
Setelah dua puluh empat jam di rawat intensif di ruang ICU kondisi Asyifa di nyatakan dokter telah melewati masa kritis meski belum juga sadarkan diri akibat obat bius usai operasi.
Melihat kondisi istrinya yang nampak begitu lelah Hantara memilih mengajak Gita pulang ke rumah untuk istirahat sejenak, lagi pula ada nyonya Merina yang akan menjaga Asyifa di rumah sakit. namun wanita itu menolak untuk meninggalkan putrinya di saat saat seperti ini.
Dengan berbagai cara akhirnya Hantara berhasil membujuk Gita kembali ke rumah untuk istirahat sebentar, namun wanita itu meminta agar Hantara tetap berada di rumah sakit untuk menjaga Asyifa. Hantara yang akhirnya setuju dengan permintaan istrinya itu pun segera menghubungi Armada untuk mengantarkan istrinya ke rumah.
Menatap wajah lemah putrinya yang kini di lengkapi sebuah monitor untuk mengontrol alat medis yang terpasang pada tubuh mungil Asyifa membuat Gita sangat tidak tega melihatnya. "Kasihan sekali kamu nak.... maafkan mama karena sudah lalai dalam menjaga kamu." Hati Gita serasa tersayat melihat kondisi putrinya terbaring tak sadarkan diri.
"Sayang mama pulang dulu sebentar, mama janji akan segera kembali lagi ke sini." lanjutnya seolah tengah mengajak sang anak berkomunikasi, meski dari balik jendela kaca karena dokter belum mengizinkan keluarga pasien untuk masuk.
Sedangkan Hantara yang sejak tadi mendampinginya nampak memberi usapan lembut di kepalanya." Jangan cemas ada mas di sini, pulanglah!!! Armada yang akan mengantarmu." ucap Hantara dan Gita pun dengan berat hati mengangguk sebelum berlalu bersama asisten pribadi suaminya.
Sejujurnya Hantara pun berat hati meninggalkan Asyifa walaupun ada mamanya yang tengah menjaga gadis kecil itu, untungnya Gita pun berpikiran sama dengannya yang menginginkan dia tetap berada di rumah sakit.
Hantara sendiri masih tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, perasaan cemas pria itu bahkan sama persis ketika Akila di rawat di rumah sakit setahun yang lalu karena tipes.
Jika dirinya begitu cemas akan kondisi Akila saat itu sudah pasti di karenakan Akila adalah anak kandungnya, lalu bagaimana dengan Asyifa saat ini yang notabenenya hanyalah anak angkat dari istrinya, Gita????
Baru saja menjatuhkan bokongnya di sebuah bangku yang berada di depan ruang ICU, tiba tiba ponsel Hantara berdering.
Pria itu pun segera meraih ponselnya yang berada di saku jasnya lalu menggeser ke atas icon hijau pada ponselnya.
Jantung Hantara seakan berhenti berdetak saat panggilannya baru saja tersambung. "Apa??." Nampak jelas cemas di wajahnya sehingga membuat nyonya Merina yang duduk bangku yang sama dengannya nampak mengeryit. "Apa yang terjadi??." tanya Nyonya Merina tak kalah cemasnya saat melihat reaksi Putranya usai menerima panggilan.
"Sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakai istri Hantara, Mah." ucap Pria itu sebelum melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Astaga...ujian apa lagi ini ya tuhan." Nyonya Merina nampak bermonolog sembari menatap punggung putranya hingga tak lagi nampak olehnya.
Kurang dari lima menit kini Hantara telah berada di area parkiran rumah sakit, tanpa banyak bertanya Hantara memeluk erat tubuh istrinya.
"Aku baik baik saja mas." Gita seolah menjawab kecemasan di wajah suaminya.
Hantara yang nampaknya masih syok mendengar kabar dari Armada, masih terdiam lidahnya terasa keluh.
"Mas??." seru Gita saat melihat pria itu mengusap sudut matanya yang basah. "Kenapa kamu begitu mencemaskan aku,mas??" entah bodoh atau karena tidak mengetahui perasaan sang suami padanya, sehingga wanita itu bertanya demikian pada sang suami.
"Kenapa kamu bertanya hal bodoh seperti itu sayang, tentu saja karena mas takut kehilangan wanita yang sangat mas cintai." mendengar jawaban suaminya membuat Gita bahkan sampai melupakan sejenak kejadian yang hampir melenyapkan nyawanya barusan.
