
Wajah Andika nampak pucat pasi, pria itu berpegangan pada pegangan mobil.
"Oh astaga...apa kau tidak bisa memelankan kecepatan mobilmu, aku belum siap menghadap sang pencipta, apalagi saat ini aku belum menikah." dengan wajah pucat Andika terus menggerutu pada Dimas yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, untungnya saat ini waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi sebagian pekerja kantoran mungkin telah sibuk di meja kerjanya sehingga jalanan tidak sepadat pagi tadi.
Bukannya menjawab Dimas justru terlihat diam dengan fokus menatap garis putih.
Kurang dari satu jam akhirnya Andika bisa bernapas lega saat mobil Dimas mulai memasuki gerbang kediaman orang tua Andika.
Tanpa menunggu Andika, Dimas segera turun dari mobil untuk segera mencari keberadaan tantenya yaitu ibunda dari Andika yang merupakan kakak kandung dari Nyonya Veronica.
"Tante...Tante....Tante...."
Mendengar seseorang tengah menyerukan namanya wanita bernama Sonia tersebut segera menghentikan aktivitas memasaknya dengan meminta salah satu ART untuk melanjutkannya.
Setelah berada di ruang tengah nyonya Sonia sempat terdiam sejenak, saat melihat kedatangan keponakannya setelah dua tahun terakhir tak sekalipun datang mengunjungi kediamannya.
Setelahnya nyonya Sonia seakan tersadar dari lamunannya ketika melihat penampilan keponakannya yang sedikit berantakan tidak seperti biasanya.
"Ada apa nak, apa yang terjadi kenapa penampilan kamu jadi berantakan seperti ini Dimas." karena mencemaskan keadaan keponakannya nyonya Sonia terlihat mencecar Dimas dengan berbagai pertanyaan, sehingga membuat Andika yang berada di Antara keduanya itu pun menggeleng melihatnya.
Dimas melangkah mendekati nyonya Sonia."Tante, kenapa Tante tidak pernah jujur pada Dimas?? kenapa Tante sengaja menyembunyikan kebenaran sebesar ini dari Dimas Tante, kenapa??." bukannya menjawab Dimas malah balik bertanya sehingga membuat Nyonya Sonia yang belum sepenuh paham dengan maksud ucapan Dimas nampak mengeryit bingung.
"Ada apa ini Dimas??." tanya nyonya Sonia masih belum paham sepenuhnya dengan maksud ucapan Dimas. wanita itu nampak membalas genggaman tangan Dimas dengan wajah bingung.
"Maafkan Andika mah, karena Andika telah ingkar janji untuk tidak mengatakan rahasia tentang Tante Vero kepada Dimas." Dengan pandangan tertunduk Andika berucap seolah tidak berani menatap mamanya.
Genggaman tangan nyonya Sonia terlepas begitu saja saat mendengar pengakuan putranya. wanita itu terlihat diam seolah tengah memikirkan sesuatu sebelum kemudian berkata.
"Mungkin sudah saatnya kamu mengetahui semua kebenaran ini Dimas." ucap nyonya Sonia dengan wajah berubah sendu.
__ADS_1
Dimas yang mendengarnya memilih diam seakan mempersiapkan diri untuk mendengarkan cerita dari tantenya.
Dengan wajah sendu nyonya Sonia mulai melangkah menuju sofa lalu menjatuhkan bokongnya pada sofa single sedangkan Dimas dan juga Andika turut duduk di sofa Double yang berhadapan dengannya.
Kini ingatan nyonya Sonia seakan membawa wanita itu kembali ke masa lalu, dengan air mata yang mulai membasahi sudut matanya wanita paru baya tersebut mulai menceritakan kejadian di masa lalu.
Flash back on.
Pagi menjelang siang hari saat itu, wajah ayahnya Dimas nampak berseri saat dokter mengatakan jika istrinya, nyonya Veronica tengah mengandung anak kedua mereka, tetapi sayangnya yang di rasakan sang istri kala itu justru berbanding terbalik. nyonya Veronica Justru merasa kehadiran bayi dalam kandungannya akan menghambat kesuksesan kariernya yang saat itu tengah naik daun sebagai seorang model.
"Aku tidak ingin melahirkan anak ini??." tutur nyonya Veronica kepada sang suami saat keduanya berada di mobil setelah meninggalkan rumah sakit.
"Apa maksudmu Vero??." dengan kening berkerut ayahnya Dimas bertanya.
"Kau tahu sendiri saat ini karierku sedang berada di atas, jadi aku tidak ingin kehadirannya akan menghambat karierku. akan lebih baik jika anak ini tidak lahir ke dunia, aku akan menggugurkannya." kedua bola mata ayahnya membola sempurna saat mendengarnya, tidak habis pikir dengan pola pikir istrinya yang bahkan tega mengorbankan hidup calon anaknya hanya demi karier semata.
"Vero apa yang di katakan suami kamu benar, anak itu berhak lahir ke dunia ini. jangan hanya demi karier kamu sampai melakukan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya." Nyonya Sonia yang kebetulan ikut bersama dengan keduanya menimpali obrolan sepasang suami istri tersebut kala.
Hari itu nyonya Veronica sengaja mengajak serta kakak perempuannya, Karena sebelum memeriksakan kandungan ke dokter wanita itu telah mengetahui sejak awal tentang kehamilannya. niat nyonya Veronica mengajak serta kakak perempuannya adalah untuk membantu dirinya untuk meyakinkan suaminya agar setuju jika dirinya melaju aborsi, tetapi Sayangnya kakaknya justru tidak sependapat dengan Dirinya.
