
Seminggu berlalu.
Hubungan antara Hantara dan istrinya semakin baik saja, meski tak pernah sekalipun Hantara mengungkapkan perasaannya lewat kata kata. pria itu lebih memilih mengungkapkan perasaannya lewat sikap dan perlakuannya.
Gita yang hari ini tidak berangkat kerja karena sedang Free nampak sibuk membantu ART untuk memasak makanan untuk acara nanti malam, karena Hantara mengundang temannya dan juga kedua sahabatnya dari istrinya.
Acara dengan mengusung tema outdoor, mengingat taman belakang rumahnya cukup luas.
Gita melihat jarum jam yang menggantung di dinding telah menunjukkan pukul lima sore secara bersamaan Hantara baru saja kembali dari perusahaan.
Gita menyambut kedatangan suaminya dengan mencium punggung tangan Hantara dan di balas kecupan di keningnya oleh sang suami. kebiasaan tersebut sudah menjadi kebiasaan keduanya hampir setiap hari sejak seminggu terakhir.
Hantara tersenyum kecil kala melihat raut bahagia di wajah istrinya. pria itu sengaja mengadakan acara malam ini untuk istrinya, mengingat sudah cukup lama Gita tak menghabiskan waktu santainya dengan kedua sahabatnya.
Tidak ingin nampak seperti kambing congek di antara istrinya dan juga kedua sahabatnya, Hantara memilih mengundang Riko dan juga Damar. kalau Armada tidak perlu di tanya lagi kehadirannya, sudah pasti pria itu akan berada di sisi tuannya. tak lupa Hantara juga mengundang adik perempuannya. jika Renata hadir sudah pasti gadis itu akan mengajak serta sang kekasih, Dimas.
Tidak terasa waktu yang di tunggu Gita tiba, waktu kini menunjukkan pukul setengah delapan.
"Sepertinya aku datang terlalu cepat ya??." Anis yang tiba lebih dulu di banding yang lainnya.
"Sebentar lagi yang lain pasti akan segera datang." jawab Gita mengajak Anis ke taman belakang sembari membawa beberapa barang.
Setelah kepergian Gita dan Anis ke halaman belakang Hantara yang baru saja turun segera menghampiri Kedua sahabatnya yang baru saja tiba, namun keberadaan seseorang di Antara kedua sahabatnya membuat kening Hantara nampak berkerut. bagaimana tidak, Hantara tidak merasa mengundang pria itu lalu mengapa dia bisa hadir di rumahnya.
Dokter Atala, Riko dengan santainya mengajak serta adik sepupunya karena berpikir Atala juga merupakan kerabat Gita.
"Apa kau sengaja mengajaknya ke sini??." tanya Hantara dengan berbisik pada Riko. bukannya merasa bersalah atau semacamnya saat melihat raut wajah Hantara saat ini, Riko justru tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
"Aku kasian pada adik sepupuku yang jomlo itu jika harus melewati malam Minggu kelabu, itu sebabnya aku mengajaknya bersamaku." Riko pun menjawab pertanyaan Hantara dengan nada berbisik tanpa merasa bersalah karena sudah merubah suasana hati Sahabatnya itu.
"Ck." Hantara nampak berdecak kesal, namun begitu pria itu kembali bersikap biasa seolah kedatangan Dr Atala sama sekali tidak berpengaruhnya baginya.
Di sela obrolan santai ketiga pria dewasa itu, tiba tiba suara seseorang mengalihkan perhatian ketiganya ke sumber suara.
"Assalamualaikum" ucap Rahma yang baru saja tiba. gadis itu sudah menduga jika Riko pasti akan berada di sana mengingat pria itu merupakan salah satu sahabat dari Hantara. dan dugaannya pun tidak meleset.
"Waallaikumsalam." jawab ketiganya hampir bersamaan. berbeda dengan ketiga pria lainnya, Dr Atala bangkit dari duduknya menghampiri Rahma yang merupakan salah satu juniornya di kampus dulu.
"Hai Rahma lama tidak berjumpa." ucap Atala sembari mengulurkan tangannya pada Rahma.
"Hai juga kak Atala, iya yah sudah lama tidak berjumpa" jawab Rahma yang kini nampak tersenyum sembari menyambut uluran tangan Dr Atala. tanpa di sadari keduanya ada seseorang yang kini menatap tak suka dengan keakraban keduanya.
