Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Dua kabar berbeda.


__ADS_3

"Aku sungguh minta maaf padamu karena tidak bisa menjaganya dengan baik." tidak bisa di pungkiri sebagai seorang ibu, Reva pun merasa menyesal akan perbuatannya di masa lalu. sebuah kebodohan yang dilakukannya akibat pria bermata Andika Mahendra menolak menikahinya.


Hantara yang kini nampak geram menahan amarah segera memberi perintah melalui sorot mata serta melambaikan tangan ke udara pada Armada.


Beberapa saat kemudian Armada kembali ke ruangan itu dengan membawa serta seseorang yang mampu membuat Reva terkejut bukan main.


Wanita itu menatap ke arah seorang pria yang baru saja memasuki ruangan itu bersama dengan Armada kemudian kembali menatap ke arah Hantara. tersirat begitu banyak pertanyaan dari sorot matanya.


"Bagaimana dia bisa ada disini???." Tanya Reva yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.


Bukannya menjawab Hantara malah melontarkan kalimat yang membuat keduanya kompak bergidik ngeri. "Aku tidak mau tahu hubungan apa yang pernah terjalin di antara kalian di belakangku dulu, namun yang aku mau sekarang kalian mencari keberadaan putriku sampai ketemu!!! Jika dalam seminggu ini kalian tidak berhasil menemukannya aku pastikan kalian berdua akan menyesal pernah mengenal Hantara Putra Adipura Sanjaya." meski ucapannya terdengar tenang namun terdengar begitu menakutkan baik di telinga Reva maupun Andika.


"Lepaskan mereka!! lanjut Hantara memberi perintah pada Armada dan juga beberapa orang anak buahnya sebelum pria itu pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut. sementara Reva kini benar benar kehabisan kata kata, wanita itu hanya bisa diam sembari memikirkan bagaimana cara untuk menemukan keberadaan putrinya.


"Sebaiknya kita mencari keberadaan putrimu secepatnya, selain agar tuan Hantara tidak semakin murka padamu, kamu pun harus menebus kesalahanmu karena telah menelantarkannya putri kandungmu sendiri." akhirnya Andika yang sejak tadi diam pun kini buka suara.


"Diam kau!! ini semua terjadi karena kesalahanmu. aku tidak mungkin sampai melakukan semua itu dulu jika kau bersedia menikahi ku." entah kenapa setiap kali melihat wajah pria itu Reva selalu di buat naik pitam.


Andika memilih diam tak lagi menimpali ucapan Reva yang sedikit banyak ada benarnya. jika saja waktu itu dia memilih menikah dengan Reva dan tidak meminta wanita itu untuk kembali bersama mantan suaminya, mungkin semua itu tidak akan terjadi. namun saat itu bukannya tidak mau menikahi Reva tetapi Andika berpikir akan lebih baik jika anak itu hidup bersama dengan ayah kandungnya.


Tetapi ternyata keputusannya salah, setelah tahu jika ternyata Reva malah meninggalkan putri kandungnya begitu saja entah di mana dan bukannya kembali pada ayah biologis anaknya.


"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini sebelum tuan Hantara berubah pikiran!!!!." seru Armada dengan wajah sedingin es melihat perdebatan di antara keduanya.


Tidak ingin ucapan Armada menjadi kenyataan, Hantara berubah pikiran dan kembali ke tempat itu. Andika pun segera mengajak Reva meninggalkan tempat itu, meski awalnya menolak namun akhirnya Reva pun menerima ajakan Andika untuk meninggalkan tempat itu bersama.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Gita merasa kepalanya terasa pusing. sesekali wanita itu nampak menggelengkan kepalanya guna mengusir pusing yang kian mendera. "Ada apa denganku, kenapa kepalaku terasa sangat pusing??." gumam Gita sembari meminjat kepalanya.


Anis yang baru saja memeriksa pasien nampak mendekati sahabatnya itu. "Ada apa denganmu??." tanya Anis saat melihat Gita meminjat kepalanya. "Apa kau sedang sakit?? wajahmu terlihat sangat pucat." lanjutnya.


Dengan cepat Gita menggeleng seolah menepis dugaan Anis. "Aku baik baik saja, hanya sedikit pusing sebentar lagi juga baikan." jawab Gita, walaupun dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya, karena sejak pagi tadi rasa pusingnya bukannya semakin mereda justru semakin bertambah.


Tidak ingin Anis semakin khawatir padanya, Gita segera berdiri dari duduknya hendak melakukan pemeriksaan pada salah satu pasien yang baru saja masuk ke rumah IGD, namun sayangnya saat berdiri Gita merasa penglihatan mulai gelap hingga wanita itu pun tak sadarkan diri.


Untungnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai seorang mantri yang berdiri tak jauh dari keduanya sigap menahan tubuh Gita.


