
Wajah Akila nampak sumringah saat kedua orang tuanya mengajak makan malam bersama kakek dan neneknya, dua orang yang begitu dirindukan oleh gadis itu. berbeda dengan Akila, Asyifa nampak murung. sehingga membuat Gita yang melihat putrinya segera mengelus lembut puncak kepala Asyifa. "Ada apa sayang, kenapa wajah Asyifa sepertinya tidak senang?? apa Asyifa tidak senang di ajak papa main ke rumah Kakek dan nenek???" tebak Gita melihat gurat wajah Putrinya.
Asyifa mengangkat wajahnya menatap ibunya. "Bukan begitu mah, Asyifa senang kok main ke rumah kakek dan nenek, tapi apa kakek dan nenek juga senang kalau Asyifa main ke sana??." Gita di buat tertegun dengan ucapan Asyifa, meski terdengar sedikit cadel namun Gita bisa mengerti maksud ucapan Putrinya. Di saat dirinya tidak kepikiran sampai ke sana, anak seusia Asyifa bahkan bisa memikirkan hal demikian.
Untuk beberapa saat Gita nampak diam Lidahnya seolah keluh untuk menjawab pertanyaan putrinya. bagaimana bisa dirinya meyakinkan Asyifa sementara dia sendiri belum juga yakin.
Mungkin saja ibu mertuanya bisa menerima kehadiran Asyifa karena sudah pernah bertemu sekali, namun bagaimana dengan ayah mertuanya. apakah pria itu akan menerima kehadiran putrinya atau justru menganggap kehadiran putrinya sebagai aib bagi keluarganya??. Gita berpikir demikian karena tidak mengetahui kebenaran jika kedua mertuanya telah mengetahui jika Asyifa bukanlah anak kandungnya.
Membayangkan saja sudah membuat hati Gita seperti tertancap ribuan jarum apalagi sampai benar benar terjadi.
Tak ingin terlalu berpikir berat yang semakin membuat kepalanya berdenyut, Gita memilih segera menghampiri suaminya serta Akila yang kini telah menunggu di depan.
"Ayo sayang...!!! kasian papa menunggu kita terlalu lama." Ajak Gita sembari memegang sebelah tangan Putrinya sebelum melangkah.
Tidak menunggu lama mereka pun segera bertolak menuju mansion kedua orang tua Hantara, di mana kedatangan mereka telah di nantikan.
Tiga puluh menit mobil mewah yang di kendarai Hantara tiba di depan gerbang mansion. nampak pria berseragam hitam tersenyum ramah saat membukakan gerbang.
Berbeda dengan dugaan Gita, ternyata kedua mertuanya begitu welcome dengan kehadiran putrinya, bahkan kedua mertuanya sama sekali tidak membedakan antara Akila dan Asyifa. rasanya Gita tak sanggup membendung air mata haru saat melihat perlakuan kedua mertuanya pada Asyifa, apalagi Hantara yang melihatnya segera menggenggam tangan Gita dengan gesture tubuh seolah mengatakan jangan khawatir karena semua kamu takutkan tidak akan terjadi.
Kini anggota keluarga Sanjaya termasuk Gita sebagai menantu di keluarga tersebut nampak mengobrol santai sembari menunggu kedatangan Renata dan juga teman prianya.
Sampai ucapan nyonya Merina yang disertai senyum manis membuat Gita merasa gugup apalagi saat ini suaminya ikut memandang ke arahnya.
__ADS_1
"Apa Akila dan Asyifa belum ingin punya adik??." tanya Nyonya Merina seraya mengembangkan senyumnya. Gita nampak menundukkan pandangannya saat mendengar ucapan ibu mertuanya. bukan karena tersinggung namun Gita merasa bersalah pada wanita itu mengingat selama ini dia sengaja mengkonsumsi pil kontrasepsi. apalagi saat ini Hantara ikut memandang ke arahnya.
Untungnya kedatangan Renata dan seorang pria mengalihkan pembicaraan.
"Selamat malam semuanya." ucapan salam Renata mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.
"Tuan Dimas." baik Hantara maupun Gita sama sama terkejut saat melihat kehadiran pria yang kini datang bersama Renata.
Renata menatap kakak serta kakak iparnya sebelum menatap ke arah pria yang masih berdiri di sampingnya. "Apa kalian sudah saling kenal??." tanya Renata.
