
Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang sudah waktunya makan siang, Gita yang enggan memakan jatah makanan dari rumah sakit membuat Hantara pamit sebentar untuk mencari makanan untuk sang istri.
Sebenarnya bukan karena Gita tidak suka dengan menu rumah sakit, namun entah mengapa dia merasa tak selera untuk mengisi perutnya yang terasa mual.
Setelah Hantara keluar dari ruangan tersebut tanpa sepengetahuan pria itu Gita pun turut meninggalkan ruang tersebut mengingat kondisinya sudah baik baik saja.
Baru beberapa saat Hantara melangkah begitu juga dengan Gita, tiba tiba ada sebuah mobil yang baru saja tiba di depan ruang IGD dengan membawa pasien korban kecelakaan.
Hantara yang sangat mengenal suara tangisan seorang anak perempuan itu segera mendekat.
Rasanya jantung Hantara berhenti berdetak saat melihat Akila menangis di sebelah brankar yang tengah di dorong oleh beberapa orang perawat. "Akila." Hantara yang menyadari keberadaan anaknya segera mendekati gadis kecil yang tengah menangis sesenggukan itu.
"Ada apa Ak_". pertanyaan Hantara seolah melayang begitu saja di udara, saat menyaksikan tubuh seorang anak kecil yang kini terbaring di atas brankar yang tengah di dorong oleh beberapa perawat memasuki ruang tindakan.
Saat menoleh Hantara pun melihat keberadaan Seseorang yang merupakan pemilik mobil yang mengantarkan Korban ke rumah sakit. "Reva ... Andika....kalian..." Hantara seperti sedang bermimpi apalagi setelah menyadari jika yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas brankar tersebut adalah Asyifa gadis kecil kesayangan istrinya.
Hantara seolah melupakan sejenak keberadaan Reva dan Andika lalu segera melangkah mengikuti arah perawat mendorong brankar. "Maaf tuan sebaiknya anda menunggu di luar!!." pinta salah seorang perawat saat Hantara hendak masuk.
Meski berat rasanya namun Hantara tetap menghargai peraturan rumah sakit.
Hantara nampak mengusap kasar wajahnya. namun sepersekian detik kemudian suara tangisan Akila seolah menyadarkan Hantara.
Baru saja hendak menenangkan Akila tiba tiba suara Gita mengalihkan perhatian pria itu."Ada apa Akila, kenapa kamu bisa ada di sini nak??." rentetan pertanyaan yang di lontarkan Gita saat melihat keberadaan anak sambungnya itu.
"Adik mah ...adik tadi tertabrak mobil saat menyebrang di depan sekolah." jawaban Akila seperti geledek di siang bolong menyambar dadanya.
__ADS_1
"Asyifa....di mana Asyifa mas??." kini Gita mulai menangis seraya mencari keberadaan putrinya.
"Tenang sayang....!!! kamu tenang dulu.....!!!Anak kita sedang di tangani oleh dokter di dalam." jawab Hantara sembari menatap benda persegi panjang di mana Asyifa tengah mendapat penanganan dari dokter di baliknya.
Tubuh Gita luruh begitu saja, kalau saja saat itu Hantara tidak sigap menahan tubuhnya mungkin saat ini tubuh lemah Gita sudah mengenai lantai.
"Mas... Asyifa mas...." dengan berurai air mata Gita berucap di dalam dekapan suaminya.
"Anak?? jadi wanita itu sudah memiliki seorang anak sebelum menikah dengan Hantara??." batin Reva yang kini bersama Andika berdiri tak jauh dari Hantara, Gita dan. juga Akila.
Tatapan tajam Hantara seketika tertuju pada Reva sedangkan Reva spontan menggelengkan kepalanya. "No... Please don't Miss Understanding for me!!! "Tepis Reva, seolah menjawab sorot mata Hantara.
Gita pun mengurai pelukannya sembari menatap ke arah Reva.
"Tadi kebetulan aku hendak menemui Akila di sekolahnya namun baru saja mobil yang di kendarai Andika tiba di depan gerbang, kami melihat kerumunan orang-orang saat mendekat aku melihat keberadaan Akila di sana dan Aku pun sempat terkejut saat Akila menyebut gadis kecil itu dengan sebutan adik." terang Reva tentang Fakta yang terjadi beberapa saat yang lalu sebelum dirinya melarikan Asyifa ke rumah sakit.
Setelah Mendengar penjelasan dari putrinya barulah Hantara percaya dengan semua ucapan Reva.