Satu jam kemudian Gita nampak membuka matanya, menyadari tubuhnya kini terbaring di ranjang rumah sakit Gita pun mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"Kau sudah sadar, apa kepalamu masih pusing???." tanya Anis yang baru saja masuk untuk memastikan kondisi sahabatnya itu. dengan lemah Gita menggeleng. "Aku sudah baikan." jawab Gita. namun wanita itu di buat bingung saat melihat sahabatnya nampak tersenyum padanya.


"Ada apa??." tanya Gita. "Sepertinya sebentar lagi keponakan aku akan segera bertambah." jawab Anis. "Apa maksudmu??." Gita kembali bertanya karena belum sepenuhnya mengerti dengan Jawaban Anis.


"Meski bukan spesial kandungan, sepertinya aku yakin jika saat ini kamu tengah hamil." kembali jawab Anis lebih signifikan.


"Oh hamil." ucap Gita mengulang ucapan Anis . setelah sepersekian detik Gita baru tersadar dengan ucapan Anis. "Apa kau bilang aku hamil??." kini mata Gita nampak membola sempurna. dan Anis pun mengiyakan.


Kedua bola mata Gita nampak berkaca kaca karena terharu setelah menyadari sepenuhnya ucapan Sahabatnya. " Aku hamil.... sebentar lagi aku akan memiliki seorang anak dari rahimku sendiri." Gita nampak bermonolog di hadapan Anis dan Anis nampak mengusap punggung sahabatnya itu.


"Iya.... sebentar lagi kamu akan segera memiliki seorang anak Gita." Anis ikut terharu, sebelum kemudian memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Gita teringat akan suaminya. "Apa kamu mengabari suamiku??." sepertinya pertanyaannya tidak perlu lagi di jawab oleh Anis saat melihat seseorang yang baru saja tiba.


"Sayang, bagaimana kamu bisa pingsan?? jika merasa tidak enak badan kenapa tidak meminta aku untuk menjemput kamu?? kenapa kamu hanya diam sayang???." Gita hanya bisa menghela napas dalam saat mendengar rentetan pertanyaan dari Hantara yang baru saja tiba.


"Aku bingung mas." jawabnya. "Bingung kenapa??." dengan kening berkerut Hantara kembali bertanya saat telah duduk di sisi ranjang mengantikan posisi Anis tadi.


"Aku bingung harus menjawab pertanyaan kamu yang mana dulu mas." jawab Gita seadanya, sedangkan Anis nampak melipat bibirnya menahan senyum sebelum gadis itu pamit untuk memberikan ruang pada sepasang suami istri tersebut.


"Maaf...." ucap Hantara baru menyadari jika ucapan istrinya memang benar adanya.


Gita memilih untuk belum menyampaikan kabar tentang dugaan Anis pada suaminya sebelum memastikannya lebih dulu.


Tadi saat sahabatnya itu jatuh pingsan, Anis segera menghubungi Hantara. Hantara yang saat itu baru saja kembali ke mobilnya hendak kembali ke perusahaan segera menuju ke rumah sakit saat mendengarnya kabar dari Anis.


Sedangkan di luar sebuah ruangan yang masih berada di dalam ruang IGD, langkah Anis tercegat saat Dr Siren sengaja berdiri tepat di hadapannya. Dr Siren menampilkan sorot mata tak bersahabat. tadi wanita itu tidak sengaja melihat kedatangan Hantara memasukkan ruang di mana Gita tengah mendapat perawatan.


"Sepertinya sahabatmu itu tidak bisa di beri peringatan dengan cara baik baik." cetus dr Siren. " apa maksud anda??." tanya Anis yang sebenarnya sudah tahu maksud ucapan wanita itu.


"Berapa kali harus aku peringatkan untuk menjauhi tuan Hantara, tetapi sepertinya sahabatmu itu masih juga gatal dengan terus mendekati tuan Hantara." ucap Dr Siren to the point.


Sedangkan Anis langsung tersenyum miring mendengar ucapan wanita itu. " Sepertinya anda sudah salah paham Dr Siren yang terhormat, seperti yang ada lihat bukan sahabat saya yang mendekati tuan Hantara, tetapi tuan Hantara yang begitu perhatian pada Sahabat saya. tidak heran sih kalau tuan Hantara begitu perhatian pada sahabat saya, Sahabat saya kan cantik bahkan lebih cantik dari seseorang yang begitu mengidolakan tuan Hantara." jawab Anis sengaja menyindir wanita itu.


Dr Siren yang merasa ucapan Anis menyindir dirinya nampak mengepalkan kedua tangannya menahan geram, sedangkan Anis hanya tersenyum sinis saat menyaksikan tangan wanita itu yang kini nampak terkepal sempurna, sebelum Anis berlalu begitu saja meninggalkan dr Siren yang nampak begitu Geram.


"Seandainya wanita itu tahu siapa Gita sebenarnya, mungkin dia akan stroke kali ya" Anis nampak bermonolog seraya melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2