
"Selamat siang tuan Dimas, selamat datang di perusahaan kami." Hantara yang baru saja tiba di meeting room perusahaannya menyapa Dimas.
"Selamat siang tuan Hantara." dengan seulas senyum terukir di bibirnya Dimas berdiri dari duduknya seraya mengulurkan tangan ke arah Hantara dan juga ketiga pria yang berada di belakang Hantara. yaitu Armada, Riko dan juga Damar.
"Maaf sudah membuat anda menunggu." ucap Hantara sebelum kembali mempersilahkan Dimas untuk duduk kembali.
"Tidak masalah tuan Hantara, bisa bertemu dengan pengusaha dengan segudang kesibukannya seperti anda saja sudah sebuah keberuntungan bagi saya." ucap Dimas sedangkan Hantara nampak tersenyum kecil menanggapi ucapan Dimas." Anda terlalu berlebihan tuan Dimas." sanggahnya.
Meski memiliki hubungan spesial dengan adik dari Hantara Putra Adipura Sanjaya, Dimas tetap bersikap profesional dengan tidak menyangkut pautkan antara pekerjaan dengan hubungan pribadinya.
Hantara pun memulai pembahasan tentang proyek yang akan mulai mereka kerjakan beberapa waktu mendatang. di mana perusahaan Putra Adipura Sanjaya membantu perusahaan milik Satria Prayoga dalam menemukan investor asing yang akan menanam saham di perusahaan mereka.
Sebagai pemilik perusahaan yang masuk dalam lima perusahaan terbesar di tanah air, tidak sulit bagi Hantara untuk membantu perusahaan Satria Prayoga. sehingga hanya dengan beberapa waktu saja kini sudah ada beberapa investor asing yang akan menanam saham mereka di perusahaan Satria Prayoga.
Tidak terasa sudah satu jam berlalu, pembahasan mereka pun usai dengan menghasilkan kesepakatan antara kedua belah pihak.
"Terima kasih atas bantuan anda tuan Hantara, saya bangga karena perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan sekelas perusahaan Putra Adipura Sanjaya." ucap Dimas seraya berdiri dari duduknya.
"Selain memiliki segudang bakat dalam bidang bisnis ternyata anda adalah orang yang sangat baik dan menyenangkan." lanjut Dimas, namun bukan Hantara yang menanggapi pujian Dimas melainkan Armada. " Tuan Hantara memang sangat baik pada orang yang juga baik padanya, tetapi begitu pun sebaliknya tuan Hantara juga bisa berbuat jahat pada seseorang orang yang berbuat jahat padanya." tanggapan Armada membuat Dimas terdiam, hanya menanggapi ucapan Armada dengan senyuman kecil.
__ADS_1
Setelahnya Dimas pun pamit kembali ke perusahaan miliknya sedangkan Hantara memilih makan siang bersama sahabatnya serta Armada di salah satu restoran yang tidak jauh dari perusahaan.
Setibanya di restoran yang pengunjungnya lebih di dominasi oleh kaum hawa pada siang itu, Hantara pun kini menjadi pusat perhatian, wajahnya yang tampan serta penuh wibawa meski usianya telah memasuki tiga puluh satu tahun.
Riko yang sejak tadi memperhatikan sekelilingnya nampak berdecak kesal saat menyadari salah satu Sahabatnya kembali menjadi pusat perhatian kaum hawa. kejadian yang sering kali terjadi saat mereka masih duduk di bangku kuliah dulu, pesona ketampanan yang di miliki Hantara seolah tak pernah pudar.
"Ck...sejak bujang sampai menduda Hingga kembali menikah lagi sepertinya pesonamu tak pernah pudar di mata kaum hawa." gerutu Riko dengan nada sengaja di buat buat kesal.
"Sekalipun seribu wanita cantik di luar sana tidak akan sanggup menyaingi kecantikan istriku." Hantara memuji sang istri seraya membayangkan begitu menggemaskan wanitanya tersebut sehingga tanpa sadar sebuah senyum terukir di wajah tampannya.
"Oh astaga... ternyata kawanku yang satu ini sudah benar-benar bucin pada istri tercintanya." timpal Damar dengan di akhiri dengan senyuman menggoda di akhir kalimatnya. sedangkan Riko nampak menahan tawanya agar tidak pecah mendengar kalimat Damar yang bermakna ledekan tersebut.
Tak lama kemudian dua orang pelayan restoran pun datang kemudian menyajikan makanan pesanan mereka di meja.
