
"Bukan hanya pernah melihatnya bahkan kamu pernah menikmatinya." Ucapan Dimas selanjutnya membuat Renata tanpa sadar melempar sebuah bantal ke arah Dimas, untungnya pria itu dengan sigap menghindar, jika tidak sudah pasti bantal hotel tersebut akan mendarat cantik di wajah pria tampan tersebut.
"Apaan sih mas, bisa tidak kalau bicara di saring dulu!!." dengan wajah merah menahan malu Renata berucap.
Sementara Dimas yang lebih fokus mendengarkan Renata kembali memanggilnya dengan sebutan mas nampak tertegun untuk sejenak.
Dimas melangkah ke arah Renata yang kini tengah duduk di tepi ranjang, pria itu terlihat berjongkok seraya menatap intens wajah istrinya. Sementara Renata yang baru menyadari hal itu memilih menundukkan pandangannya.
Dimas mengangkat wajah istrinya yang tertunduk dengan jari telunjuknya." Terima kasih sayang karena bersedia menuruti permintaan mas." ucapnya sebelum mengecup kening Renata.
"Aku hanya tidak ingin di cap sebagai istri durhaka" hanya itu yang terlontar dari bibir Renata. meski begitu reaksi Renata tetap terlihat begitu menggemaskan di mata Dimas.
"Istriku sangat imut dan juga menggemaskan, kalau sikapnya terus mengemaskan begini bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya." batin Dimas seraya menghela napas berat, sebelum kemudian pandangannya tertuju pada perut Renata yang belum nampak terlalu besar.
"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu??." tanya Dimas seraya menatap perut istrinya.
"Tiga bulan." jawab Renata seadanya.
"Mas ingin besok kita pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan kamu!!." ajak Dimas dan Renata pun mengangguk setuju, mengingat sudah sebulan terakhir dirinya belum kembali memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan.
Setelahnya Dimas pun segera bangkit dari posisinya kemudian mengambil satu stel piyama dari dalam koper miliknya lalu ikut merebahkan tubuhnya di ranjang bersama sang istri.
__ADS_1
Entah bawaan bayi atau memang dirinya yang ingin berada dekat dengan suaminya, tanpa sadar Renata merubah posisinya agar mendekat pada tubuh Dimas. wanita hamil tersebut seolah begitu menyukai aroma tubuh suaminya.
Dimas awalnya di buat tidak percaya saat melihat posisi Istrinya sudah berada di bawah ketiaknya, namun selanjutnya Dimas kembali bersikap seolah tidak terjadi apa apa dengan membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
Walaupun di malam pengantin dirinya belum bisa kembali menikmati indahnya Nirwana bersama sang istri, namun bisa mendekap istrinya tercintanya seperti ini saja sudah membuat Dimas bahagia.
Meski tak bisa di pungkiri kini junior miliknya seolah meronta di dalam sana, apalagi posisi mereka saat ini Dimas bisa merasakan kedua benda kenyal milik istrinya.
"Sepertinya kau harus sedikit bersabar!!" Gumam Dimas seolah mengajak juniornya untuk berkomunikasi. untungnya saat ini Renata telah memasuki alam bawah sadarnya sehingga wanita itu tak dapat mendengarnya.
Di hotel yang sama namun di kamar yang berbeda, Gita terlihat seperti sedang berpikir saat suaminya sedikit bercerita tentang kondisi ibunda dari Dimas saat ini.
"Bagaimana mungkin mas, sewaktu di rumah sakit waktu itu tuan Dimas dan ibunya bahkan datang untuk membesuk seorang wanita hamil yang tengah mengalami kecelakaan, bahkan saat itu tuan Dimas yang mengaku sebagai kakak dari pasien yang menandatangani persetujuan operasi. dan saat itu aku ingat betul mas kondisi ibunya tuan Dimas dalam keadaan baik baik saja, jadi mana mungkin bisa mas mengatakan jika selama beberapa tahun terakhir ibunya tuan Dimas di rawat di sebuah rumah sakit jiwa akibat mengalami depresi??." kini gurat kebingungan terlihat jelas di wajah Gita, seolah tidak percaya dengan semua cerita suaminya.
