
Setibanya di kantor Nampak Armada berdiri di depan gedung perusahaan menanti kedatangan tuannya.
Hantara yang kini mengenakan setelan jas berwarna biru langit terlihat gagah ketika turun dari mobil mewah miliknya. pemandangan seperti ini yang selalu di nantikan oleh hampir semua pegawai wanita di perusahaannya. melihat wajah tampan pemilik perusahaan bisa menjadi vitamin tersendiri bagi mereka.
"Pesona tuan Hantara memang tidak ada matinya." bisik bisik para karyawati saat melihat Hantara melintasi lobi.
"Ini nih yang di namakan duren sawit (duda keren sarang duit) tidak kebayang kalau aku jadi istrinya." batin salah satu karyawati yang mencari nafkah di gedung perusahaan miliknya Hantara. hampir semua pegawai di perusahaan tersebut belum mengetahui kabar tentang pernikahan bos mereka. itu sebabnya mereka menganggap jika Hantara masih berstatus duda.
"Anda di sini untuk bekerja Nona jadi sebaiknya jangan berpikir yang tidak tidak!!." seorang karyawati yang tengah berdiri sembari menatap punggung Hantara di buat terkejut dengan ucapan Armada yang bernada sindiran saat melintas di hadapannya.
Wanita itu nampak tersenyum kaku, apalagi saat ini tatapan Armada begitu dingin.
"Apa tuan Armada bisa membaca pikiran orang??." batin Wanita itu sembari melanjutkan langkahnya menuju lift sedangkan Hantara dan Armada berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan.
Hantara nampak menarik ke samping sudut bibirnya ketika menyadari apa yang baru saja di lakukan Armada pada salah satu pegawainya.
"Kau menakutinya." ucap Hantara saat Armada mulai menekan tombol lift. dengan ekor mata Hantara dapat melihat ketakutan di wajah wanita itu saat mendengar sindiran dari Armada tadi.
"Maaf tuan...saya hanya melakukan sesuatu yang sudah seharusnya saya lakukan." jawab Armada seadanya. dan itu membuat Hantara menggelengkan kepalanya.
"Jika sikapmu sedingin itu pada wanita, mana ada wanita yang mau dekat-dekat denganmu." ucap Hantara datar.
"Maaf tuan." hanya itu yang keluar dari mulut Armada, karena tidak berminat untuk membahas masalah wanita.
"Sepertinya anda sudah lupa dengan sikap dingin anda sebelum bertemu dengan Nona Gita, tuan, sampai anda harus memperingatkan saya tentang sikap dingin pada wanita." tentu saja ucapan itu hanya terlontar di dalam hati Armada.
__ADS_1
Hantara yang di dampingi oleh Armada berjalan menuju ruang rapat di mana ketua dari bagian Divisi masing-masing telah menunggu kedatangannya. enam puluh menit kemudian meeting pun selesai dengan hasil yang telah di sepakati.
Kini Hantara berjalan meninggalkan ruang rapat menuju ruang kerjanya dan Armada masih setia mendampingi langkahnya.
Armada nampak membuka pintu ruang kerja milik Hantara dan mempersilahkan empunya masuk terlebih dahulu. Hantara nampak membuka kancing jasnya sebelum menjatuhkan bokongnya pada Kursi kebesarannya.
Armada menyerahkan beberapa dokumen yang harus segera di tanda tangani oleh Hantara selaku pimpinan perusahaan.
"Satria Prayoga Group." ucap Hantara saat membaca salah satu dokumen yang bertuliskan nama dari salah satu perusahaan yang akan segera melakukan kerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Kapan kita bisa bertemu dengan pimpinan dari perusahaan Satria Prayoga Group???". tanya Hantara pada Armada untuk memastikan.
"Lebih cepat lebih baik tuan, karena pemilik perusahaan Satria Prayoga Group sudah tidak sabar untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Putra Adiputra Sanjaya group." jawab Armada sesuai dengan permintaan dari pimpinan perusahaan Satria Prayoga Group.
"Kosongkan jadwalku siang ini, lalu hubungi pihak Satria Prayoga Group untuk bertemu di restoran XX untuk membahas tentang kerja sama dengan perusahaan kita!!." titah Hantara sebelum kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
🌹🌹🌹
Di meja kerjanya usai menangani pasien, Gita nampak memeriksa beberapa status reka medik pasien. Gita mengangkat pandangannya di saat seseorang merampas map yang berisi reka medik pasien dari tangannya.