"Selamat menikmati hidangan di restoran kami tuan tuan." ucap salah satu dari pelayan restoran setelah menyajikan hidangan di meja. Damar yang mewakili yang lainnya hanya menanggapi ucapan ramah dari pelayan restoran dengan seulas senyum.
Kini baik Hantara, Riko, Damar dan juga Armada nampak menikmati makan siang yang telah terlambat satu jam tersebut dalam diam. sampai dengan suara seseorang yang tidak jauh dari meja mereka mengalihkan perhatian ke empat pria tampan tersebut.
"Maaf nyonya saya sungguh tidak sengaja." suara seorang wanita yang tengah meminta maaf pada seorang wanita paru baya dengan penampilan modisnya membuat pengunjung restoran yang lain spontan menoleh ke sumber suara tidak terkecuali Hantara, Riko, Damar dan juga Armada.
__ADS_1
"Enak saja kamu minta maaf, kamu pikir dengan minta maaf bisa menggantikan baju saya yang kotor akibat ulah kamu?? asal kamu tahu ya, bahkan gajih kamu sebulan pun tidak akan sanggup mengganti rugi baju saya yang mahal ini." Hardik wanita paru baya itu karena menyangka Rahma merupakan pelayan di restoran tersebut.
Rahma yang awalnya hormat seketika berubah akibat hardikan wanita itu."Mungkin saya tidak sekaya anda Nyonya tetapi jika hanya untuk menganti pakaian anda yang kotor saya masih mampu untuk melakukan nya Nyonya." nada bicara Rahma kini berubah, tak lagi sehormat sebelumnya pada wanita itu.
Merasa tidak terima dengan jawaban Rahma yang terkesan menantang di matanya, wanita itu pun mendorong tubuh Rahma ke belakang jika saja seseorang tidak tepat waktu menahan tubuh Rahma mungkin saat ini bisa di pastikan tubuh gadis itu sudah terjungkal ke belakang dengan kerasnya.
"Berapa harga yang harus saya gantikan untuk kerugian anda Nyonya??." tanya seorang pria seraya membantu Rahma untuk kembali pada posisi semula. sedangkan Rahma nampak tercengang untuk sejenak saat mendengar suara yang tidak asing di telinga.
"Siapa anda, kenapa anda ikut campur dengan urusan saya dengan gadis ceroboh ini??." dengan angkuhnya wanita paru baya tersebut bertanya dengan disertai tatapan angkuh.
"Anda benar, saya memang tidak ada urusannya dengan anda, tetapi sayangnya gadis yang anda Katai ceroboh itu adalah calon istri saya. maka secara otomatis segala sesuatu yang berhubungan dengannya akan menjadi urusan saya." bukan Hanya wanita itu yang di buat terkejut mendengar pengakuan Riko, tetapi kedua sahabatnya, Hantara dan Damar tidak kalah terkejutnya mendengar pengakuan dari pria itu.
Kini wajah wanita paru baya tersebut nampak Pias mengingat saat ini sosok pria yang mengaku calon suami dari gadis yang dia caci tersebut nampak seperti bukan orang sembarangan, terbukti dari cara berpakaian Riko yang kini mengenakan stelan jas branded.
"Sebutkan berapa nomor rekening anda dan berapa kerugian yang harus saya ganti untuk kesalahan calon istri saya??." lanjut ucap Riko sehingga membuat bola mata Damar membulat sempurna mendengarnya.
"Apa anak itu sedang kesambet setan??." gumam Damar dan masih terdengar oleh Hantara yang kini duduk di sebelah kursinya.
Dengan tangan bergetar wanita paru baya tersebut terpaksa memberikan nomor rekeningnya serta menghitung total berapa kerugiannya pada Riko. tak butuh waktu lama, Riko pun segera mentransfer sejumlah uang ke rekening wanita itu dan menyuruh wanita itu segera pergi meninggalkan restoran tersebut sebelum melaporkannya ke pihak yang berwajib dengan kasus pemerasan.
__ADS_1
Meski seorang pria, Riko bukan tidak tahu harga pakaian wanita meski merk ternama sekalipun, mengingat pria itu sering menemani sang mama berbelanja pakaian branded. untuk pakaian yang tadi di kenakan wanita Tersebut Riko bisa memastikan harganya tak lebih dari tiga puluh juta namun wanita itu membandrol dengan harga lima puluh juta untuk mengantikan kerugiannya.