Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Perasaan Aneh.


__ADS_3

Setelah Gita selesai dengan ritual mandinya giliran Hantara membersihkan tubuhnya sebelum nantinya akan kembali ke rumah sakit. sementara Akila di rumah bersama dengan Bu Dian serta beberapa ART lainnya. Hantara tidak begitu cemas meninggalkan putrinya di rumah mengingat kediamannya di jaga ketat oleh beberapa orang pengawal pribadinya.


Meski tidak terlalu suka aktivitasnya di ikuti oleh pengawal namun berbeda dengan kondisi di kediamannya yang selalu di jaga ketat oleh beberapa orang pria bertubuh Kekar demi keamanan keluarga kecilnya.


Namun Hantara seolah lalai, sampai lupa memberi pengawalan khusus pada kedua putrinya di sekolah sehingga sebuah kecelakaan menimpa Asyifa.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja di rumah, biar mas yang menjaga Asyifa di rumah sakit. lagi pula ada mama juga di sana." Hantara mencoba membujuk Gita karena melihat gurat lelah di wajah wanitanya itu.


"Tapi mas,,,,, bagaimana jika Asyifa sadar nanti dan mencari keberadaanku??" sejujurnya Gita pun merasa sangat lelah saat ini, apalagi sudah dua hari ini kepalanya sering terasa pusing.


Dengan posisi berjongkok Hantara menggenggam tangan istrinya yang kini tengah duduk di tepi ranjang." Mas janji Jika Asyifa sadar nanti mas akan segera mengabari kamu." ucap Hantara meyakinkan Gita. dan sepertinya usaha Hantara membuahkan hasil terbukti saat istrinya nampak mengangguk tanda setuju dengan usulan suaminya.


Hantara mengembangkan senyum di bibirnya saat melihat istrinya menurut padanya, sebelum pria itu merubah posisinya dengan berdiri. "Sebaiknya kamu segera makan malam, setelah itu istirahatlah!!!! mas nanti akan makan malam di bersama mama di rumah sakit." sebenarnya Hantara ingin menemani istrinya makan malam untuk memastikan karena sejak kemarin wanita itu selalu saja ogah ogah-ogahan untuk makan, tetapi karena pria itu harus segera pergi ke suatu tempat terpaksa Hantara tidak bisa makan malam bersama sang istri. lebih tepatnya makan malam yang hampir terlewatkan.


Tidak bisa di pungkiri oleh Gita, sebelum suaminya itu mengungkapkan isi hatinya sekalipun. Hantara selalu menunjukkan rasa cintanya lewat sikap dan perhatiannya. tetapi sebagai seorang wanita biasa, Gita pun tidak memungkiri jika ia butuh pengakuan cinta dari sang suami. dan setelah mendapatkan itu tentunya Gita merasa menjadi wanita paling beruntung di muka bumi ini, karena tuhan telah mengirimkan untuknya seorang pria tampan dan juga bertanggung jawab.


"Terima kasih Tuhan ternyata di balik musibah kehilangan mas Lesmana engkau menggantikannya dengan seorang pria sebaik mas Hantara." batin Gita saat keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju meja makan.


Baru saja tiba di meja makan tiba tiba Gita merasa perutnya sangat mual saat mencium Aroma masakan yang tersaji di atas meja makan. "Hoek,,,,Hoek,,,,Hoek,,,,,." Gita segera menuju kamar mandi yang terletak di area dapur untuk mengeluarkan isi perutnya yang ingin di keluarkan.

__ADS_1


Sementara Hantara segera mengikuti langkah istrinya. tanpa banyak bertanya Hantara memijat lembut tengkuk istrinya. setelah melihat istrinya berhenti mengeluarkan hampir semua isi perutnya, Hantara tak lagi dapat menahan diri untuk bertanya. " Ada apa denganmu sayang, kenapa bisa muntah muntah begini?? tanyanya dengan wajah cemas.


Sedangkan Gita hanya bisa menggeleng lemas di sisa tenaganya."Aku juga tidak tahu mas, mungkin hanya masuk angin biasa." jawab Gita setelah merasa lebih baik.


Hantara nampak mengangguk percaya pada istrinya mengingat semalam istrinya tersebut menginap di rumah sakit untuk menjaga putri mereka.


