekecewaan dari nada ucapan wanita itu.


"Sayang, mas melakukan semua ini karena ada alasannya, mas sengaja mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaran ini padamu. mas melakukannya karena mas tidak ingin kamu banyak pikiran dan akan berpengaruh pada anak kita." jawab Hantara, mengatakan alasan Mengapa selama ini ia menyembunyikan kebenaran dari istrinya.


"Jujur berat bagiku untuk bisa menerima kenyataan ini mas, ini hanya mimpi kan mas??." Gita menampar pipinya berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi dan berharap ia segera bangun dari mimpi itu.


Namun saat merasakan sakit di pipinya tangis Gita semakin terisak, bukan karena tamparan itu sendiri melainkan karena semua itu bukanlah mimpi tapi kenyataan pahit. di mana ia harus merasakan takut akan kehilangan Asyifa, gadis kecil yang sejak kecil di asuh olehnya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan??." Hantara mencegah tangan Gita dan membawanya ke dalam pelukannya, saat wanita itu ingin kembali menampar pipinya.


Gita merasa kakinya terasa lemas seperti tidak sanggup menopang beban tubuhnya, hingga tubuh wanita itu luruh begitu saja. kalau saja Hantara tidak sigap menahannya mungkin saat ini tubuh istrinya sudah tergeletak di lantai.


"Sayang, percayalah...!!! apapun yang akan terjadi mas tidak akan membiarkan siapapun merebut Asyifa darimu meski Reva sekalipun." Ucap Hantara yang kini turut memposisikan diri mendekap erat tubuh istrinya. pria itu seolah tahu akan ketakutan istrinya selama ini.


"Apa setelah mengetahui semua ini, kamu berniat meninggalkan aku dan ingin kembali bersama dengan mantan istri kamu mas?? apa kalian juga akan memisahkan Asyifa dariku???" dengan menahan rasa sesak di dadanya Gita bertanya pada suaminya.


"Kamu bicara apa sayang, apapun yang akan terjadi hari ini besok ataupun lusa tidak akan merubah perasaanku padamu, Mentari Sagita, aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu." jawab Hantara tulus dari lubuk hati terdalam. pria itu sangat tidak tega melihat istrinya yang terus berurai air mata.


"Bahkan jika harus memilih hidup tanpamu atau mati, mas lebih memilih mati daripada hidup tanpa kamu, sayang." kembali Hantara mengungkapkan isi hatinya agar istrinya tersebut tidak berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan mereka ke depannya.


"Maafkan mas karena sudah membuatmu kecewa dengan menyembunyikan kebenaran ini darimu, tapi percayalah mas melakukannya karena tidak ingin kamu banyak pikiran dan akan berpengaruh terhadap kesehatanmu dan juga calon anak kita." Akhirnya pria tampan bertubuh atletis tersebut tak sadar kembali menitihkan air mata karena tidak tega melihat sang istri yang terus terisak, Isak tangis yang terdengar begitu menyayat hatinya.


"Aku memang sangat kecewa padamu mas karena sudah menyembunyikan hal sebesar ini dariku, tetapi rasa kecewaku bahkan tidak mampu mengalahkan besarnya cintaku padamu, mas." jawab Gita di sela tangis yang tercegat.


Mendengar itu membuat Hantara semakin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih Tuhan... karena engkau telah mengirimkan bidadari tak bersayap untukku." batin Hantara merasa menjadi pria beruntung bisa memiliki istri seperti Gita.

__ADS_1


Melihat kelapangan hati istrinya membuat Hantara sangat menyesal karena secara tidak langsung telah membuat wanita yang kini telah mengandung anaknya tersebut bersedih, dengan menyembunyikan kebenaran tentang Asyifa.


__ADS_2