
Sore harinya, Gita yang baru saja berjalan meninggalkan pintu masuk rumah sakit melihat sebuah mobil yang tak asing terparkir di depan gerbang rumah sakit. dia pun melangkah menuju mobil itu, baru beberapa langkah pemilik mobil nampak turun dari mobil.
"Tuan Hantara meminta saya untuk menjemput anda Nona." Ucap Armada saat Gita sudah berada dekat dengan mobilnya. dan Gita pun hanya mengangguk sebagai jawaban sebelum wanita itu masuk ke mobil setelah Armada membukakan pintu mobil untuknya.
Armada mengitari mobil kemudian ikut masuk ke mobil, pria itu duduk di balik kemudi.
Setelah menghidupkan mesin mobilnya Armada pun mulai menginjak pedal gas hingga mobilnya mulai merayap memecah padatnya jalanan ibukota.
Beberapa saat kemudian Gita baru menyadari jika jalanan yang di lintasi Armada berbeda dengan jalan menuju rumah.
"Kita mau kemana???" tanya Gita yang kini yakin jika jalanan yang di lewati mobil Armada berbeda dengan jalan menuju rumah.
"Tuan Armada meminta saya untuk membawa anda ke perusahaan Nona." jawab Armada seadanya, begitulah sikap Armada meskipun dengan istri tuannya tetap saja pria itu pelit untuk bicara.
Hantara sengaja meminta Armada untuk menjemput istrinya dan membawanya ke perusahaan. pria itu berpikir dengan bertemu dengan sang istri bisa mengurangi beban pikirannya saat ini.
Gita nampak menghela napas dalam saat menyaksikan wajah datar Armada. "Bagaimana mungkin Anis bisa tertarik dengan pria seperti dia." batin Gita seraya memandang Armada melalui pantulan spion, kala teringat akan pengakuan Anis padanya siang tadi.
"Aku pikir mas Hantara adalah pria terdingin di muka bumi ini, ternyata masih ada lagi pria yang lebih lagi dari mas Hantara." lanjut batin Gita, tidak habis pikir ada tipe orang seperti Armada menetap di jagat raya ini.
Beberapa saat kemudian.
"Pak Armada." Armada sejenak melirik ke jok belakang melalui pantulan spion, ketika istri dari tuannya itu menyerukan namanya.
"Iya Nona, apa ada yang bisa saya bantu??." tanyanya, dengan cepat Gita menggeleng.
"Ti_dak ada, saya hanya ingin bertanya sesuatu pada anda, apa boleh??." mendengar ucapan Gita yang terdengar sedikit terbata, Armada kembali melirik ke arah spion mobil."Silahkan Nona!!." Meski wajahnya nampak datar namun Armada tetap hormat dari nadanya berucap.
"Apakah anda sudah memiliki seorang kekasih??." Meski ragu Armada mau menjawabnya namun Gita tetap melontarkan pertanyaan itu.
"Maaf Nona... saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda karena itu di luar pekerjaan saya." jawab Armada dengan sedikit menundukkan pandangannya tanda permintaan maafnya.
__ADS_1
Kembali Gita menghela napas dalam kemudian menghembusnya bebas di udara." Sudah kuduga kamu pasti tidak akan menjawab pertanyaan saya." kata Gita.
"Sekali lagi saya minta maaf Nona" seolah permintaan maafnya tak cukup hanya dengan sekali, Armada pun kembali melontarkan permintaan maaf pada Gita.
"Sudahlah tidak perlu minta maaf.... lagi pula itu urusan pribadi anda dan anda berhak untuk tidak menjawabnya." meski sebenarnya ucapannya tidak sesuai dengan keinginan hatinya, mau tidak mau Gita harus tetap menghargai keputusan Armada.
Bukannya ingin ikut campur, Gita hanya tidak mau pada akhirnya Anis akan patah hati jika benar Armada telah memiliki seorang kekasih. Untuk mengantisipasi hal itulah Gita memberanikan diri untuk bertanya langsung pada pria itu, Namun pada kenyataannya pria dingin itu tidak berniat menjawab pertanyaan darinya.
Setelah Armada menolak menjawab pertanyaannya tadi, Gita memilih untuk tidak lagi ikut campur seperti nasehat suaminya malam itu.
Berbeda dengan Gita, Armada justru tidak mau ambil pusing kenapa dan apa alasannya sampai istri dari tuan sekaligus sahabatnya itu bertanya demikian padanya.
Tanpa terasa mobil Armada telah memasuki area perusahaan. setelah turun dari mobil Armada segera membukakan pintu mobil untuk istri tuannya itu, sebelum kemudian memberikan kunci mobil pada security untuk memarkirkan mobilnya.