"Apa yang anda lakukan Dr Siren, sikap anda sangat tidak sopan." tegur Gita. meski sempat geram dengan sikap wanita itu namun Gita tetap menanggapinya dengan wajah tenang.
"Dokter Gita.... Dokter Gita...anda tidak perlu bekerja terlalu keras, karena semua itu tidak akan berpengaruh terhadap karir anda di rumah sakit ini. jangan pernah bermimpi untuk bisa mengalahkan saya dalam bidang apapun, karena itu tidak akan pernah berhasil. " ucap Dr Siren meremehkan kerja keras Gita selama ini. Sadar jika saat ini Dr Siren sengaja ingin memancing amarahnya, Gita hanya menanggapi nya dengan sebuah senyuman.
"Terserah apa kata anda Dr Siren yang jelas sebagai seorang dokter saya hanya ingin memberikan dedikasi yang baik selama bekerja di rumah sakit ini." jawab Gita dengan nada setenang mungkin. sedangkan wanita itu nampak semakin geram karena merasa usahanya untuk memancing amarah Gita tidak berhasil.
__ADS_1
"Ingat Dr Gita...!!! kepala Dirut rumah sakit ini merupakan sahabat ayah saya, tidak sulit untuk saya meminta kepala Dirut rumah sakit untuk memindah tugaskan anda ke pelosok." ancam Dr Siren.
"Silahkan saja jika anda ingin melakukannya." jawab Gita sebelum ia berdiri dari duduknya kemudian meninggalkan Siren begitu saja. sedangkan Dr Siren nampak semakin geram saat Gita meninggalkannya begitu saja.
"Awas saja kamu Dr Gita." geram Dr Siren saat melihat Gita melangkah menghampiri Anis.
"Ada apa, apa wanita gila itu menganggumu lagi??." tanya Anis saat Gita menghampiri dirinya. Anis sejak tadi memperhatikan keduanya dari jarak yang lumayan jauh, sehingga gadis itu tidak dapat mendengar obrolan di antara Gita dan Dr Siren.
"Dr Siren mengancam akan meminta Dirut untuk memindah tugaskan aku ke pelosok." jawab Gita seadanya. Anis tersenyum miring saat mendengarnya.
"Apa aku tidak salah dengar??? seandainya saja wanita sin_ting itu tahu siapa kamu sebenarnya, aku rasa dia akan berpikir seribu kali untuk berurusan denganmu." lanjut Anis sambil membayangkan bagaimana reaksi Dr Siren jika tahu Gita adalah istri dari Hantara Adipura Sanjaya yang notabenenya adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.
Gita yang tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman Dr Siren kembali mengajak Anis melanjutkan aktivitas mereka.
🌹🌹🌹
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda seorang gadis bernama Rahma tengah berada di bandara. gadis itu akan bertolak dari kota Surabaya menuju ibukota Jakarta.
Rahma berjalan sambil menarik koper besar miliknya menuju terminal keberangkatan menuju kota Jakarta. berjalan sembari menatap layar ponselnya membuat Rahma tidak fokus hingga tanpa sengaja menabrak punggung seseorang, sampai membuat ponselnya jatuh dan berserakan di lantai.
"Astaga ponselku..." ucap Rahma. secara spontan gadis itu merunduk untuk memungut puing puing ponselnya yang berserakan di lantai. Pandangan Rahma jatuh pada pantofel seseorang tepat di hadapannya. perlahan Rahma mengangkat pandangannya hingga memperlihatkan seorang pria yang kini tengah berdiri membelakangi dirinya.
Pria itu pun membalikkan badannya menghadap Rahma sambil membuka kaca mata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya.
"Apa anda tidak bisa menggunakan mata anda dengan baik Nona??." nada ucapan pria itu terdengar menyindir, sehingga membuat Rahma tersenyum miring seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
Rahma nampak berkacak pinggang."Hei tuan....anda yang sudah membuat ponsel saya sampai terjatuh dan anda justru menyalahkan saya." Ujar Rahma Tidak habis pikir. suara cempreng Rahma memancing perhatian salah satu security yang bertugas, hingga keduanya terpaksa harus diamankan oleh petugas keamanan bandara sebab tak ada satu pun yang mau mengalah.