Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Perkara Lingerie.


__ADS_3

Setelah dari cafe Riko serta ayahnya segera kembali ke perusahaan. Riko yang kini tengah mengemudi nampak fokus menatap jalanan saat ayahnya membahas tentang pernikahannya yang rencananya akan di laksanakan tiga bulan mendatang.


"Ayah aku rasa gadis itu tidak setuju dengan perjodohan ini buktinya dia sengaja menunda terlalu lama." Riko berusaha mempengaruhi ayahnya untuk membatalkan rencananya.


"Kamu jangan berpikir buruk tentang gadis itu, ayah yakin dia gadis yang baik tidak mungkin dia berniat seperti apa yang kamu tuduhkan." jawaban ayahnya membuat Riko menghembus napas bebas di udara, karena merasa telah gagal mempengaruhi ayahnya.


Tuan Abraham yang duduk di samping kemudi nampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Lagi pula saat ini usia kamu sudah kepala tiga sudah waktunya kamu membina rumah tangga. Sahabat kamu saja bahkan sudah menikah dua kali masa kamu masih betah sendiri." Riko hanya bisa mendengus mendengar ucapan ayahnya.


Menepis pun rasanya percuma karena apa yang di katakan ayahnya benar adanya.


Selain ingin putranya segera mendapat pendamping hidup, Tuan Abraham juga tidak ingin putra sulungnya itu kembali tergoda dengan bujuk rayu mantan kekasihnya. meski sangat mengenal watak putranya yang paling anti dengan barang bekas namun tuan Abraham tetap saja khawatir anaknya khilaf.


Itulah sebabnya tuan Abraham memutuskan untuk menjodohkan Riko dengan putri dari salah satu rekan bisnisnya.


Mobil yang di kendarai Riko terus melaju membelah padatnya jalanan ibukota hingga beberapa saat kemudian tiba di area gedung perusahaan milik ayahnya.


Riko lebih dulu turun dari mobil setelahnya pria itu membukakan pintu mobil untuk ayahnya. sebelum mengikuti langkah ayahnya memasuki gedung, Riko lebih dulu memberikan kunci mobil pada security yang bertugas. untuk memarkirkan mobilnya.


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda Gita baru saja tiba di rumah setelah sebelumnya menjemput kedua putrinya di sekolah.


"Nona, saya akan segera kembali ke perusahaan."ucap pria yang di tugaskan Hantara mengantarnya tadi sambil menunduk hormat.


"Baiklah... terima kasih sebelumnya." jawab Gita sedangkan Akila dan Asyifa nampak diam sembari menatap takut pada pria yang berperawakan tinggi besar itu. Kedua gadis kecil itu nampak memegang tangan Gita seperti sedang bersembunyi.


"Tidak perlu berterima kasih Nona itu sudah menjadi tugas saya." jawabnya sebelum membalikkan badannya dan kembali masuk ke mobil. setelahnya mulai menghidupkan mesin mobil hingga mobil yang di kendarai perlahan keluar dari gerbang rumah tuannya.

__ADS_1


"Mah...om tadi itu siapa, kenapa wajahnya serem mah?? Akila jadi takut. " tanya Akila saat Gita mengajak Keduanya masuk ke rumah. Gita nampak menahan tawanya mendengar ocehan Akila.


Layaknya bodyguard pada umumnya pria itu menampakkan wajah datar itulah mengapa Akila menyebutnya om om seram.


"Oh ...itu tadi om temannya papa, kalian tidak perlu takut!! lagi pula omnya baik kok cuma nggak pinter senyum aja." jawab Gita sambil mengembangkan senyumnya.


Gita menggandeng tangan Akila dan Asyifa menuju kamar agar keduanya segera mengganti pakaian sekolah.


"Akila baru tahu mah,,, kalau papa punya teman kayak om om serem tadi." Ternyata drama Akila membahas salah satu bodyguard ayahnya masih berlanjut sampai ketiganya berada di kamar. "Mama juga nggak tahu sayang kenapa, sebaiknya kita tanya saja pada papa nanti ya!!." jawab Gita yang kini hampir kehabisan kata kata untuk menjawab pertanyaan kritis Akila.


Karena tidak mungkin juga Gita mengatakan sejujurnya jika pria itu merupakan salah satu bodyguard di perusahaan ayahnya, sebab Akila pasti tidak akan paham dengan begitu akan lebih banyak lagi pertanyaan mengemaskan dari gadis kecil itu.


