
Setelah mengantarkan Renata kembali ke Mansion Dimas pun Segera berangkat menuju perusahaannya karena ada dokumen penting yang harus segera di bubuhi tanda tangannya. meski berat, dengan terpaksa pria itu meninggalkan wanita yang baru kemarin dinikahinya tersebut di mansion milik mertuanya sebab mereka telah cek out di hotel sejak tadi pagi.
Setibanya di perusahaan Dimas di kejutkan dengan keberadaan mobil milik kakak iparnya yang terparkir di area parkiran gedung Perusahaannya.
"Apa yang di lakukannya tuan Hantara di sini??." gumam Dimas dengan wajah bingung, karena setahu pria itu tidak ada jadwal meeting dengan Hantara untuk hari ini. dan jika pun ada biasanya dirinya yang akan mendatangi perusahaan Putra Adipura Sanjaya group.
Dimas turun dari mobilnya lalu segera menuju pintu masuk gedung perusahaan.
Saat melintas di loby, Sejenak Dimas menghentikan langkahnya saat seorang resepsionis melangkah mendekati dirinya.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda tuan, dan sekarang beliau tengah menunggu di ruang meeting tuan.." kata seorang resepsionis yang bertugas.
"Apa tamu yang kau maksud tuan Hantara putra Adipura Sanjaya??."tanya Dimas memastikan dugaannya dan resepsionis tersebut mengiyakannya.
Dimas terlihat diam untuk beberapa saat seperti sedang berpikir."Apa sebenarnya tujuannya datang ke sini??." batin Dimas. Dimas yakin ada sesuatu yang penting sehingga membuat pria itu melangkahkan kakinya untuk mendatangi perusahaannya.
Dimas nampak menghela napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan." baiklah, saya akan segera menemuinya." jawab Dimas sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang di maksud.
Ceklek.
Saat memutar handle pintu, Dimas cukup terkejut dengan keberadaan seseorang di dalam sana, bukan Hantara ataupun Armada melainkan kehadiran seorang pria yang tak lain adalah saudara sepupunya, Andika Mahendra.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini??." tanya Dimas dengan dahi berkerut sembari menatap Andika lalu beralih menatap Hantara dan juga Armada bergantian.
"Ya, aku memang datang bersama dengan tuan Hantara dan juga asisten pribadinya dan kedatangan kami kemari ingin memperlihatkan sesuatu padamu."tutur Andika seolah menjawab pertanyaan Dimas yang nampak jelas dari sorot matanya.
"Tidak perlu basa-basi sebaiknya katakan saja apa tujuan kalian datang menemuiku??." dengan wajah yang masih nampak Bingung sekaligus penasaran Dimas melangkah lalu menarik sebuah kursi kemudian menjatuhkan bokongnya tepat di hadapan Hantara, hanya ada sebuah meja yang menjadi perantara.
Bukannya menjawab, Andika justru meletakkan sebuah amplop berwarna coklat di hadapan Dimas.
"Apa ini??." tanya Dimas saat pandangannya tertuju pada amplop tersebut.
"Sebaiknya kau baca sendiri!!." seru Andika sementara Hantara memilih diam sembari duduk dengan bersekedap dada serta menyilangkan kedua kakinya. sedangkan Armada sendiri terlihat Berdiri siap di samping tuannya.
Deg.
Jantung Dimas serasa ingin meloncat dari tempatnya saat membaca kata demi kata yang tertera di dalam kertas tersebut yang menyatakan, Hasil pemeriksaan DNA atas nama Nyonya Veronica dan juga seorang wanita bernama Mentari Sagita yang berusia dua puluh empat tahun di nyatakan 99'99 persen mirip.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, kalian sedang bercanda kan??." tanya Dimas berharap apa yang baru saja ia baca tidak benar.
"Jika anda masih belum percaya, silahkan anda buktikan sendiri dengan melakukan tes DNA ulang!!." kini Armada yang nampak bersuara mewakili tuannya dan di anggukan Andika sebagai tanda persetujuan atas ucapan Armada."Jika kau ingin tahu kisah yang sebenarnya, kau bisa menanyakannya langsung pada mamaku, karena sebenarnya mama tahu semuanya." tutur Andika seolah ingin menjawab keraguan di hati Dimas.
