
"Papa salut sama kamu Tara." tuan Adipura Sanjaya memuji tindakan yang baru saja di ambil putranya. pria itu yakin, Jika ingin mencari laki-laki untuk menikahi Renata hanyalah akal akalan Hantara saja agar Renata bersedia menikah dengan Dimas.
Hantara yang paham maksud ucapan ayahnya hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil." Meskipun Tara sangat marah dan kecewa pada pria breng_sek itu, tetapi dia tetaplah ayah dari calon keponakan Tara, pah. awalnya Tara memang berniat mencarikan calon suami untuk Renata, tetapi setelah Tara pikir pikir semua itu tidak akan meyelesaikan masalah justru akan menimbulkan masalah baru, karena laki laki yang bersedia menikah dengan wanita yang tengah mengandung anak dari pria lain tidak menutup kemungkinan memiliki maksud dan tujuan terselubung dibaliknya." jelas Hantara pada ayahnya.
Tuan Adipura Sanjaya yang mendengarnya nampak menepuk pundak putranya." Papa yakin kamu pasti akan mengambil keputusan bijak seperti ini, dan papa harap ke depannya kamu juga akan bersikap bijak dalam menyikapi permasalahan kamu dengan Nak Dimas!!." ujar tuan Hantara seolah menasehati putranya akan sesuatu hal.
"Maksud papa??." tanya Hantara dengan tatapan curiga, sedangkan tuan Adipura Sanjaya yang melihatnya nampak tersenyum kecil.
"Sebesar dan sehebat apapun kamu saat ini, di mata papa kamu tetaplah putra kecil papa yang tindakannya tidak pernah luput dari perhatian papa." mendengar penjelasan ayahnya membuat Hantara mengerti apa yang di maksud oleh ayahnya.
"Tetapi kali ini papa tidak akan ikut campur dalam urusan ini, papa akan membiarkan kamu meyelesaikannya sendiri karena ini sudah menjadi tugas seorang suami untuk melindungi serta mencari tahu kebenaran tentang sesuatu yang berhubungan dengan istrinya. tetapi papa harap Masalah ini tidak akan berlarut-larut karena papa takut akan berimbas pada hubungan adikmu dengan nak Dimas, karena selama ini adikmu berpikir jika Nak Dimas menaruh hati pada istrimu." jelas ayahnya pada Hantara.
Jujur Hantara sempat terkejut mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut ayahnya.
"Apa itu alasan mengapa Renata sempat menolak menikah dengan Dimas, meski pada kenyataannya Dimas adalah ayah dari bayi yang ada di kandungannya??." tebak Hantara dan ayahnya pun mengangguk sebagai jawaban.
Bagi tuan Adipura Sanjaya, tidak sulit baginya untuk mencari tahu hal hal seperti itu, dengan sekali mengerakan anak buahnya pria itu pun akan bisa mendapat informasi sesuai dengan Fakta yang ada.
Bahkan jika mau, Tidak sulit baginya untuk mencari tahu kebenaran yang terjadi di masa lalu Dimas dan keluarganya yang membuat menantunya ikut terseret di dalamnya. namun begitu, pria paru baya tersebut memilih tidak terlalu ikut campur dengan membiarkan putranya yang akan meyelesaikannya sendiri, barulah dirinya turun tangan jika Hantara telah meminta bantuan darinya.
"Oh astaga...Jadi pengakuannya saat itu benar, pria itu benar-benar mencintai Renata." gumam Hantara sembari mengusap kasar wajahnya karena sempat ragu dengan pengakuan Dimas waktu itu.
"Iya, nak Dimas mencintai adikmu, keputusan yang kamu ambil sudah benar dengan merestui mereka untuk segera menikah." tutur tuan Adipura sebelum pamit ke kamar karena untuk mengambil ponselnya.
Sejenak tuan Adipura Sanjaya menghentikan langkahnya tanpa menoleh beliau berkata pada putranya."Lumayan juga mahakarya yang kau buat di wajah calon adik iparmu." ucapnya sembari menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum tipis, sebelum dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya berada.
__ADS_1
Sementara Hantara yang mendengarnya hanya terlihat mengusap tengkuknya.
"Bagaimana bisa aku tidak kepikiran jika papa akan dengan mudahnya mengetahui semua ini." dalam hati Hantara yang sempat melupakan siapa dan bagaimana kemampuan ayahnya selama ini.
Sementara di taman depan, Renata memilih berdiri dari pada ikut duduk di samping Dimas di sebuah bangku taman.
"Sebaiknya duduk dulu, biar kamu bisa merasa lebih nyaman untuk berbicara." Dimas membuka pembicaraan di antara keduanya. pria itu nampak menepuk bagian bangku yang kosong saat berucap.
"Sebelumnya aku juga minta maaf karena tidak bisa menahan diri malam itu, sehingga kejadian malam itu sampai membuatmu mengandung anakku." lanjut ucap Dimas. Dimas mengatakan itu bukan karena menyesal namun karena pria itu tidak ingin Renata berpikir dirinya begitu mudah men_iduri seorang gadis, sebab malam itu sama seperti Renata untuk pertama kalinya Dimas melakukannya.
"Kau Tidak perlu minta maaf karena ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, aku yang bodoh, bodoh karena tidak bisa membedakan antara cinta dan naf_su" jawab Renata dengan nada datar.
