
Dengan di bantu oleh beberapa orang perawat akhirnya Abimanyu berhasil menenangkan nyonya Veronica dengan menyuntikkan obat penenang pada wanita itu.
Karena belum juga berhasil menghubungi ponsel Dimas akhirnya Abimanyu memilih untuk mengirimkan sebuah pesan pada Dimas, dengan harapan Dimas akan segera membaca pesan darinya ketika mengaktifkan ponselnya nanti.
****
Malam harinya.
Usai makan malam, Hantara memilih segera beranjak ke ruang kerjanya. sementara Gita menemani kedua putrinya mengerjakan tugas dari sekolah.
Hantara terlihat termenung dengan pandangan tertuju pada benda pipih yang kini berada di genggaman.
"Apa sebaiknya aku membuka ponsel milik pria breng_sek itu??." batin Hantara, masih dengan tatapan yang tertuju pada ponsel Dimas yang kini berada di genggamannya.
Setelah menimbang nimbang akhirnya Hantara pun mulai mengaktifkan ponsel dengan merk apel tergigit setengah bagian tersebut.
Baru saja aktif, ponsel itu sudah bergetar tanda notifikasi pesan masuk ke aplikasi hijau di dalamnya.
"Kau Di mana??? kenapa sejak tadi ponselmu tidak bisa di hubungi?? setelah kau membaca pesan dariku, sebaiknya kau segera ke rumah sakit karena kondisi Tante Veronika kembali memburuk." Hantara membuka pesan di ponsel Dimas dengan nama pengirim My Friend Abi.
"Jadi benar apa yang di katakan pria breng_sek itu, bahwa saat ini ibunya di rawat di rumah sakit." gumam Hantara usai membaca pesan tersebut.
Untuk memastikan kebenarannya, Hantara pun menghubungi salah satu orang kepercayaannya untuk melacak GPS dari pemilik nomor yang telah mengirimkan pesan pada Dimas.
Kurang dari sepuluh menit, ponsel Hantara kembali berdering dan ternyata panggilan dari orang kepercayaannya dengan mengatakan padanya Jika GPS dari pengguna nomor ponsel yang di maksud Hantara bertitik pada sebuah rumah sakit di ibu kota.
Hantara yang mendengarnya cukup terkejut, untuk lebih memastikan Hantara pun menghubungi Armada untuk segera pergi bersama dengannya menuju titik lokasi yang di maksud.
Tiga puluh menit kemudian mobil Armada pun tiba di kediaman Hantara, Hantara yang sejak lima menit yang lalu telah menunggu di depan pun segera masuk ke mobil Armada.
Sementara Armada yang sudah tahu kemana arah tujuan, kembali melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah Hantara yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Kurang dari satu jam mobil yang di kendarai Armada tiba di lokasi yang di maksud.
"Apa sebaiknya masuk ke dalam untuk memastikan tuan?." usul Armada ketika mobilnya tiba di depan gerbang sebuah rumah sakit.
"Kau tunggu saja di mobil, aku yang akan masuk!!." kata Hantara sebelum kemudian membuka pintu mobil dan segera turun.
Dengan menggunakan masker serta topi berwarna hitam Hantara mulai memasuki pintu masuk rumah sakit.
Setelah bertanya pada seorang perawat yang melintas, akhirnya Hantara melewati salah satu lorong rumah sakit hendak menuju salah satu gedung khusus untuk pasien penyakit jiwa.
"Apa benar ibunya Dimas di rawat di gedung ini??." batin Hantara, mengingat tadi dirinya hanya bertanya ruangan atas nama Nyonya Veronika saja, tanpa embel-embel nama belakang ataupun yang lainnya.
Kebetulan ada seorang perawat yang melintas dan Hantara pun kembali bertanya.
"Maaf suster, apa benar nyonya Veronica di rawat di gedung ini??." tanya Hantara pada seorang wanita berseragam putih.
"Apa yang anda maksud Nyonya Veronica ibu dari tuan Dimas Satria Prayoga??." tanya perawat tersebut memastikan yang di maksud Hantara dan spontan Hantara pun mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Maaf tuan, berhubung ini sudah malam waktu berkunjung sudah selesai sebaiknya anda kembali lagi besok pagi!!." ujar perawat tersebut kemudian.
"Oh begitu, baiklah kalau begitu saya akan kembali lagi besok." jawab Hantara sebelum berpamitan. baru beberapa langkah Hantara beranjak tiba tiba perawat tadi kembali bertanya." Maaf tuan, apakah anda keluarga jauhnya Nyonya Veronica??." tanya perawat tersebut mengingat selama ini hanya ada Dimas serta sepupu laki lakinya yang di ketahui sebagai anggota keluarga dari Nyonya Veronica.
