
Setelah usai makan malam keduanya kembali ke kamar setelah lebih dulu mampir ke kamar Akila dan Asyifa untuk memastikan jika kedua buah hati mereka telah tidur.
Entah karena lelah atau sengaja menghindari suaminya yang mungkin akan kembali meminta sesuatu, kini Gita nampak mulai merebahkan tubuhnya di ranjang setelah lebih dulu menggosok gigi serta mengoleskan skin care di wajahnya. kegiatan itu sudah menjadi rutinitas Gita setiap malam untuk merawat kecantikannya.
Meski telah di karuniai wajah cantik sejak lahir namun Gita tetap melakukan perawatan untuk merawat kulit wajahnya.
Hantara yang kini tengah duduk di sofa kamar terlihat menahan senyum saat melihat tingkah istrinya yang kini nampak menutup bagian tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Barulah Hantara tersenyum tanpa suara saat melihat Gita mulai memejamkan mata. pria itu bisa menebak jika saat ini istrinya itu khawatir, jika dirinya akan kembali meminta untuk di layani olehnya.
"Apa dia pikir aku serius dengan ucapanku di meja makan tadi." Hantara menggelengkan kepalanya sambil menarik sudut bibirnya ke samping. "Aku tidak sekejam itu sayang, mana mungkin aku tega di saat melihatmu sudah kelelahan seperti ini." lanjut Hantara dengan nada lirih sehingga tak terdengar oleh Gita.
Ketika melihat napas istrinya mulai teratur pertanda wanita itu telah terlelap dalam tidurnya, Hantara pun meraih ponselnya yang di letakan di atas nakas kemudian beranjak menuju ruang kerjanya.
Namun Sebelum beranjak Hantara mengecup kening istrinya. "Good night... sweet dream baby." ucap Hantara dengan nada lirih.
Hantara pun beranjak meninggalkan kamar menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai yang sama dengan kamar utama yang ia dan Gita tempati.
Setibanya di ruang kerjanya Hantara menjatuhkan bokongnya di kursi kerjanya, sebelum melakukan panggilan telefon pada seseorang yang tidak lain adalah Armada, Asisten pribadinya.
Baru sekali panggilan, Armada nampak langsung mengangkat panggilan dari tuannya.
"Bagaimana...?? apa kau sudah berhasil menemui pria itu??." tanya tanpa basa basi saat panggilannya tersambung dengan Armada.
"Kemarin saya sudah berhasil menemukan apartemen milik pria itu tuan, namun sejak kemarin pria itu sepertinya tidak kembali ke apartemennya." terang Hantara di seberang telepon.
__ADS_1
"Tapi ada satu berita yang kemarin saya dapatkan dari orang kepercayaan kita tuan." ucap Armada.
"Berita tentang apa???" tanya Hantara yang terdengar tidak sabar.
"Kemarin pria itu bertemu dengan mantan istri anda, Tuan." ucapan Armada membuat Hantara mengerutkan keningnya walau sebenarnya Armada tak akan melihat ekspresinya.
"Segera cari informasi terbaru!!." titah Hantara kemudian memutuskan sambungan telepon.
Hantara yang duduk di kursi kerjanya nampak memikirkan sesuatu."Ada hubungan apa Reva dengan pria itu??." gumam Hantara. "Apa mereka sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Gita??." jika di saat saat seperti ini pasti jiwa posesif Hantara kambuh. bukan tanpa alasan Hantara berpikir demikian, mengingat mantan istrinya itu sangat tidak suka dengan istrinya.
Merasa lelah dengan berbagai macam pemikiran dan dugaannya Hantara pun memutuskan untuk segera kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang mulai terasa lelah.
🌹🌹🌹
Setelah mengantarkan Akila dan Asyifa ke sekolah Hantara langsung melanjutkan perjalanan menuju perusahaan miliknya, karena hari ini pria itu belum mengizinkan istrinya untuk mulai kembali bekerja.
Seperti biasa saat tiba di perusahaan, Hantara pasti akan menjadi pusat perhatian kaum hawa mengingat ketampanannya yang begitu menggoda iman.
Tentunya mereka hanya dapat mengagumi serta menikmati ketampanan pria itu dari jarak jauh. mana ada pegawainya yang berani mendekati Hantara, selain di kenal dengan sikapnya yang begitu dingin pada pegawai wanitanya Hantara juga terkenal dengan sikapnya yang tegas.