"Bukankah mas sudah pernah menceritakannya sebelumnya padamu sayang??." kata Hantara ragu saat melihat raut kebingungan di wajah istrinya.
Gita terlihat Menggeleng pasti." entahlah mas, tetapi sepertinya baru kali ini mas menceritakannya padaku." jawab Gita.
Hantara nampak menghela napas." wanita itu bukanlah adiknya Dimas, wanita itu Maura mantan kekasihnya Dimas, setelah memutuskan untuk berpisah beberapa tahun lalu baik Dimas maupun Maura memilih tetap berhubungan baik tanpa saling menyimpan dendam. lebih tepatnya Dimas yang memutuskan hubungan mereka dengan alasan tidak ingin lebih lama menyakiti Maura dengan cinta semu miliknya." terang Hantara berdasarkan informasi yang beberapa hari di dapatkan Armada dan anak buahnya.
"Pantas saja saat itu golongan darah Milik pasien berbeda dengan golongan darah Milik tuan Dimas." ujar Gita teringat kejadian beberapa tahun lalu saat Dimas hendak mendonorkan darahnya pada pasien.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu mas minta kamu bersikap seolah tidak mengetahui apapun di depan Renata, sebelum mas mendapatkan semua bukti atas Fakta yang terjadi di masa lalu!!." pinta Hantara dan Gita pun mengiyakan permintaan suaminya itu.
"Baik mas." jawabnya.
Setelahnya Gita terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu." Semoga saja semuanya akan segera terkuak dan Renata tak lagi berpikir macam-macam apalagi sampai berpikir jika tuan Dimas menaruh hati padaku, mas." ucap Gita penuh harap.
"Mas pun berharap seperti itu, lagi pula mas tidak tega berlama lama melihat Renata yang tengah hamil berpikir yang bukan bukan pada suaminya. mas tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada calon keponakannya mas, akibat ibunya terlalu banyak pikiran apalagi sampai stres." ujar Hantara teringat wajah sendu adiknya sesaat sebelum akad nikahnya dan Dimas di langsungkan.
Keesokan harinya, hampir semua anggota keluarga Sanjaya telah berkumpul untuk menikmati sarapan yang telah di sediakan oleh pihak hotel, termasuk Dimas yang baru bergabung di dalam keluarga Sanjaya.
Sesaat kemudian, kedatangan Hantara dan keluarga kecilnya melengkapi formasi anggota keluarga Sanjaya.
"Maaf kami terlambat." ucap Hantara dengan nada datar seperti biasanya saat baru saja bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
"Tidak masalah nak, kami pun baru saja turun dari kamar beberapa menit yang lalu." jawab Nyonya Merina sebelum mengambil alih Asyifa agar duduk di kursi yang berada di sebelahnya, sementara Akila duduk di sebelah kiri Gita dan Hantara duduk di kursi yang berada di sebelah kanannya.
"Cucu nenek mau sarapan apa pagi ini???." tanya Nyonya Merina pada Asyifa.
"Apa aja nek, yang penting rasanya enak." jawaban polos Asyifa mengundang tawa mereka yang berada di tempat itu tak terkecuali Dimas yang merasa gemas dengan sikap Asyifa, Pria itu seperti sedang membayangkan bagaimana lucunya anaknya nanti jika Renata sudah melahirkan anak mereka ke dunia ini, jika anak mereka perempuan pasti akan seimut Asyifa.
Berbeda dengan sikapnya pada Gita yang masih jelas terlihat kebencian dari sorot mata Dimas terhadap wanita itu. tentunya sikap suaminya tersebut tidak luput dari perhatian Renata." Ada apa dengan mas Dimas, kenapa dia melihat Renata dengan tatapan seperti itu?? apa mas Dimas merasa cemburu karena saat ini Gita begitu mesra dengan mas Hantara??." begitu banyak pertanyaan yang kini berputar di pikiran Renata saat melihat tatapan dingin Dimas pada Gita, bahkan Renata sendiri sulit menebak arti tatapan suaminya terhadap kakak iparnya sehingga membuat wanita itu hanya bisa menebak dalam hati.
__ADS_1