"Tuan Dimas merupakan salah satu rekan bisnisnya mas." Hantara yang menjawab rasa penasaran adiknya. Dan Dimas ikut mengiyakan perkataan Hantara.
"Oh begitu rupanya... nggak nyangka ternyata calon suamiku rekan bisnis kakakku, seru juga kalau di jadikan novel." kelakar Renata. ya begitulah karakter seorang Renata, bila di tengah tengah keluarganya gadis itu akan bersikap hangat serta candaannya.
Setelahnya mereka pun mulai beranjak menuju meja makan untuk makan malam bersama.
Tuan Adipura Sanjaya bukanlah orang tua yang kolot dengan berbagai macam aturannya yang harus di patuhi, pria paru baya tersebut termasuk tipe orang tua yang hamble dan pengertian.
Baginya dengan mengobrol ringan di sela makan bersama termasuk salah satu cara menjaga keharmonisan di antara anggota keluarga, mengingat setiap anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing dan hal itu membuat frekuensi pertemuan di antara anggota keluarga jadi berkurang. apalagi kini putra sulungnya, Hantara, kini tidak lagi tinggal bersama mereka di mansion. di sela waktu seperti saat ini anggota keluarga bahkan bisa menceritakan kesehariannya bahkan bisa berbagi solusi pada anggota keluarga yang lain.
Meskipun banyak mengobrol namun keluarganya sama sekali tidak bertanya tentang silsilah keluarga dari calon suaminya, karena tuan Adipura Sanjaya tidak pernah mengajarkan anak anaknya untuk melihat seseorang dari kastanya.
Bagi pria yang kini berprofesi sebagai pengusaha ternama di tanah air tersebut semua manusia sama di mata tuhan, hal itu yang selalu di pegang teguh olehnya hingga menurunkan prinsip itu pada anak anaknya.
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam Hantara pamit kembali ke rumahnya mengingat kini Asyifa telah tertidur. Gita nampak menggandeng tangan Akila sedangkan Hantara menggendong Asyifa yang sudah tertidur.
"Wajah gadis ini sangat mirip denganmu ketika masih kecil dulu Nak." Nyonya Merina berucap lirih saat memandang wajah Asyifa yang berada di gendongan Hantara.
"Mah." sela Hantara seolah tak ingin ibunya mulai lagi.
"Iya_ iya....maafkan mama." Nyonya Merina pun melangkah mendahului Putranya menuju ke arah menantu serta cucu kesayangannya yang lebih dulu keluar dari mansion.
"Cucu nenek jangan nakal, Akila harus patuh sama papa dan juga mama!!!" nyonya Merina nampak menasehati cucunya.
"Akila anak yang baik dan tidak nakal." timpal Gita seadanya.
Setelahnya mobil Hantara melaju meninggalkan gerbang mansion setelah lebih dulu berpamitan pada ayah, ibu serta adiknya.
Jalanan mulai nampak sepi meski waktu masih menunjukkan pukul sebelas malam. Hantara sedikit menambah kecepatan mobilnya sehingga dalam waktu kurang dari setengah jam mobil yang dikendarainya memasuki gerbang rumahnya.
Setibanya mobil suaminya di dalam gerbang rumah,Gita segera turun dari mobil dengan mengajak serta Akila sedangkan Hantara mengangkat tubuh Asyifa yang masih terlelap sejak di mansion tadi.
Setelah merebahkan tubuh Asyifa di ranjang Hantara belum juga beranjak dari kamar putrinya, pria itu memilih menjatuhkan bokongnya di sofa kamar Putrinya menunggu istrinya yang sedang menemaninya Akila menggosok Gigi sebelum tidur.
Tidak lama kemudian Gita dan Akila keluar dari kamar mandi. kini Akila nampak telah mengganti pakaiannya dengan sebuah piyama. Gita membantu Akila naik ke atas tempat tidur sebelum dia pun ikut naik ke ranjang, untuk menemani putrinya hingga tertidur.
Tak lama kemudian Gita mendengar suara hembusan napas Akila mulai teratur pertanda gadis itu telah memasuki alam bawah sadarnya. Gita pun segera turun dari tempat tidur. Setelahnya Gita merapikan selimut yang kini menutupi tubuh kedua putrinya sebelum mengecup puncak kepala Akila dan Asyifa secara bergantian.
__ADS_1
Hantara sungguh di buat tertegun melihat sikap hangat istrinya pada keduanya.