Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Bertemu di kantor polisi.


__ADS_3

Setelah kedatangan ayahnya, Hantara pamit sebentar ke kantor polisi bersama dengan Armada dan kedua orang tuanya pun mengiyakan.


Baru saja Hantara berlalu, dua orang petugas lab lengkap dengan seragam putihnya nampak menghampiri tuan Adipura Sanjaya dan juga istri.


"Permisi tuan." ucap salah satunya.


"Lakukan sesuai dengan perintah saya, jangan sampai terjadi kesalahan sedikit pun!!." titah tuan Adipura Sanjaya dan kedua petugas tersebut.


"Baik tuan,,,kami akan melakukannya sesuai dengan prosedur yang berlaku." jawab salah satu di antaranya. sebelum keduanya pamit masuk ke ruang ICU.


"Apa papa yakin melakukan semua ini??." ucap Nyonya Merina dan sang suami menjawab tanpa keraguan." papa yakin." jawabnya.


🌹🌹🌹


"Tuan... sepertinya pengendara mobil itu masih kekeh menyembunyikan kebenaran siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini." ucap Armada saat keduanya berada di mobil milik Hantara menuju kantor polisi.


"Sepertinya dia ingin bermain main dulu." jawab Hantara dengan nada tenang namun tersirat makna dalam di setiap ucapannya.


Kurang dari setengah jam mobil yang di kendarai Armada tiba di kantor polisi. Armada segera turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Hantara.


"Selamat malam tuan Hantara." ucap salah satu anggota polisi menyambut kedatangan Hantara. sedangkan Hantara hanya menjawab dengan anggukan.


"Silahkan masuk tuan!!." ucap bapak poli_si sembari menuntun Hantara dan Armada memasuki sebuah ruangan di mana terdapat fasilitas monitor yang menghubungkan ke ruang penyidikan.


Dari layar monitor Hantara bisa menyaksikan seorang pria yang tengah di cecar dengan berbagai macam pertanyaan. namun yang membuat Hantara geram hingga mengepalkan kedua tangannya, saat pria itu tak juga mau buka mulut.


"Sepertinya saya harus turun tangan sendiri agar pria breng_sek itu mau buka suara." tanpa menunggu lama Hantara segera bangkit dari duduknya dan melangkah. sedangkan Armada dan juga polisi tadi turut mengikuti langkah Hantara.


Kehadiran Hantara di ruang penyidikan membuat salah seorang poli_si yang bertugas sebagai penyidik spontan berdiri menyambut kedatangan Hantara. " selamat malam tuan Hantara." ucap pak poli_si. "Malam." jawab Hantara namun pandangannya tertuju pada pria bertubuh tidak terlalu tinggi dan bentuk badannya tidak terlalu berisi, bisa di pastikan pria itu bukan seorang profesional dalam pekerjaannya.

__ADS_1


"Boleh saya bicara berdua dengannya." pinta Hantara.


"Tentu saja tuan." jawab pak poli_si yang bertugas sebagai penyidik dalam kasus tersebut.


Kini tinggallah pria tersangka serta Hantara di dalam ruangan tersebut.


"Bisa saja saya menghukum perbuatan anda dengan cara saya sendiri, namun saya tidak melakukan itu karena saya masih menghargai hukum di negara ini. Jika anda masih kekeh ingin bermain main, maka jangan salahkan saya jika meladeni permainan anda." Meski nampak tenang dalam berucap namun sorot mata Hantara bisa memancarkan aura kemarahan yang kini coba di rendam olehnya.


Sejenak hening sampai bunyi notifikasi pesan di ponsel Hantara memecah keheningan. sebuah pesan yang baru saja di kirimkan oleh Armada.


Hantara nampak tersenyum penuh makna saat membuka pesan di aplikasi hijau miliknya.


Pria yang kini menjadi lawan bicaranya nampak membulatkan matanya dengan sempurna saat Hantara baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.layar ponsel yang menampilkan gambar tiga orang wanita yang berbeda generasi.


Bisa di pastikan gambar yang kini tertera di layar ponsel Hantara adalah orang terdekat dari pria itu, terbukti saat melihat perubahan di raut wajahnya ketika melihat gambar di ponsel Hantara.


"Jangankan untuk mendapatkan gambar tiga orang kesayangan anda, aku bahkan bisa menghukum anda lewat mereka." Ucapan Hantara mampu menggoyahkan pertahanan pria itu.


"Saya mohon tuan,,,,,Jangan sakiti istri dan anak anak saya, mereka tidak bersalah." pinta pria itu dengan berlutut di hadapan Hantara.