Gita semakin memberi jarak di antara keduanya agar bisa menatap manik mata suaminya. "Kamu bilang apa barusan mas??." tanya Gita memastikan, padahal pada kenyataannya dia mendengar dengan jelas ucapan suaminya barusan.
Hantara yang baru saja tersadar akan pengakuannya tadi memilih diam. "Mas... jawab!!!." Gita nampak menggoyangkan lengan suaminya menuntut jawaban dan pada akhirnya pria itu pun buka suara."Seperti yang kamu dengar." jawab Hantara, seorang pria yang terkenal kaku dan tak bisa berkata romantis.
"Maafkan mas, sayang....jika terlambat mengakui perasaan mas padamu." Hantara mengusap lembut wajah istrinya dengan menggunakan ibu jarinya sembari menatap dalam manik mata cantik itu kemudian berucap. "I love you my wife....I love you so much, Mentari Sagita." Gita menitihkan air mata haru saat mendengar pengakuan dari Hantara.
"I Love you to....." jawabnya sebelum menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan suaminya. sementara Armada yang berada di tengah tengah mereka kini bisa bernapas lega, karena sang atasan dinginnya telah mengungkapkan isi hatinya pada sang istri.
Setelahnya Hantara memutuskan untuk mengantarkan sang istri kembali ke rumah, setelah lebih dulu memerintahkan Armada untuk memberi pengawalan khusus di depan ruang ICU di mana Asyifa tengah terbaring belum sadarkan diri.
Hantara kembali ke rumah agar istrinya itu bisa membersihkan diri sebelum kembali lagi ke sakit, mengingat sang istri menolak untuk beristirahat di rumah sementara anaknya sedang di rawat intensif di rumah sakit.
Saat tengah menunggu istrinya yang sedang mandi, Hantara memilih menghubungi Armada untuk bertanya lebih detail tentang kejadian yang menimpa istrinya tadi.
__ADS_1
Seperti dugaan Hantara, Asisten pribadinya tersebut sangat bisa di andalkan sebelum mendapat perintah dari Hantara sekalipun, Armada telah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan seseorang yang dicurigainya Lewat rekaman CCTV rumah sakit.
Dan benar saja pria itu mendapat kabar dari Armada jika pria pengendara mobil tersebut telah di amankan di kantor polisi.
Mendengar semua penjelasan dari Armada, Hantara berniat segera ke kantor polisi bersama dengan Armada setelah mengantar istrinya kembali ke rumah sakit.
🌹🌹🌹
Di waktu yang sama seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun nampak tengah menjalani pemeriksaan di kantor polisi.
Meski pihak kepolisian telah mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang dalang di balik semua itu, pria itu seperti kekeh menyembunyikannya.
"Jika anda masih kekeh menyembunyikan siapa sebenarnya yang memerintahkan anda untuk melakukan semua itu, bisa di pastikan anda akan mendapatkan hukuman paling berat bahkan anda bisa di jatuhkan hukuman seumur hidup karena sudah melindungi dalang dari kejahatan besar." ancaman dari seorang anggota polisi yang kini bertugas sebagai penyidik dalam kasus tersebut terdengar tidak main main.
Meski telah mendengar ancaman yang bisa membuatnya mendekam selamanya di balik jeruji, tak berhasil membuat pria itu mengatakan yang sebelumnya. dia tetap kekeh menjadikan dirinya sebagai dalang dari semuanya, tanpa ada perintah dari pihak manapun.
Pria itu bahkan pengendara yang sama yang telah melakukan tabrak lari yang membuat Asyifa kini terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
Bukan Tanpa alasan pria itu memilih menjadikan dirinya sebagai tameng atas kejadian itu, ancaman seseorang yang hingga detik ini terus terngiang-ngiang di telinganya membuatnya pasrah dan tak ingin mengatakan yang sebenarnya. "Jika kau sampai menyebutkan namaku pada pihak kepolisian, Maka aku pastikan kau tidak akan menemukan istri dan anakmu di belahan dunia manapun." ancaman dari seorang pria yang baru pertama kali ditemuinya di salah satu club malam tersebut kini memenuhi ingatan pria itu.
Dia lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada harus mengikutsertakan anak dan istrinya ke dalam resikonya menjadi seorang pembunuh bayaran klas amatir.
Seorang pria yang terpaksa menerima tawaran dari seorang pria yang baru di kenalnya, karena terdesak biaya pengobatan anak bungsunya yang terkena penyakit leukimia sejak setahun terakhir.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, koment, and subscribe ya sayang sayangku,,,,biar aku makin semangat lagi nulisnya 🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
I LOVE YOU ALL......