Tiba di depan ruang kerjanya Hantara nampak di sambut oleh Armada yang kini tengah berdiri di depan pintu.
Hantara masuk ke dalam ruang kerjanya dengan di ikuti Armada di belakangnya. kening Hantara nampak berkerut saat melihat Riko sudah duduk di sofa ruang kerjanya sedangkan waktu kini masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. "Apa kau tidak punya kesibukan sampai harus datang sepagi ini??." ucap Hantara sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Ayolah kawan, hari ini aku sedang tidak ingin berdebat." jawab Riko dengan wajah serius sehingga membuat Hantara yang baru saja duduk di kursinya nampak menegakkan tubuhnya kemudian memandang sahabatnya itu.
"Ada apa??." kini guratan di wajah Hantara nampak serius.
Sebelum mulai bercerita Riko nampak menghela nafas dalam kemudian menghembusnya perlahan.
"Ayahku berniat menjodohkan aku dengan anak dari salah satu rekan bisnisnya." ucap Riko dengan wajah tak bersemangat.
"Lalu apa masalahnya??." tanya Hantara belum sepenuhnya mengerti dengan kegundahan hati Riko saat ini.
Riko nampak mendengus melihat Hantara yang tidak peka terhadap dirinya."Kau tahu sendiri meski aku sudah berpisah dengan Mona tapi bukan berarti aku bisa menerima perjodohan itu begitu saja. aku takut akan menyakiti hati istriku nantinya, jika aku belum bisa menerimanya sepenuh hati." Kini Hantara paham apa yang menjadi pusat permasalahan sahabatnya itu.
"Lagi pula aku juga tidak tahu apakah gadis yang akan menjadi calon istriku, bersedia menikah denganku atau hanya terpaksa bersedia menikah denganku karena ingin menuruti permintaan orang tuannya." lanjut Riko gamang.
"Aku juga pernah ada di posisimu saat ini, memang tidak mudah menjalani suatu hubungan dengan orang asing, apalagi hubungan itu adalah pernikahan. tapi satu yang harus kamu tahu, sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik di mata tuhan begitu juga sebaliknya." ucap Hantara. pria itu mencoba kembali mengingat kilas balik awal pernikahannya dengan sang istri.
"Di awal menikah dengan Gita beberapa bulan yang lalu, aku merasa menjadi pria yang paling menderita. bagaimana tidak, aku harus terpaksa menggantikan posisi Lesmana untuk menikahi calon istrinya. seorang gadis asing yang belum pernah aku temui sebelumnya. kau tahu, aku bahkan sengaja menghindari istriku di awal pernikahan kami. tetapi seiring berjalannya waktu entah mengapa aku merasa tidak suka jika ada pria lain yang mengagumi apalagi sampai mendekati istriku. hingga saat itu aku pun memutuskan untuk menjadikan Gita istriku yang sesungguhnya, dan sejak saat itu pula aku mulai menyadari perasaanku padanya." lanjut Hantara bercerita sedikit tentang pengalaman pribadinya pada Riko.
"Dan aku masih teguh pada prinsip hidupku, meskipun istriku belum mencintaiku aku akan tetap hidup bersama dengannya sampai suatu saat nanti, my wife say "I Love you my husband." lanjut ucap Hantara sembari tersenyum berharap hari itu akan segera tiba.
Riko nampak memijat pangkal hidungnya yang terasa mulai berdenyut.
"Intinya, kau tidak akan pernah tahu bagaimana ke depannya jika kau tidak pernah mau mencobanya. lagi pula jika kau menolak permintaan ayahmu untuk menikah Dengan gadis pilihannya, apa kamu ingin terus hidup di bawah bayang-bayang mantan kekasihmu itu??." Hantara mencoba memberi pengertian pada Riko, selain ingin sahabatnya itu segera menikah, Hantara juga tidak ingin Riko masih terus hidup di bawah bayang-bayang wanita ***_*** seperti Mona. wanita yang tidak pernah setia pada satu pria.
__ADS_1
Riko nampak diam seolah mencoba mencerna semua ucapan Hantara, sebelum kemudian pria itu pamit untuk kembali ke perusahaannya sebab sang ayah telah menunggu kedatangannya.