Tanpa di ketahui oleh ayahnya Dimas ataupun kakaknya Sonia, secara diam diam Nyonya Veronica menemui seorang dokter dengan tujuan untuk menggugurkan kandungannya, untungnya saat itu dokter yang dimintai bantuan oleh Nyonya Veronica untuk menggugurkan kandungannya merupakan kawan dari ayahnya Dimas. sehingga pria itu memberi kabar kepada ayahnya Dimas jika istrinya ingin melakukan aborsi dan akhirnya usahanya kembali gagal.
Beberapa bulan berlalu, semua usaha untuk menggugurkan kandungannya telah di lakukan oleh nyonya Veronica tetapi sepertinya usahanya tersebut berakhir sia sia, karena sampai dengan usia kandungannya memasuki Lima bulan wanita itu tak berhasil mengugurkan kandungannya. sampai pada akhirnya wanita itu pun menyerah dan memilih untuk melahirkannya.
Tentunya hal itu membuat ayahnya Dimas merasa lega, namun kelegaan ayahnya Dimas tidak berlangsung lama karena beberapa hari sebelum nyonya Veronica melahirkan, istrinya tersebut berniat untuk memberikan anak yang akan dilahirkannya nanti kepada kakaknya yaitu nyonya Sonia.
Sejujurnya nyonya Sonia tidak keberatan, apalagi saat itu dirinya sangat menginginkannya anak perempuannya, tetapi sepertinya ayahnya Dimas tidak setuju.
Sampai dengan hari persalinan istrinya tiba, ayahnya Dimas yang kala itu setia menemani sang istri dalam persalinannya merasa dadanya seperti di hantam batu besar kala seorang dokter perempuan yang baru saja membantu proses persalinan istrinya mengatakan jika anak yang baru saja dilahirkan istrinya meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang ayahnya Dimas pun langsung percaya begitu saja dengan ucapan dokter tersebut, wajahnya nampak memerah dengan tangis tercegat.
Setelah beberapa hari kemudian ayahnya Dimas membawa sang istri kembali ke rumah setelah mendapat izin dari dokter.
Seminggu berlalu setelah istrinya kembali ke rumah, ayahnya Dimas menghadiri sebuah acara yang di adakan oleh suatu organisasi yang di hadiri oleh kawan kawan SMA nya dulu.
Tanpa ada Firasat buruk sebelumnya, pria itu tiba tiba di datangi oleh salah satu teman dekatnya yang berprofesi sebagai dokter dan mengungkapkan sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh hebat seakan mau meledak.
Di mana teman dari ayahnya Dimas mengatakan jika dokter yang telah membantu proses persalinan nyonya Veronica tak dapat berbuat apa apa saat wanita itu mengancamnya jika menolak untuk mengatakan pada suaminya jika anak yang baru saja dilahirkannya tersebut telah meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan olehnya.
Dengan berbekal rasa cinta suaminya yang begitu besar kepadanya, saat itu nyonya Veronica pun berpikir jika sampai ketahuan pun pasti suaminya akan dengan mudah memaafkan dirinya.
Ternyata kenyataan di luar ekspektasi wanita itu, saat ayahnya Dimas baru saja kembali ke rumah usai menghadiri suatu acara, nyonya Veronica merasa sikap suaminya berubah drastis.
Mata nyonya Veronica membola sempurna di saat suaminya tersebut melontarkan pertanyaan yang membuatnya terkejut bukan main.
Dengan diamnya sang istri, ayahnya Dimas semakin yakin jika apa yang di katakan temannya tadi benar adanya.
Dan Akhirnya pertengkaran hebat pun tak bisa dihindarkan kala nyonya Veronica bukannya mengakui serta meminta maaf atas kesalahannya tersebut, wanita itu justru tetap kekeuh tidak ingin membesarkan seorang anak perempuan yang terlahir dari rahimnya dengan alasan karier, sehingga membuat ayahnya Dimas akhirnya mengambil keputusan Final.
"Baiklah, jika kau tetap tidak bisa menerima anak perempuanku, dengan terpaksa kita harus berpisah. aku tidak ingin hidup bersama dengan wanita yang tidak menginginkan kehadiran anak kandungnya sendiri." di akhir pertengkaran, ayahnya Dimas berucap demikian sebelum memutuskan meninggalkan rumah tanpa membawa apapun bersamanya, kecuali anak perempuannya yang sengaja di titipkan nyonya Veronica di sebuah panti asuhan.
Berkat bantuan dari kakak iparnya Nyonya Sonia, akhirnya ayahnya Dimas berhasil mengambil kembali putrinya dari panti asuhan dan membawa anak perempuannya itu bersama dengannya. walaupun berat rasanya pria itu berpisah dengan putranya, dengan terpaksa ayahnya Dimas meninggalkan Dimas hidup bersama dengan nyonya Veronica.
Sebagai kepala rumah tangga yang hanya berprofesi sebagai seorang Guru, ayahnya Dimas tidak bisa berbuat apa apa tatkala ayah mertuanya menuding dirinya tak akan sanggup memenuhi kebutuhan cucu kesayangannya jika dirinya turut membawa Dimas bersamanya.
Flash back Of.
Jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku,,,,,🙏🙏🙏🙏
__ADS_1