"Mari Nona!!." Tanpa mengurangi rasa hormat Armada meminta Gita mengikuti langkahnya masuk ke gedung dengan dua puluh lantai tersebut.
Gita yang mengikuti langkah Armada, nampak tersenyum ramah ketika para pegawai suaminya menatap ke arahnya. Gita bisa menebak kedatangannya pasti akan menjadi topik pembicaraan para pegawai karena selain sikap Armada yang begitu hormat padanya, Kini Armada dan Gita naik ke lantai tempat ruang kerja suaminya berada menggunakan lift khusus petinggi perusahaan.
"Maaf Nona... untuk itu silahkan anda tanyakan sendiri pada tuan Hantara karena saya hanya di tugaskan untuk menjemput anda." jawab Armada seadanya.
"Baiklah..." Gita pasrah, memilih diam tak lagi bertanya karena sudah pasti Jawaban yang keluar dari mulut Armada tidak akan sesuai dengan harapannya.
Ting.
Pintu lift pun terbuka ketika mereka berada di lantai dua puluh. Gita masih setia melangkah di belakang Armada menuju sebuah ruangan.
"Selamat sore tuan Armada." sapa seorang wanita cantik yang berpenampilan layaknya sekretaris pada umumnya yang kini spontan berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Keduanya. sedangkan Armada hanya menanggapi sapaan wanita itu dengan sebuah anggukan.
Gita nampak berpikir sejenak saat melihat wajah wanita itu, seolah mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Bukannya wanita itu ulat keket yang pernah datang ke rumah sakit tempo hari??." batin Gita setelah berhasil mengingat sosok wanita itu.
__ADS_1
"Silahkan masuk Nona... tuan Hantara sudah menunggu anda di dalam." ucap Armada saat mereka berada tepat didepan pintu ruangan kerja Hantara. ucapan Armada tersebut sekaligus mengejutkannya Gita dari lamunannya tentang sosok Sela.
"Baik terima kasih." jawab Gita sebelum masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
Tidak berbeda jauh dengan Gita, Sela pun nampak seperti sedang berpikir akan sosok Gita."Sepertinya aku pernah ketemu deh, tapi dimana ya??." Gumam Sela setelah Gita menghilang di balik benda persegi panjang tersebut.
Hantara yang menyadari kedatangan istrinya nampak mengembangkan senyumnya, kemudian beranjak dari kursi kebesarannya.
Gita meraih tangan kanan suaminya kemudian mencium punggung tangan milik suaminya, dan di balas Hantara dengan sebuah kecupan lembut di keningnya. entah sebuah keberuntungan tengah berada di tangan Gita atau bagaimana, saat adegan itu terjadi secara bersamaan Sela membuka begitu saja pintu ruang kerja Hantara tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Maaf tuan.." Sela nampak menciut saat Melihat wajah dingin Hantara saat memandang ke arahnya. "Bukankah sudah berulang kali saya katakan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk!!." ucapan monohok Hantara yang disertai tatapan dingin seakan tembus hingga ke jantung bagi yang mendengar dan melihatnya. namun sepertinya itu tidak berlaku bagi Sela, buktinya sudah berulang kali di ingatkan namun wanita itu masih saja melanggar.
Gita semakin yakin dengan dugaannya Tempo hari tentang Sela, ketika melihat raut wajah wanita itu seolah tak suka dengan kedatangannya di sana. apalagi dengan tidak tahu malunya Sela masih berdiri di ambang pintu.
Seketika muncul ide di benak Gita.
"Mas aku kangen sama kamu." ucap Gita dengan suara manja lalu mencium pipi suaminya. hal itu sontak membuat Hantara menatapnya bingung.
Sedangkan wajah Sela kini berubah merah padam menahan amarah saat menyaksikan adegan di depan matanya.
"Kamu nggak kangen gitu sama aku??." masih dengan suara sengaja di buat semanja mungkin Gita kembali bertanya, apalagi saat ini Gita nampak bergelayut manja di lengan suaminya.
Bukannya langsung menjawab, Hantara justru semakin bingung dengan sikap istrinya yang menurutnya sangat aneh.
Setelah Gita menyentuh lembut wajahnya barulah Hantara tersadar dari lamunannya. "Tentu saja mas kangen sama kamu, kangen banget malah." jawab Hantara Jujur sembari mengembangkan senyum terindah di wajah tampannya.
Sela yang sudah tak tahan lagi melihat adegan mesra di hadapannya itu segera menutup kembali pintu ruang kerja atasannya itu. wanita itu nampak menggerutu tidak jelas saking kesalnya pada sosok Gita.
Gita yang melihat reaksi Sela otomatis tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya.
"Dasar ulet keket." batin Gita.
__ADS_1