Kedatangan seorang dokter dari ruangan Asyifa mengalihkan pandangan semua termasuk Reva. wanita yang biasa tidak peduli dengan orang lain tersebut tiba tiba merasa ada yang beda dengan hatinya kali ini.
Entah kenapa Reva bahkan enggan meninggalkan rumah sakit begitu saja. dia bahkan sangat ingin tahu perkembangan gadis kecil tersebut.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter??." tanya Gita pada seorang rekan sejawatnya saat baru saja keluar dari ruangan tindakan.
"Pasien kehilangan banyak darah, untuk menyelamatkan nyawanya, pasien membutuhkan transfusi minimal dua kantong darah secepatnya." Terang dokter tentang kondisi pasien saat ini.
__ADS_1
"Ambil darah saya sebanyak yang anak saya butuhkan dokter, asalkan nyawa anak saya bisa di selamatkan!!." pinta Gita dengan wajah memelas.
"Sebaiknya anda segera ke ruang donor darah untuk mengecek kondisi anda jika memungkinkan segeralah lakukan donor darah karena pasien sangat membutuhkan darah secepatnya!!." ucap Dokter dan Gita mengiyakan ucapan dokter berusia tiga puluh tahunan tersebut.
Entah apa yang kini di rasakan Reva sehingga wanita itu begitu saja mengikuti langkah Hantara dan juga istrinya.
Sesuai instruksi dokter Gita dan Hantara segera menuju ruang donor darah, namun beberapa saat kemudian setelah melakukan tes. ternyata golongan darah Milik Gita berbeda dengan Milik Asyifa.
"Bagaimana ini mas??." ucap Gita dengan perasaan tak menentu saat mendapat hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan golongan darah B sedangkan golongan darah Asyifa A+, salah satu golongan darah yang cukup sedikit pemiliknya.
Reva yang berdiri di ambang pintu masuk ruangan tersebut angkat bicara. "Aku akan mendonorkan darahku untuk anak itu." seolah Tidak membutuhkan persetujuan dari Hantara dan juga Gita, Reva segera meminta petugas untuk memeriksa kondisi Hemoglobin pada darahnya. setelah hasilnya menunjukkan jika Hemoglobin pada darahnya cukup untuk melakukan donor darah, Reva pun segera berbaring di atas brankar kemudian seorang petugas mulai menancapkan sebuah jarum yang cukup besar pada tengah lengannya.
Sedangkan Hantara maupun Gita hanya bisa diam sembari menyaksikan tindakan wanita itu.
Setelah berhasil mengambil satu kantong darah dari tubuhnya, Reva kembali meminta petugas tersebut untuk kembali mengambil satu kantong lagi mengingat kondisi pasien saat ini membutuhkan minimal dua kantong darah.
Awalnya petugas menolak, mengingat setiap pendonor hanya bisa mendonorkan satu kantong seberat 250 CC darah dalam sekali donor, namun karena Reva terus mendesak akhirnya petugas tersebut setuju mengingat kondisi Reva masih dalam keadaan baik baik saja bahkan dia tidak merasakan pusing sama sekali.
Setelahnya petugas yang telah mengambil donor darah dari tubuh Reva memintanya untuk beristirahat sampai dengan satu jam ke depan untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan dan Reva pun nampak mengiyakan.
Jangan tanya di mana Andika saat ini, pria itu masih setia menemani Reva. pria itu duduk di sebuah kursi yang berada di sisi brankar Reva.
"Aku salut padamu." ucap Andika, sementara Reva sendiri malah memalingkan wajahnya ke arah lain seolah enggan menatap pria itu.
"Aku sudah terlalu jahat pada darah dagingnya sendiri. setidaknya dengan berbuat baik pada anak kecil itu akan sedikit mengurangi rasa bersalahku pada anak kandungku." membicarakan Putri yang tidak di ketahui keberadaannya membuat air mata Reva luruh begitu saja membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Ingin rasanya Andika mengusap air mata di wajah wanita yang begitu dicintanya, namun dengan sekuat tenaga pria itu menahan diri tak ingin Reva semakin benci padanya.
Sepersekian detik kemudian Andika seolah teringat akan sosok wanita yang tadi mendampingi Hantara. "Wanita itu, jadi dia sudah menikah dengan tuan Hantara??." batin Andika Mahendra setelah berhasil mengingat sosok Gita, gadis yang pernah ditemui nya beberapa tahun lalu.