
Meski kisah asmaranya tidak sebaik karirnya namun Anis tetap bersyukur karena di usianya yang sudah menginjak dua puluh empat tahun ia bisa membeli sebuah apartemen dari hasil tabungannya sendiri.
Di pagi yang cerah Anis di temani oleh sang adik tercinta untuk mendatangi salah satu gedung apartemen yang beberapa Minggu kemarin baru saja di belinya.
Anis sengaja memilih apartemen yang letaknya tak jauh dari tempatnya bekerja. Hanya perlu waktu sekitar dua puluh menit mengendarai sepeda motor jarak antara apartemen menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
Awalnya kedua orang tuanya tidak mengizinkan Anis untuk tinggal terpisah dari mereka namun setelah melewati drama yang cukup lama dan panjang akhirnya kedua orang tuanya akhirnya mengizinkannya untuk menempati apartemen miliknya.
"Berat juga." Celoteh Anis saat membawa barang bawaannya. Bahkan Anis sampai tak bisa melihat ke depan saat membawa dos yang berisikan barang barangnya seperti Beberapa buku serta novel dan yang lainnya. Memiliki hobi mengabiskan waktu luang membaca novel membuat Anis memiliki cukup banyak koleksi Novel.
"Kak hati hati jalannya." tegur Anin yang merupakan adik Anis, saat melihat langkah Anis mulai sempoyongan. Bukannya tidak ingin membantu Anis, namun saat ini di tangan Anin pun tak sedikit barang barang milik kakaknya.
"Ini juga sudah hati hati Nin."
Baru juga mengatakan hal itu tiba tiba suatu kejadian yang tidak di inginkan pun terjadi sehingga membuat semua barang bawaannya berserakan di lantai.
"Bruk."
Tidak sengaja Anis menabrak tubuh tegap seseorang yang kini baru saja keluar dari balik kotak besi.
"Arrrggghhh." ringis Anis saat separuh dari barang bawaannya mendarat cantik menindih kaki mungilnya.
"Maafkan saya Nona, karena tadi saya sedang buru buru."
Suara bariton seseorang membuat Anis yang kini terduduk di lantai sontak mengangkat pandangannya menuju sumber suara berasal.
"Anda." Anis di buat terkejut saat mengangkat pandangannya ke depan.
Anis kini merasakan rasa senang sekaligus malu Secara bersamaan. Ia Merasa senang karena ternyata pria itu tak lain adalah pria pujaan hati yakni Armada, dan ia pun merasa malu karena bertemu dengan sang pujaan hati dalam kondisi memalukan seperti ini.
Bagaimana tidak, saat ini Anis terduduk di lantai layaknya sus_ter ngesot.
"Nona Anis." ujar Armada saat menyadari jika wanita itu adalah Anis, seorang wanita yang bersahabat baik dengan istri dari tuannya.
__ADS_1
Saking terpana melihat ketampanan Armada yang kini mengenakan stelan jas hitamnya membuat Anis terpaku untuk beberapa saat.
Bahkan saat Armada menanyakan keadaannya Anis hanya diam saja seraya menatap kagum ke arahnya.
"Kak Anis." barulah saat Anin menggoyangkan bahunya Anis tersadar lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah karena malu ketahuan menatap kagum ke arah Armada.
"Apa anda baik baik saja Nona, apa ada bagian tubuh anda yang terluka??." Armada kembali mengulang pertanyaannya karena melihat Anis masih diam saja.
"Aaaa iy_iya ....aku baik baik saja tuan Armada." Anis pun segera berdiri dari posisinya saat ini.
"Bahkan saya sedang baik baik saja karena pagi ini saya bisa bertemu dengan anda tuan Armada." lanjut batin Anis seraya menampilkan sebuah senyum termanis miliknya.
Bahkan rasa sakit pada bokongnya tak lagi di pedulikan oleh Anis saat Armada memberi perhatian dengan menanyakan keadaannya. Padahal sebenarnya wajar saja jika Armada bertanya tentang keadaannya usai insiden tadi.
"Sekali lagi saya minta maaf Nona Anis." sekali lagi Armada mengucapkan permintaan maaf pada Anis sebelum kemudian pamit pada gadis itu karena ada sesuatu yang harus segera berangkat ke perusahaan.
"Rasanya bokongku mau patah." keluh Anis saat kembali melanjutkan langkahnya setelah kepergian Armada tentunya.
"Kak Anis gimana sih, katanya tadi baik baik saja sekarang malah mengeluh bokongnya serasa mau patah." omel Anin saat melihat sikap aneh kakaknya.
