
Beberapa bulan berlalu, kini usia kandungan Gita telah memasuki bulan ke lima perutnya pun mulai terlihat semakin besar dari sebelumnya.
Hari ini jadwalnya Gita memeriksakan kandungannya, dengan di temani sang suami Gita menuju rumah sakit.
"Selamat pagi dokter." ucap Gita saat memasuki ruangan dokter kandungan.
"Selamat pagi tuan dan nyonya Hantara, silahkan duduk." Seorang dokter wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan ramah menyambut kedatangan mereka. sejak dua bulan terakhir Atala di tugaskan di pedesaan sehingga dokter wanita itu yang kini menjadi dokter kandungan Gita.
"Terima kasih." jawab Gita tak kalah ramah. Sementara Hantara hanya menanggapi sambutan dari dokter tersebut dengan senyum kecil sebelum kemudian menarik kursi untuk sang istri dan juga untuk dirinya.
"apa anda masih sering mual dan muntah di pagi hari nyonya??." Dokter bertanya kepada Gita.
"Alhamdulillah....kalau mual dan muntah frekuensinya tidak sesering trimester pertama dok." jawab Gita.
Bu dokter tersenyum ramah menanggapi jawaban Gita." Baik kalau begitu nyonya, nanti saya akan meresepkan beberapa Vitamin dan juga obat penambah darah agar anda tidak sampai mengalami anemia selama proses kehamilan." terang dokter sebelum berdiri dari duduknya.
"Mari Nyonya!!." ucap Bu dokter mempersilahkan Gita untuk naik ke ranjang untuk melakukan USG. karena hari ini kebetulan Jadwal melakukan USG bagi kandungannya untuk mengetahui perkembangan bayi di dalam kandungan.
Gita naik ke atas ranjang dengan di bantu oleh Hantara. Bu Dokter tersenyum melihat sikap Hantara yang begitu perhatian pada sang istri, bahkan pria itu kini memegang tas milik istrinya. mungkin saat ini dalam hati dokter wanita tersebut, kapan lagi bisa melihat seorang Hantara putra Adipura Sanjaya memakai tas wanita di pundaknya terlebih lagi tas berwarna pink.
Dokter pun mulai mengoleskan gel di perut Gita sebelum melakukan proses USG.
"Bagaimana kondisi anak kami dok??" Hantara yang sejak tadi lebih banyak diam pun kini mulai bertanya, ketika melihat calon anaknya mulai aktif bergerak melalui layar monitor.
"Kondisinya sehat dan bayinya mulai aktif bergerak." terang dokter sembari menggeser tak berarah alat di perut Gita seperti sedang mencari keberadaan sesuatu. "Sepertinya Dede bayinya sengaja membuat ayah dan ibunya penasaran dengan jenis kelaminnya." lanjut dokter.
"Mau laki laki atau perempuan Tidak masalah dok." jawab Hantara.
__ADS_1
"Tapi kalau di perhatikan wajah Dede bayinya sangat mirip dengan papanya." kata dokter setelah memperhatikan wajah bayi di dalam kandungan Gita yang sudah terbentuk wajahnya.
Mendengar penjelasan dari dokter seketika Hantara teringat akan sesuatu yang sudah beberapa bulan terakhir di alaminya.
"Apa karena wajahnya sangat mirip denganku sehingga istriku tidak suka dengan aroma tubuhku??." tebak Hantara dalam hati.
Sejenak Hantara nampak diam, setelah menimbang nimbang cukup lama akhirnya pria itu pun memutuskan untuk menanyakan sesuatu pada dokter."Bu dokter, apa di usia kandungan istri saya saat ini hubungan suami istri di perbolehkan??." Tanya Hantara dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti sedang bertanya tentang kabar seseorang tanpa beban sedikitpun.
"Mas...." Berbeda dengan Gita yang wajahnya kini berubah merah menahan malu, apalagi saat ini Bu dokter tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya.
"Mas hanya ingin memastikan sayang." Seketika raut datar di wajah Hantara berubah hangat saat berbicara dengan sang istri.
Helaan napas Gita terdengar berat, namun begitu Gita hanya bisa pasrah sembari menahan malu di depan Bu dokter serta dua orang perawat yang bertugas mendampinginya.
