
Di dalam kamar, Gita baru saja membuka pesan dari kedua sahabatnya yang mengatakan jika mereka telah tiba di rumah masing-masing. Gita kembali meletakkan ponselnya di atas meja rias Lalu menoleh ke arah suaminya yang baru saja usai mandi.
"Mas." ucap Gita ragu.
"Hemt." Jawab Hantara yang Kini tengah mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.
Gita nampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Boleh aku bertanya sesuatu, tapi kamu harus jawab dengan jujur." ucap Gita.
"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan??." Hantara berjalan kearah ranjang hendak mengambil stelan piyama miliknya yang telah di siapkan Gita sebelumnya.
Wanita itu nampak menghela napas dalam seolah mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada suaminya. "Apa pak Armada sudah memiliki kekasih??." pertanyaan istrinya spontan membuat Hantara membalikkan tubuhnya ke arah Gita dengan tatapan sebal. pria itu merasa tidak suka saat istrinya menyebut nama pria lain.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu??." bukannya menjawab Hantara malah balik bertanya dengan wajah sebal, dan Gita bisa menyaksikan itu.
"Aku hanya ingin tahu saja mas, karena sudah beberapa kali aku memergoki Anis selalu mencuri pandang pada pak Armada." Gita akhirnya berterus terang pada suaminya karena tidak ingin pria itu salah paham dengan pertanyaannya.
Hantara nampak menghela napas lega saat mendengar penjelasan istrinya. setelahnya pria itu meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Aku tidak suka kamu menyebut nama pria lain di hadapanku." ucapnya beberapa saat kemudian. hal itu membuat Gita mengurai pelukannya untuk memberi jarak. "Memangnya kenapa sampai mas tidak suka??." tanya Gita. dengan sedikit mendongak Gita menatap mata suaminya.
"Karena kamu itu istriku hanya aku yang boleh ada di hati dan pikiran kamu, tidak boleh ada pria lain termasuk Armada sekalipun." jawab Hantara sebelum mendaratkan kecupan di bibir ranum milik istrinya.
Sebuah kecupan yang berubah menjadi sebuah lum_atan lembut penuh cinta sehingga membuat Gita seakan lupa akan pertanyaannya tadi. apalagi kini salah satu tangan kekar milik suaminya sudah mulai memainkan salah satu aset berharga miliknya.
__ADS_1
Sentuhan yang mampu membuat wanita itu tanpa sadar mulai mengeluarkan suara desa_han. Hingga malam itu pasangan muda itu kembali merasakan nik_matnya surga dunia.
Hantara memposisikan istrinya di dalam dekapannya usai pergulatan panas mereka yang berlangsung kurang lebih dua jam. pria itu nampak membelai rambut sang istri dengan lembut.
"Mas tidak tahu pasti, tetapi selama ini mas tidak pernah melihat Armada bersama dengan wanita manapun." pernyataan tiba tiba dari suaminya membuat Gita sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Hantara. bukan hanya karena Hantara tiba tiba bersedia menjawab pertanyaannya tentang Armada, namun juga karena pria itu tiba-tiba menyebutnya dengan sebutan MAS.
Meski cukup terkejut mendengar kata "Mas" yang baru di sematkan suaminya, namun Gita secepatnya menghilangkan raut terkejut di wajahnya, sebelum kembali merapatkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya.
"Mas paham kamu peduli pada Anis karena dia sahabat kamu, tapi lebih baik kamu tidak terlalu ikut campur biarkan semua berjalan dengan sendirinya.Tapi jika benar dugaan kamu, Anis tertarik pada Armada sepertinya tidak mudah untuk Anis bisa mendekati pria dingin itu." Masih dengan mengusap lembut rambut istrinya, Hantara berucap. dan Gita pun nampak mengiyakan ucapan suaminya mengingat sikap dingin Armada selama ini.
"Sekalipun Armada adalah asisten pribadinya Mas, tapi mas tidak bisa berbuat banyak jika itu menyangkut perasaan, Sayang." lanjutnya. sedangkan Gita nampak menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan sayang.
Entah sadar atau tidak saat pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang, namun hal itu mampu membuat hati Gita berbunga. sampai tanpa sadar wanita itu memainkan jemarinya di dada bidang Suaminya.
Tetapi sepertinya usaha Gita berujung sia-sia karena sekali lagi pria itu berhasil melakukan penyatuan untuk kedua kalinya.
"Terima kasih, Sayang." Hantara mengecup kening istrinya setelah permainan mereka baru saja usai, sebelum pria itu merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Berbeda dengan sang yang sudah nampak masuk ke alam bawah sadarnya, Hantara masih mendekap tubuh istrinya dengan mata terbuka tak sedikit pun nampak gurat lelah di wajahnya padahal pergulatan mereka tadi cukup menyita tenaganya.
Hantara seperti sedang memikirkan sesuatu, sampai suara notifikasi pesan di ponsel mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Dengan hati hati Hantara meraih ponselnya yang berada di atas nakas, agar tidak menggangu kenyamanan istrinya yang tengah terlelap dengan beralaskan lengannya.
Hantara nampak tersenyum sinis usai membaca isi pesan dari Armada. "Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya" gumamnya sebelum kembali meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian mulai memejamkan mata.
Keesokan harinya Gita yang baru saat mengerjapkan matanya akibat sinar matahari yang mulai masuk dari sela fentilasi kamar, menyadari jika posisi tidurnya masih sama seperti semalam. itu artinya semalaman ia tidur dengan beralasan lengan suaminya.
"Maaf mas... lengan kamu pasti pegal." gumam Gita sembari menatap intens wajah tampan suaminya.
Perlahan Gita mulai memainkan jemarinya pada wajah suaminya yang kini masih memejamkan mata. "Kamu memang sangat tampan mas, tidak heran banyak wanita yang tergila-gila padamu." lanjut gumam Gita sembari menikmati wajah tampan suaminya yang masih terlelap.
Tiba tiba ingatan Gita tertuju pada sosok dokter Siren. "Bagaimana jika dokter Siren tahu kalau aku bukan hanya dekat dengan pria idamannya tetapi bahkan setiap malam aku tidur seranjang dengannya. mungkin wanita itu akan kejang kejang saat tahu." lanjut Gita dengan tersenyum sinis membayangkan wajah Pias dokter Siren.
"Sekalipun kamu tidak cinta sama aku, mas, aku tetap istri kamu. sebagai seorang istri aku tidak akan membiarkan gadis manapun mencoba mendekati suamiku." melihat suaminya masih memejamkan mata Gita pun bergumam sepuas hatinya, sebelum turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup pertanda istrinya telah menghilang di baliknya, Hantara mulai membuka matanya.
Pria itu nampak tersenyum." Kamu tidak perlu khawatir sayang, karena aku bukan tipe pria yang mudah tergoda dengan rayuan dari wanita. lagi pula wanita mana yang akan berani mendekati seorang Hantara Putra Adipura Sanjaya." gumamnya dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.
Sebenarnya sejak tadi Hantara sudah terbangun namun saat menyadari jika Istrinya hendak membuka mata, Hantara kembali memejamkan matanya dengan berpura pura tidur.
Setelah selesai bersiap dan sarapan bersama, seperti biasa Hantara akan lebih dulu mengantarkan Akila dan Asyifa ke sekolah kemudian lanjut mengantarkan sang istri ke tempatnya bekerja setelahnya baru pria itu menuju perusahaan miliknya.
__ADS_1
Namun baru beberapa saat tiba di perusahaan setelah menandatangani dokumen penting, Hantara kembali meraih kunci mobilnya menuju suatu tempat di mana Armada telah menunggu kedatangannya.