Dari wajahnya perawat tersebut bisa memastikan pria yang kini berada di hadapannya bukanlah sepupu dari Dimas, meski pria itu kini tengah mengenakan topi serta masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
" iy_iya saya keluarga jauhnya Nyonya Veronica, saya baru saja tiba di tanah air tadi pagi." dusta Hantara dan perawat tersebut nampak mengangguk seolah percaya dengan ucapannya, sebelum kemudian Hantara pamit undur diri.
Setelah memastikan perawat tadi telah melangkah cukup jauh, Hantara pun keluar dari persembunyiannya di balik salah satu dinding gedung.
Dengan langkah lebar Hantara menuju ruangan yang di katakan oleh perawat tadi.
Kurang dari sepuluh menit akhirnya Hantara menemukan keberadaan kamar perawatan dengan nomor 12. perlahan Hantara mendekati pintu tersebut, dari balik kaca segi empat yang berada di bagian atas pintu tersebut Hantara bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kondisi seorang wanita paru baya yang begitu memprihatinkan.
__ADS_1
Dari penampilannya, Hantara bisa menebak jika wanita paru baya tersebut tengah mengalami depresi.
Sesekali Hantara melihat wanita itu menangis dan beberapa saat kemudian berubah tertawa tanpa sebab sembari menatap sebuah foto yang berada di genggaman tangannya.
"Ternyata ucapan Dimas benar, ibunya mengalami depresi berat." gumam Hantara dengan nada lirih.
Sebagai seorang anak yang juga begitu menyayangi ibunya, kini Hantara bisa mengerti mengapa sampai Dimas begitu marah hingga ingin membalaskan dendamnya, namun begitu Hantara sendiri belum yakin dengan tudingan Dimas kepada mendiang ibu mertuanya.
Sehingga Hantara memutuskan untuk mencari tahu lebih dulu kebenarannya, sebelum mengatakan pengakuan Dimas kepada istrinya, Gita.
Terima atau tidak, pada kenyataannya Dimas adalah kakak dari istrinya, apalagi secara kebetulan pria itu juga merupakan ayah dari anak yang ada didalam kandungan adiknya, Renata. mengingat semua itu membuat kepala Hantara serasa mau pecah.
***
"Ternyata ucapannya benar, ibunya tengah mengalami depresi." ucap Hantara ketika sudah berada di mobil bersama dengan Armada. Hantara terlihat berucap sembari memijat kepalanya yang rasanya mau pecah.
"Tetapi aku juga tidak yakin jika ibu mertuaku lah yang menjadi penyebab ibunya Dimas sampai mengalami depresi." lanjut Hantara yang kekeh dengan dugaannya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan??." memalui pantulan spion depan Armada memandang Hantara ketika berucap.
Sejenak Hantara nampak diam sembari beralih mengusap wajahnya.
"Sebaiknya kau cari tahu lebih dulu latar belakang dari Nyonya Veronica serta mantan suaminya dan juga ibu mertuaku!! cari tahu semuanya!!! aku tidak ingin salah dalam mengambil sikap selanjutnya." papar Hantara sebelum memerintahkan Armada untuk segera mengantarkannya kembali ke rumah.
****
"Sayang, apa kamu tidak ingin berkunjung ke rumah pamanmu??." dengan hati hati Hantara bertanya pada istrinya, saat keduanya tengah berbaring di ranjang dengan posisi Hantara mengusap rambut istrinya yang kini tengah menyandarkan tubuhnya pada dada bidang miliknya.
"Tumben kamu bertanya seperti itu mas??." tanya Gita sembari menatap intens wajah suaminya dengan tatapan curiga.
"Bukan apa apa sayang, mas hanya tidak ingin keluarga kamu berpikir jika mas sengaja melarang kamu untuk menemui mereka." dusta Hantara, padahal pada kenyataannya dirinya ingin lebih dekat dengan keluarga dari istrinya untuk mencari tahu kebenaran yang pernah terjadi di masa lalu.
__ADS_1
Gita yang mendengarnya nampak mengangguk percaya dengan ucapan suaminya, sebelum kemudian berkata." Sepertinya mereka memang lebih senang jika aku tidak datang menemui mereka." papar Gita setelah teringat bagaimana sikap istri serta anak kembar dari pamannya memperlakukan dirinya dulu.