Anin yang melihat sikap Anis yang menurutnya semakin aneh saja apalagi sampai mengatai dirinya anak kecil padahal saat ini ia telah duduk di bangku SMA nampak mengerucutkan bibirnya.
Selama berada di dalam lift Anis terus tersenyum sendiri karena membayangkan kemungkinan dirinya dan pujaan hati tinggal di apartemen yang sama.
Anin yang sejak tadi terus memperhatikan gelagat kakaknya menggelengkan kepalanya.
"Ternyata seorang dokter pun bisa sakit ya."
"Maksudnya??." tanya Anis dengan wajah bingung dengan statement adiknya.
"Habisnya sejak tadi Anin perhatikan kakak senyum sendiri."
"Enak saja, jadi maksud kamu kakak sakit jiwa begitu??" tebak Anis dengan tatapan sebal dan Anin hanya tersenyum saja mendengarnya.
__ADS_1
Kalau saat ini tangan Anis tidak di penuhi oleh barang bawaannya bisa di pastikan sebuah toyoran akan mendarat cantik di kepala Anin karena mengatai dirinya sakit jiwa.
"Seandainya kau tahu dek, jatuh cinta bahkan lebih parah dari sakit jiwa." batin Anis yang lagi lagi mengembangkan senyum di wajahnya.
***
"Maaf tuan saya terlambat lima menit." Armada menundukkan kepalanya tanda permintaan maaf karena telat lima menit tiba di perusahaan.
"Tidak masalah, lagi pula kita baru akan berangkat ke perusahaan Abraham Group sepuluh menit lagi. Tapi ini bisa di jadikan kejadian langka dalam sejarah hidup kamu Armada, karena ini pertama kalinya kamu datang terlambat meski hanya lima menit." jawab Hantara yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Aku jadi penasaran apa yang membuatmu sampai bisa terlambat hari ini." lanjut ujar Hantara yang tersirat makna dalam.
"Sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan saya tuan."
Hantara hanya tersenyum saja mendengar Armada yang terus meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan.
Tepat pukul delapan kurang sepuluh menit Hantara yang di temani oleh asisten pribadinya, Armada berangkat menuju perusahaan milik keluarga Riko untuk membahas tentang proyek yang akan mulai mereka kerjakan Minggu depan.
Setibanya di perusahaan Abraham Group, Hantara dan timnya langsung di persilahkan memasuki ruang meeting berada, di mana sejak beberapa menit yang lalu Riko telah menunggu kedatangannya.
Jika sedang dalam mode bekerja seperti ini baik Hantara maupun Riko akan bersikap profesional. Cukup lama kedua belah pihak membahas tentang proyek yang di maksud sampai dengan meeting usai setelah menemukan satu kesepakatan yang di sepakati oleh kedua perusahaan.
Setelah selesai meeting, Riko mengajak sahabatnya itu menuju ruang kerjanya berada untuk sekedar mengobrol santai sedangkan Armada memilih menunggu di mobil.
Banyak yang menjadi topik pembicaraan keduanya di pagi menjelang siang hari itu, mulai dari rencana Riko yang ingin membuka bisnis baru di bidang kuliner hingga pertanyaan Hantara yang membuat kerutan halus terukir di wajah Riko ketika Hantara mempertanyakan tentang keberadaan Mona yang ternyata telah kembali ke tanah air sejak beberapa bulan terakhir.
Sejujurnya Riko sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu tentang kepulangan mantan kekasihnya itu. Baginya Mona hanyalah masa lalu yang harus di kubur dalam dalam. Meskipun pernikahannya dan Rahma tidak berjalan semanis rumah tangga pada umumnya, namun Riko tidak berniat mengkhianati ikatan suci pernikahan selama ia masih berstatus seorang suami dari Rahma
Di tengah obrolan keduanya tiba tiba pandangan Hantara tertuju pada telapak tangan Riko yang kini tengah di balut perban.
"Jangan bilang kau main fisik pada istrimu??." tebak Hantara dengan nada sinis, seolah tak suka jika tebakan sampai benar.
"Aku bukan pria brengsek yang suka main tangan pada wanita, apalagi wanita itu berstatus istriku sendiri." jawab Riko yang tidak terima dengan tudingan Sahabatnya itu.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya sayang sayangku 😘🥰🙏
Untuk kisah Riko dan Rahma, sudah mulai launching ya dengan judul TRUST ME PLEASE. Thank you sudah meluangkan waktu untuk membaca karyaku yang masih jauh dari kata sempurna ini 🙏🙏🙏🙏