"Apa tidak sebaiknya kita segera ke taman belakang sekarang!! " sela Riko seolah tidak ingin berlama lama menyaksikan sesuatu yang membuat matanya sakit. dan Hantara pun mengiyakan ajakan Riko.
Hantara segera mengambil alih yang kini tengah di kerjakan istrinya dan meminta wanita itu untuk duduk bersama kedua sahabatnya.
kini Hantara yang di temani Riko dan Juga Damar nampak menyiapkan pembakaran sementara Dr Atala memilih bergabung dengan tiga orang wanita yang berprofesi sama dengannya yaitu Gita, Rahma dan juga Anis.
Tak selang berapa lama Renata yang di temani sang kekasih tiba di taman belakang setelahnya di ikuti oleh kedatangan Armada.
Renata dan Dimas langsung bergabung dengan Para dokter sedangkan Armada memilih bergabung dengan tuannya serta kedua sahabatnya.
Setelah pengapian siap Hantara mulai meletakkan beberapa daging stek serta seafood lainnya di atas pemanggang, sebelum pria melirik tajam ke arah Dr Atala yang kini nampak bercengkrama dengan sang istri bahkan sesekali istrinya nampak tersenyum lepas.
"Kalau bukan Tamu sudah ku panggang pria sia_lan itu." gumam Hantara dengan nada lirih, namun masih bisa di dengar oleh Riko yang posisinya berada di sisi kanan Hantara.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Hantara, Riko pun kini merasa menyesal karena mengajak serta adik sepupunya tersebut. entah apa yang kini dirasakannya sehingga membuat Riko tak suka saat melihat keakraban adik sepupunya itu dengan wanita yang merupakan calon istrinya.
Tidak berbeda jauh dengan Hantara, Riko sesekali melirik ke arah Dr Atala yang terlihat bercengkrama akrab dengan yang lainnya.
"Sialan." umpat Riko. entah apa yang kini di rasakan oleh Riko, yang jelas hatinya merasa tidak suka melihat kedekatan Rahma dengan adik sepupunya. apalagi Dr Atala tidak mengetahui hubungan Riko dan Rahma yang telah di jodohkan oleh kedua orang tuanya masing-masing.
Berbeda dengan kedua sahabatnya yang fokus bercengkrama, Anis justru tak fokus gadis itu malah sibuk melirik ke arah pangeran idamannya.
"Arrggggtttt....kenapa dia terlihat tampan sekali." puji Anis dalam hati saat mencuri pandang ke arah Armada, gadis itu bahkan terlihat senyum sendiri.
Gita yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Anis itu pun mengikuti arah pandang Anis.
"Pak Armada." Batin Gita saat mengikuti arah pandang Anis. "Apa Anis tertarik pada pak Armada??." lanjut tebak Gita, mengingat tatapan Anis pada Armada tersirat dalam.
Setelahnya mereka pun makan malam bersama dengan tema outdoor dengan menggelar tikar di bawah sinar rembulan yang tidak nampak malu malu memancarkan sinarnya.
Di tengah makan malam, tiba tiba Anis yang kadang ceplos mengucapkan sesuatu yang mampu membuat seseorang tersedak.
"Rahma Aku lihat kau sangat cocok dengan Dr Atala, apalagi kalian sama sama jomlo kan??." seloroh Anis spontan membuat Riko tersedak makanannya.
"Uhuk." Damar segera menyerahkan segelas air pada Riko. "Makanya makannya pelan pelan." kata Damar sembari memberikan segelas air serta beberapa kali tepukan di punggung Riko. sedangkan Rahma merasa kini tubuhnya mulai menegang saat tatapan tajam Riko tertuju padanya, untungnya tak ada yang menyadari itu.
"Anis Kamu bisa saja, mana mungkin gadis secantik Rahma belum ada yang punya." Dr Atala menanggapi ucapan Anis dengan mengembangkan senyum di wajah tampannya. "Tetapi jika ternyata memang belum ada yang punya, kenapa tidak, lagi pula pria mana yang mampu menolak pesona gadis secantik Rahma." Seloroh Dr Atala namun mengandung makna dalam di setiap katanya.
Untuk kedua kalinya Riko tersedak. "Uhuk." Riko segera meraih gelas pemberian Damar tadi yang masih terisi setengahnya.
"Ada apa denganmu kawan??." tanya Damar melihat tingkah Riko yang berbeda dari biasanya. Di mata Damar malam ini Riko sangat aneh.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa." jawab Riko, namun pria itu tak lagi berniat menghabiskan makanan yang baru disentuh sedikit olehnya.