Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Janji.


__ADS_3

"Are you okay???." Riko menanyakan kondisi Rahma setelah kepergian wanita sombong tadi.


"Ok...btw thanks." jawab Rahma. kini suasana di antara keduanya terasa canggung untuk sejenak, tak seperti biasanya saat keduanya bertemu.


"Apa kau makan siang di sini juga??." tanya Riko sedikit tidak percaya mengingat letak restoran tersebut cukup jauh dari rumah sakit tempat Rahma bekerja hampir dua Minggu terakhir.


Gadis itu nampak menggeleng namun pandangan Riko tertuju pada bungkusan yang kini berada di tangan gadis itu. tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan gadis itu, Riko memilih tidak bertanya.


Setelahnya Riko kembali ke mejanya ketika Rahma telah berlalu meninggalkan restoran.


"Jika aku ada di posisi gadis itu bisa di pastikan sebuah tamparan mendarat di wajahmu." umpat Damar saat Riko kembali bergabung bersama mereka. "Seenaknya saja mengakui anak gadis orang sebagai calon istri." lanjutnya tidak habis pikir dengan sikap Riko tadi.


Berbeda dengan Damar yang menyangka Riko sedang melakukan kebiasaannya yaitu modus pada seorang gadis, Hantara justru bisa melihat kebenaran di mata Riko.


"Jadi Rahma adalah calon istri pilihan ayahnya Riko." tebak Hantara dalam hati seraya menatap Riko yang tengah melanjutkan makannya.


Sedangkan Riko sendiri hanya diam seolah menganggap ucapan Damar hanyalah angin lalu.


Kurang lebih dua puluh menit setelahnya, ke empat pria itu segera meninggalkan restoran dan kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.


🌹🌹🌹


Dengan langkah cepat Rahma menuju ke ruang IGD mengingat sebentar lagi jam istirahatnya akan segera selesai dan giliran dokter jaga di IGD yang lainnya yang akan makan siang. mengingat ruang Instalasi Gawat darurat tidak memungkinkan di tinggalkan serentak oleh dokter jaga dan juga perawat yang bertugas.


"Sudah setengah dua siang, mana aku belum sempat makan siang." gumam Rahma di sela langkahnya saat melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Napas Rahma terdengar ngos-ngosan saat tiba di ruang IGD. "Ini pesanan anda Dr Siren." dengan seulas senyum Rahma menyerahkan bungkusan plastik ke arah Dr Siren.

__ADS_1


Bukannya menerima bungkusan tersebut, Dr Siren malah nampak mengerutkan hidungnya seraya bersekedap dada." Maaf Dr Rahma sepertinya selera makan saya sudah hilang karena terlalu lama menunggu." jawabnya tanpa merasa bersalah sehingga membuat kedua bola mata Rahma tanpa sadar membulat sempurna seraya berkata. "Apa??." namun beberapa saat kemudian Rahma kembali bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa apa.


"Baiklah, jika anda tidak berselera Bu Dr, kebetulan aku sendiri belum makan siang." sembari mengembangkan senyum terindahnya Rahma berucap. meskipun saat ini suasana hatinya tidak seindah senyum yang terukir di wajahnya.


"Sepertinya wanita ini sengaja mengerjai aku. kita lihat saja sampai di mana usaha wanita itu untuk terus mengerjai aku." batin Rahma seraya melangkah menjauh dari Dr Siren yang kini menatap tak suka padanya.


"Pantas saja mereka bersahabat, sikapnya saja tidak jauh berbeda dengan Gita, sama sama norak" gumam Dr Siren sembari menatap punggung Rahma yang semakin menjauh darinya.


Rahma yang sudah seminggu terakhir bekerja di rumah sakit yang sama dengan kedua sahabatnya di tempatkan di IGD sedangkan Anis sejak seminggu terakhir kembali menjadi asisten dokter mendampingi dr Atala SpOG di poli.


Kebetulan tadi pagi saat melintas di koridor rumah sakit tanpa sengaja Dr Siren melihat keakraban di antara Anis dan Rahma saat keduanya membahas tentang Gita, dari situlah terbesit di hati Wanita itu untuk mengerjai Rahma.


Setelah berada cukup jauh dari dr Siren, Rahma pun terdengar menggerutu tidak jelas dengan mengerucutkan bibirnya.


🌹🌹🌹


Sore harinya.


"Bagaimana kau bisa masuk??." tanya Dimas saat mendapati Renata berada di dalam apartemen miliknya.