"Mengingat kondisi kehamilan istri anda baik baik saja tidak ada masalah maka di perbolehkan, asalkan di lakukan dengan hati hati agar tidak menyakiti istri dan calon anak di dalam kandungan." secara profesional dengan wajah ramahnya Dokter menjawab pertanyaan Hantara. sementara Hantara terlihat mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
Tiga puluh menit berlalu akhirnya sesi pemeriksaan serta konsultasi bersama dokter pun selesai. kini baik Hantara dan Gita keluar dari ruangan dokter dengan sebuah kertas resep yang kini berada di genggaman Hantara.
Kurang dari sepuluh menit akhirnya Hantara kembali menghampiri Gita dengan membawa kantong yang berisi beberapa Vitamin dan juga obat penambah darah.
"Sayang apa kamu lelah, apa perlu mas ambilkan kursi roda??." tanya Hantara saat mereka mulai melangkah.
"Oh Astaga,,,, aku ini hanya sedang hamil mas bukannya lumpuh, lagi pula hanya untuk sekedar berjalan aku masih sanggup." jawab Gita sambil mengembangkan senyum manis di wajahnya dan itu membuat Hantara di buat gemas melihatnya.
"Kamu benar benar mengemaskan." sebuah cubitan kecil mendarat di pipi Gita yang terlihat Mulai berisi.
"Menggemaskan dari mananya, orang gendut begini di bilang mengemaskan." sanggah Gita memasang wajah sebal. sementara Hantara hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang nampak begitu imut di matanya.
__ADS_1
Setibanya di mobil Hantara segera membukakan pintu mobil untuk Gita kemudian membantu wanitanya itu untuk masuk ke mobil, tak lupa Hantara memasang sit belt di tubuh sang istri. setelahnya barulah pria itu mengitari mobil kemudian duduk di balik kemudi.
Sebelum menghidupkan mesin mobil, Hantara menoleh sejenak ke arah samping di mana istrinya tengah berusaha membuka kemasan botol air mineral. "Sini biar mas saja." Hantara mengambil alih botol air mineral tersebut dari tangan Gita kemudian memutar segelnya, setelah memastikan kemasan telah terbuka ia kembali memberikannya pada sang istri.
"Terima kasih mas."
"Sama sama sayang." Hantara mengelus rambut Gita untuk beberapa saat, sebelum menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumah.
Di tengah perjalanan tiba tiba Gita menginginkan sesuatu." Mas boleh Tidak aku meminta sesuatu??." tanya Gita hati hati takut suaminya akan marah mengingat sebentar lagi pria itu akan segera ke perusahaan.
"Tentu saja boleh, memangnya apa yang kamu inginkan, sayang??." tanya Hantara yang kini menoleh ke arah istrinya.
"Pengen bakso mas." pinta Gita.
"Oh... hanya bakso mas kira kamu menginginkan nasi Padang yang di beli langsung di Padang, baiklah sekarang kita cari restoran yang jual bakso." ujar Hantara dengan wajah berbinar mengingat permintaan istrinya tidak sulit di dapatkan.
Dengan wajah sendu Gita kemudian menggeleng."Tidak mau, aku maunya kamu dan mama yang membuat baksonya." pintanya.
Seketika binar di wajah Hantara mulai pudar.
"Astaga sayang... apa tidak sebaiknya kita beli saja di restoran, kamu kan tahu sendiri mas tidak bisa memasak." ujar Hantara berharap Gita berubah pikiran.
"Ya sudah kalau mas tidak bisa, kita langsung pulang ke rumah saja." dengan wajah tak bersemangat Gita berucap dan hal itu membuat Hantara jadi tidak tega.
"Baiklah, sekarang kita ke mansion, mas akan meminta bantuan mama untuk mengajarkan mas cara membuat bakso." ucapan Hantara membuat senyum terbit di wajah cantik istrinya.
"Benar mas??." tanya Gita memastikan ucapan suaminya dan Hantara pun mengiyakannya. "Makasih ya mas." ucapnya dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Hantara terlihat menghela napas dalam kemudian menghembusnya perlahan.
"Sepertinya anakku memang sengaja ingin menyulitkan papanya." batin Hantara, namun begitu ia tetap tersenyum sembari melirik ke arah istrinya yang kini terlihat berseri.