Kini pandangan Dimas beralih pada Hantara yang sejak tadi hanya diam.
__ADS_1
"Wanita yang selama ini membesarkan istriku bukanlah ibu kandungnya, jadi selama ini tudingan anda salah besar apalagi sampai menjadikan adik kandung anda sendiri sebagai sarana sebagai alat untuk membalaskan dendam anda." tutur Hantara sengaja menggunakan bahasa Formal kepada Dimas, mengingat saat ini keduanya sedang tidak berada di tengah tengah keluarga.
Sementara Dimas yang mendengarnya terlihat mengusap wajahnya Frustrasi."Bagaimana mungkin bisa seperti ini kejadiannya." ucapnya seolah menolak kenyataan yang ada didepan mata.
"Terserah anda percaya atau tidak tetapi begitulah kenyataannya, dan gadis kecil yang selama ini di maksud ibu anda adalah istri saya, Gita, yang tidak lain adalah anak kandung dari ibu dan ayah anda sendiri." Dimas benar benar di buat terpaku dengan pengakuan dari mulut Hantara, apalagi saat ini pria itu juga memiliki bukti atas Fakta yang ada.
"Sesuai dengan ucapan anda beberapa hari lalu, yang ingin selalu menjaga dan melindungi istri anda dari siapapun yang ingin mencelakainya, saya pun tidak berbeda dengan anda. saya pun akan melakukan hal yang sama terhadap istri saya, saya akan melindungi istri saya dari siapapun yang ingin mencelakainya tidak terkecuali anda, saudara kandungnya sendiri." terang Hantara, pria itu kembali menampilkan wajah datarnya di hadapan Dimas, yang notabenenya adalah suami dari adiknya sendiri.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan pada anda, saya rasa anda cukup pintar untuk mengerti dengan maksud ucapan saya." lanjut Hantara sebelum Berdiri dari tempat duduknya kemudian mulai melangkah meninggalkan ruangan tersebut dan di ikuti oleh Asisten pribadinya, Armada.
Sedangkan Andika memilih tetap tinggal untuk menemani Dimas yang nampaknya masih syok melihat kenyataan yang sebenarnya.
Dimas terlihat tersenyum miring setelah kepergian Hantara."Jika benar wanita itu adik kandungku, bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi?? dan kenapa papa dan mama tidak pernah menceritakan yang sebenarnya kepadaku, kenapa papa malah pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun??." ingatan Dimas kembali membawanya ke masa lalu di hari di mana ayahnya meninggalkan rumah dengan Hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa membawa apapun setelah bertengkar hebat dengan ibunya.
Hampir dua puluh tahun yang lalu, Dimas menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat kedua orang tuanya bertengkar hebat, dan saat itu usia Dimas yang masih terbilang masih anak anak tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebab terjadinya pertengkaran diantara kedua orang tuanya, tetapi satu yang selalu melekat di ingatannya yaitu saat ayahnya mengatakan jika ibunya tidak menerima kehadiran seorang anak perempuan, yang Dimas sendiri tidak tahu pasti siapa anak perempuan yang di maksud oleh ayahnya tersebut, maka ayahnya akan memutuskan untuk berpisah dari ibunya.
Dan selang beberapa bulan, Dimas mendengar dari salah satu teman ayahnya jika saat itu ayahnya telah menikah lagi dengan seorang wanita berstatus janda, sejak saat itu pula Dimas berpikir jika istri baru ayahnya tersebut sengaja menjebak ayahnya agar bisa meninggalkan ibunya agar bisa menikahinya. sejak saat itu pula api dendam di hati Dimas mulai membara.
kebencian Dimas terhadap ayahnya semakin menjadi tatkala ayahnya meninggalkan ibunya saat baru saja melahirkan adiknya, yang diketahuinya meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan oleh ibunya.
jangan lupa like, koment, vote and give ya,,,,,bunga sekebon, kopi segalon juga boleh ya,,,,,😊😊😊
__ADS_1