Sikap pria itu berubah drastis sehingga membuat kening Renata berkerut bingung. "Ada apa denganmu mas, apa kau marah karena aku masuk ke dalam apartemen kamu mas??." tanya Renata dengan wajah tak percaya.


"Bukan begitu sayang, aku hanya terkejut saja. bagaimana bisa kamu datang ke sini tanpa memberi kabar lebih dulu." Kini Dimas telah merubah ekspresi wajahnya dengan sebuah senyum di wajah tampannya.


"Sayang aku lapar, sebaiknya kita cari makan dulu." ajak Dimas kemudian, seraya menuntun Renata untuk segera keluar dari apartemennya.


Meski bingung dengan sikap kekasihnya namun Renata tidak menolak permintaan Dimas untuk segera meninggalkan apartemen.

__ADS_1


Kurang dari dua puluh menit mobil yang di kendarai Dimas pun kini tiba di sebuah restoran. pria itu segera turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.


Di sela langkah menuju pintu masuk restoran tiba tiba ponsel Dimas bergetar tanda notifikasi pesan masuk di aplikasi hijau miliknya.


"Semua sudah saya amankan tuan." nampak seulas senyum lega di wajah Dimas usai membaca pesan yang batu saja di kirimkan asisten pribadinya.


Sementara Renata yang menyadari Dimas tak lagi melangkah bersama dengannya nampak menoleh ke belakang." Ada apa sayang??." tanya Renata namun dengan cepat Dimas menggeleng. " tidak ada apa apa sayang, ayo sayang!!." jawab Dimas, lalu segera menyusul langkah Renata kemudian merangkul pinggang kekasihnya itu dengan posesif.


Dimas menuruti permintaan kekasihnya yang memilih meja yang berada paling sudut agar bisa menyaksikan pejalan kaki yang berlalu lalang dari balik dinding kaca.


"Mas, seperti yang kamu katakan beberapa bulan yang lalu, bahwa kamu akan segera melamarku untuk menjadi istri kamu." pernyataan Renata seolah mengingatkan Dimas akan janjinya beberapa bulan lalu sebelum Dia memperkenalkan Dimas pada keluarganya.


"Sayang, kamu tahu sendiri kan akhir akhir ini mas tengah sibuk mengurus kerja sama dengan beberapa perusahaan besar di tanah air dan salah satunya adalah perusahaan milik kakak kamu, Putra Adipura Sanjaya group." Dimas mencoba memberi pengertian pada Renata, dan jika sudah seperti ini Renata tak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan dari kekasihnya.


"Baik mas, tapi aku harap kamu bisa segera menepati janji kamu mas, bukan apa apa mas aku hanya tidak ingin mas Hantara menjudge kamu sebagai pria tidak bertanggung jawab nantinya karena aku sudah terlanjur mengatakan hal ini pada kedua orang tuaku dan juga kakakku." kini giliran Renata yang mencoba memberi pengertian pada Dimas.


Bukannya Renata sudah tak sabar ingin segera menikah dengan Dimas, hanya saja Renata tidak ingin kakaknya, Hantara berpikir jika dirinya salah memilih calon pasangan hidup, yaitu seorang pria yang tidak ingin berkomitmen untuk menjalani ikatan suci pernikahan.


"Maafkan aku Renata." batin Dimas. entah mengapa wajah Dimas kini berubah sendu saat melihat kesungguhan di wajah kekasihnya itu.


Tidak ingin terjadi perdebatan panas di antara dirinya dan sang kekasih, Renata memilih segera menyantap makanannya setelah di hidangkan oleh pelayan restoran.


"Ayo di makan makanannya mas!! bukannya kamu bilang tadi kamu lapar." seru Renata saat melihat Dimas bahkan belum menyentuh makanannya.


"Ah...iya sayang." jawab Dimas yang baru tersadar dari lamunannya.


Tiga puluh menit berlalu, baik Renata maupun Dimas telah selesai menyantap makanannya.

__ADS_1


Renata memilih untuk segera pulang dengan di antarkan oleh Dimas, namun saat di perjalanan nyonya Merina menelpon dan memintanya untuk mampir sebentar ke rumah kakaknya untuk melihat kondisi Kakak iparnya yang tengah hamil muda tersebut.


Jangan lupa like, koment, Vote and subscribe yang sayang sayangku...!!! biar aku makin semangat lagi nulisnya.🥰🥰😘😘😘😘😍😍😍😍


__ADS_2