"Lagi pula Aku mengajakmu ke sini untuk membicarakan hal penting bukannya untuk membahas kejadian malam itu." lanjutnya masih dengan raut wajah datar. sedangkan Dimas yang mendengarnya hanya bisa menghela napas dalam.
"Memangnya hal penting apa yang ingin kamu bicarakan??." tanya Dimas dengan nada suara yang terdengar lembut.
"Apa maksudmu, apa kamu pikir pernikahan hanyalah sebuah lelucon, tidak aku tidak setuju." tegas Dimas menolak mentah-mentah permintaan Renata.
Renata yang mendengarnya langsung melempar tatapan tajam ke arah pria itu lalu berkata." Kenapa kamu tidak setuju??." tanyanya.
"Karena aku tidak ingin menceraikanmu, lagipula aku tidak ingin anakku memiliki ayah tiri nantinya."Seketika jawaban Dimas membuat Renata tertawa renyah seolah ucapan Dimas tersebut merupakan sebuah lawakan yang mampu mengocok perut.
"Kenapa kamu tertawa??." tanya Dimas dengan gurat Wajah berubah bingung.
"Bagaimana aku tidak tertawa jika ucapanmu terdengar begitu lucu." jawaban Renata tersirat makna.
__ADS_1
"Apanya yang lucu?." masih dengan wajah Bingung Dimas bertanya.
"Kau tidak ingin berpisah denganku di saat hatimu milik wanita lain, apakah kau pikir itu tidak lucu." jawab Renata yang kini kembali tertawa namun di balik tawa tersebut Dimas bisa melihat kesedihan di sana, sehingga membuat hati Dimas terasa begitu nyeri melihatnya.
"Maafkan mas sayang, karena belum bisa berterus terang padamu untuk saat ini." dalam hati Dimas sebelum membawa tubuh Renata ke dalam pelukannya.
"Apa yang kau lakukan??." ucap Renata yang terkejut dengan tindakan tiba tiba yang di lakukan Dimas.
"Biarkan tetap seperti ini untuk beberapa saat." pinta Dimas dengan suara berat namun masih terdengar oleh Renata.
Renata pun membiarkan ayah dari bayi yang kini ada di dalam kandungan tersebut memeluknya untuk beberapa saat.
"Apa selama ini anakku membuatmu kesulitan??." pertanyaan Dimas yang di sertai elusan lembut di perutnya tersebut membuat Renata tertegun sejenak, sebelum wanita itu nampak menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, jika anak dalam kandungannya itu sama sekali tidak membuatnya kesulitan bahkan Renata sama sekali tidak merasakan ngidam.
"Ternyata anakku sangat pintar, bahkan sejak dalam kandungan saja dia sudah bisa membantu mommynya, dengan membuat Daddy nya yang merasakan mual, muntah dan juga pusing." ucap Dimas dengan nada lirih namun masih terdengar jelas di telinga Renata karena posisinya saat ini masih berada di pelukan Dimas.
Mendengar itu Renata pun melerai pelukan Dimas, dan menatap intens wajah pria itu.
"Apa maksudmu, jangan bilang selama ini kamu yang merasakan morning sicknes??." tebak Renata dan Dimas pun mengangguk sebagai jawaban kemudian berkata."Meski sedikit melelahkan tapi Aku bersyukur bisa merasakan semua itu, karena berkat itu semua aku bisa mengetahui keberadaan anakku di dalam perutmu." sebuah senyuman terbit di wajah Dimas kala berucap.
Mendengar pengakuan Dimas justru membuat Renata tersenyum kecut lalu berkata." Kau tahu, kehamilan simpatik biasanya terjadi jika pria yang mengalaminya mencintai pasangannya." ucapan Renata Seolah membuat jantung Dimas berdebar lebih kencang, apalagi saat ini dirinya menatap intens wajah wanita yang kini tengah mengandung anaknya tersebut.
"Jangan melihatku seperti itu, aku hanya mengatakan biasanya, bukan berarti aku mengatakan kau mencintaiku bukan." lanjut ucap Renata yang terdengar begitu miris. dari sorot matanya nampak jelas jika wanita itu tengah berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Sesaat kemudian Renata nampak memalingkan wajahnya dari Dimas lalu berkata." !! Hanya itu saja hal penting yang ingin aku sampaikan padamu aku harap kau mau bekerja sama denganku, aku bersedia menikah denganmu karena aku tidak ingin menikah dengan laki-laki pilihan mas Hantara, dan kau bersedia menikah denganku karena kau ingin dekat dengan wanita pujaan hatimu. tetapi satu hal yang harus kau tahu, kakak iparku sangat mencintai kakakku tidak mungkin baginya tergoda pada pria lain termasuk dirimu" ucap Renata berusaha tetap tenang dalam berucap padahal saat ini perasaannya bergemuruh hebat karena ucapannya yang nampak tenang tidak sesuai dengan suasana hatinya.
__ADS_1
Meski menampilkan raut wajah tenang, namun Dimas bisa melihat kesedihan di wajah wanita yang ia cintai tersebut dan hal itu membuat dada Dimas terasa sesak. namun ia pun belum bisa berterus terang untuk saat ini pada wanita itu, sesuai dengan peringatan yang di berikan Hantara padanya sebelum dirinya di bebaskan oleh pria itu.
Bukannya Dimas takut dengan ancaman Hantara, tetapi Dimas lebih memilih menurut karena bagaimanapun Hantara adalah kakak dari wanita yang sangat dicintainya, tidak ingin pria itu semakin menantang hubungannya dengan Renata.