Setelah membantu Akila dan Asyifa mengganti pakaian sekolahnya, Gita mengajak Keduanya segera turun untuk makan siang.


Dengan telaten Gita menyuapi kedua putrinya bergantian. biasanya baik Akila maupun Asyifa terbiasa makan sendiri namun siang ini sedikit berbeda keduanya meminta di suapi oleh ibu sambungnya.


Sekalipun di layani oleh beberapa orang ART tidak membuat Gita bersikap manja, apa apa semua meminta bantuan ART. selagi masih bisa di kerjakan sendiri kenapa tidak. begitulah prinsip Gita, seorang wanita yang telah terbiasa hidup mandiri sejak masih di usia remaja.


Usai mencuci piring bekas makan Akila dan Asyifa, Gita menghampiri Kedua anak sambungnya yang tengah asyik menyaksikan acara televisi anak.


"Sayang ... Sekarang waktunya bobo siang, nanti kalau sudah bobo siang kalian boleh nonton lagi." Gita mencoba memberi pengertian pada keduanya dan kedua gadis kecil menggemaskan itu mengiyakan permintaan Gita. "Ok mah." jawab kedua hampir bersamaan.


"Anak anak mama memang the best." jawab Gita gemas sembari mengacungkan jempolnya kemudian mengelus puncak kepala Akila dan Asyifa bergantian.


Ketika hendak memasuki lift menuju ke lantai tiga seorang ART menghampiri Gita dengan membawa sebuah bingkisan kemudian menyerahkan pada majikannya itu.

__ADS_1


"Apa ini bi??." Gita nampak mengeryit memandang ke arah bingkisan yang baru saja di berikan bi Ela.


"Bibi juga nggak tahu Non, tadi yang nganter nggak bilang ini apa, cuma bilang kalau bingkisan ini buat Non Gita." terang bi Ela seadanya dan Gita nampak mengangguk kecil mengiyakan. setelahnya Gita bersama Akila dan Asyifa melanjutkan langkahnya menuju kamar keduanya yang berada di lantai tiga dengan menggunakan lift.


Rumah mewah milik Hantara memang sengaja di lengkapi dengan fasilitas lift mengingat rumah tersebut memiliki empat lantai.


Gita memilih membuka bingkisan itu di kamarnya setelah lebih dulu menidurkan kedua putrinya. mungkin karena lelah, hanya butuh waktu dua puluh menit kini kedua putrinya sudah terlelap.


Gita keluar dari kamar Putrinya dan tak lupa menutup pintu.


"Apa ini??." Gita nampak bertanya pada diri sendiri tentang isi bingkisan itu. tidak menunggu lama Gita yang sejak tadi sudah di buat penasaran segera membuka bingkisan tersebut. namun sebelumnya Gita membaca kartu ucapan yang terselip pada bingkisan.


"Gunakan malam ini...!! karena aku akan segera menagih janji." Gita yang membaca tulisan pada kartu ucapan nampak mengeryit mencoba menebak siapa pengirimnya.


"Mas Hantara." hanya ada satu nama yang kini terlintas di pikiran Gita yaitu suaminya.


Gita yang sudah sangat penasaran segera membuka untuk melihat isi bingkisan.


"Astaga....mas Hantara." mata Gita membola sempurna saat melihat isi bingkisan ternyata sebuah lingerie seksi. "Untuk apa mas Hantara memintaku memakai pakaian kurang bahan seperti ini?? apa mas Hantara sudah tidak punya uang sampai harus membeli baju seperti ini untukku??." Gita nampak menggerutu tidak jelas sembari memasang wajah sebal saat menelisik dengan seksama model serta potongan lingerie yang baru saja di kirimkan suaminya.


Namun beberapa saat kemudian lebel harga yang tercantum pada lingerie tersebut mematahkan dugaan Gita. "lima puluh juta." kedua bola mata Gita nyaris keluar dari tempatnya saat melihat harga sebuah lingerie seksi atau lebih tepat disebut jaring olehnya.


"Harga selembar baju jaring ini bahkan hampir setara dengan gajiku setahun." gumam Gita tak habis pikir.


sayang sayangku,,,, please don't forget to subscribe, koment, like and vote....

__ADS_1


Biar aku makin semangat lagi nulisnya. BTW kalau author boleh tahu, sayang sayangku dari daerah mana saja nih....??? balas di komentar ya ....!!! 🙏🙏🙏😘😘😘😘😘


__ADS_2