Hantara nampak mengepalkan tangannya saat mendengar permohonan pria itu."Jika anda tidak ingin orang lain menyakiti anak dan istri anda, lalu mengapa anda sampai mencelakai anak dan istri saya??? sedangkan istri dan anak saya sama sekali tidak memiliki salah pada anda." pria itu serasa di tampar oleh ucapan Hantara.


"Anda tahu, saat ini anak yang tidak berdosa sedang terbaring koma di rumah sakit. anak saya sedang koma, apa anda ingin tahu bagaimana rasanya hati saya saat ini...hah....???." Hardik Hantara yang tak sanggup lagi menahan amarahnya.


"Apa perlu saya membuat anda berada di Posisi yang sama dengan saya saat ini??? agar anda tahu bagaimana hancurnya hati saya."


"Maafkan saya tuan." pinta pria itu dengan wajah penuh penyesalan.


Hantara nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Saat ini saya tidak butuh permintaan maaf dari anda. Jika memang anda tidak ingin berada di posisi saya maka katakan yang sejujurnya, karena jika tidak saya pastikan anda akan merasakan hal yang sama dengan saya."Meski nada suaranya mulai menurun namun Hantara tidak main main dengan ancamannya.

__ADS_1


Tak ingin benar-benar kehilangan kesabaran, Hantara memilih segera meninggalkan ruangan tersebut.


Sedangkan pria itu nampak kebingungan. bagaimana tidak, jika tidak mengatakan siapa sebenarnya dalam di balik penabrakan tersebut maka bisa di pastikan dia akan menerima amukan dari Hantara. dan jika pun ingin mengatakan siapa sebenarnya orang yang telah memerintahkan dirinya melakukan penabrakan itu sementara dia sendiri tidak tahu pasti siapa pria itu, sebab saat bertemu di club malam itu pria licik tersebut mengenakan sebuah kacamata dan juga masker untuk menutupi wajahnya.


Hanya suara pria licik itu yang bisa di kenali olehnya.


"Cari rekaman CCTV di club XXX di malam sebelum kejadian tertabraknya Asyifa!!." titah Hantara pada Armada setelah mobil yang di kendarai Armada meninggalkan kantor polisi.


"Baik tuan." jawab Armada patuh.


Tadi salah seorang polisi yang bertugas sebagai penyidik mengungkapkan jika pria tersangka tersebut mengaku bertemu dengan pria yang menjadi dalang dari semuanya di club tersebut. dan pria tersangka itu juga mengaku baru pertama kalinya bertemu dengan pria yang menjadi dalang kejadian yang menimpa Gita dan juga Asyifa.


"Tuan berdasarkan informasi yang baru saja saya dapatkan, salah seorang anak dari pria itu tengah di rawat di rumah sakit karena penyakit leukimia yang di derita setahun terakhir." terang Armada sesuai informasi dari salah satu anak buahnya. sedangkan Hantara nampak diam mendengarkan penjelasan dari Armada.


"Dan menurut informasi dari pihak rumah sakit, biaya pengobatan anak dari pria itu telah menunggak selama seminggu terakhir. jika tidak segera di lunasi maka anaknya terancam tak mendapatkan pengobatan lagi dari pihak rumah sakit." lanjut jelas Armada.


Hantara mengerti ke mana arah pembicaraan Armada itu pun berucap.


"Apa hal itu yang membuat pria itu terpaksa melakukan semua ini??." tebak Hantara dan Armada pun mengiyakan.


Meski mengecam perbuatan ayah dari anak itu terhadap Putri dan istrinya, namun Hati Hantara merasa terenyuh saat mendengar ada seorang anak tak berdosa mengalami penyakit separah itu, apalagi sampai terancam tidak bisa melanjutkan pengobatan akibat terhalang biaya.


"Di rumah sakit mana anak itu di rawat??." Hantara yang sejak tadi diam mendengarkan penjelasan Armada akhirnya buka suara.


"Di rumah sakit yang berada di kota B tuan." jawab Armada sekenanya.


"Segera hubungi pihak rumah sakit tersebut untuk memberikan fasilitas terbaik pada anak itu dan segera lunasi semua administrasinya!!." titah Hantara. sedangkan Armada hanya bisa menghela napas dalam.


Seperti itulah pribadi Hantara, Meski wajahnya nampak dingin tapi sebenarnya pria itu memiliki hati yang lembut apalagi berhubungan dengan anak anak.

__ADS_1


__ADS_2