Hantara memapah tubuh Gita kembali ke meja makan. "Sekarang kamu makan ya, walau hanya sedikit!!." Bujuk Hantara namun sepertinya usahanya berakhir sia sia karena Gita kembali merasa perutnya mulai bergejolak saat mencium aroma makanan yang kenyataannya adalah masakan kesukaannya. dan hal itu sempat membuat Hantara bertanya tanya, namun karena banyaknya pemikiran yang kini mengisi kepalanya akhirnya kecurigaan pria itu berlalu begitu saja.


Pria itu memilih mengalah tak lagi memaksa istrinya untuk makan. namun sebelum mengantarkan Gita kembali ke kamar Hantara meminta bi Ela untuk membuatkan segelas susu untuk istrinya.


"Sayang mas pergi dulu." pamit Hantara setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya dan Gita pun mengangguk setelah mencium punggung tangan suaminya.


Pria itu pun segera meninggalkan kediamannya. seperti biasa Hantara lebih nyaman berkendara sendiri di banding harus di antar oleh seorang sopir. hanya sesekali Armada akan mengendarai mobilnya di saat saat tertentu. jika ada meeting di luar atau hal penting lainnya.


Kurang dari satu jam mobil yang di kendarai Hantara tiba di pelataran rumah sakit, saat hendak memarkirkan mobilnya perhatian Hantara tertuju pada sebuah mobil yang di yakini milik Mantan istrinya, Reva.


"Apa yang di lakukan Reva di rumah sakit malam malam begini??." gumam Hantara sebelum turun dari mobilnya.


Kedatangan Hantara di sambut oleh Armada yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk utama rumah sakit, karena sebelumnya Hantara telah mengabarkan jika ia akan segera tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Armada menunduk hormat saat Hantara tepat di hadapannya.


"Di dalam ada mantan istri anda, tuan." seperti itulah Armada, akan selalu melaporkan hal kecil sekalipun terhadap tuannya.


"Hemt ....Tadi Aku melihat mobilnya di parkiran. apa yang di lakukan wanita itu malam malam begini di rumah sakit, apa ada saudara atau kerabatnya yang sedang di rawat di sini??." tebak Hantara sembari melangkah memasuki pintu masuk utama rumah sakit.


"Sepertinya tidak tuan, nyonya Reva mengatakan jika ia datang ke rumah sakit ini untuk melihat kondisi Asyifa??." ucapan Armada sontak membuat Hantara menghentikan langkahnya seraya menoleh ke arah Armada.


"Saya sudah memerintahkan beberapa orang pengawal untuk berjaga di depan ruang ICU tuan dan tidak mengizinkan siapapun untuk mendekat." lanjut terang Armada seolah menjawab sorot mata Hantara.


"Bagus." jawab Hantara lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Maaf...aku tidak berniat jahat sama sekali, aku hanya ingin melihat kondisi anak itu" dengan pandangan tertunduk Reva berucap saat menyadari kedatangan Hantara. sedangkan Hantara hanya diam tidak memberi respon atas ucapan Reva.


Belum habis keterjutan Hantara dengan keberadaan Reva di rumah sakit malam ini, kini pria itu kembali di kejutkan saat melihat wajah mantan istrinya itu nampak merah seperti habis menangis. " ada apa dengannya??." batin Hantara, meski hatinya bertanya tanya namun berbeda dengan ekspresi wajahnya yang nampak datar.


Sadar jika Hantara tidak begitu suka dengan keberadaannya, Reva pun berniat untuk segera pergi.


"Ada apa denganku?? kenapa dadaku terasa sesak saat melihat anak itu terbaring tak berdaya seperti itu." Reva menepuk dadanya berusaha menghilangkan rasa sesak di dada. meski tak ingin namun kenyataannya wanita itu tak bisa menahan air matanya yang sejak tadi luruh begitu saja membasahi wajahnya.

__ADS_1


Setelah merasa perasaannya cukup tenang, Reva mulai menghidupkan mesin mobil lalu perlahan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah sakit dengan kecepatan sedang mobil yang di kendarai Reva membelah jalanan yang tak terlalu padat. mengingat saat ini telah menunjukkan pukul sebelas malam, mungkin sebagian besar penghuni ibu kota telah berbaring di bawah selimutnya.


__ADS_2