
Semalaman Hantara memikirkan semuanya sampai pria itu pun berniat untuk memberitahukan kepada istrinya tentang Dimas. Hantara tidak ingin kesalahpahaman seperti sebelumnya terjadi lagi di antara dirinya dan istri.
"Apa sebenarnya yang ingin mas katakan??." Gita yang kini tengah duduk di sofa berdampingan dengan sang suami nampak bertanya, saat melihat raut wajah suaminya terlihat begitu serius.
"Tetapi sebelum mas mengatakannya, mas minta kamu berjanji untuk merahasiakan hal ini untuk sementara waktu. jangan dulu mengatakannya kepada siapapun termasuk pada mama dan papa sebelum mas berhasil mencari tahu kebenaran yang sebenarnya!!!." Dengan menggenggam tangan Gita, Hantara berucap.
Gita yang mendengarnya pun mengangguk paham." Aku janji mas." jawab Gita dengan gurat penasaran di wajah cantiknya.
Hantara terlihat menghela napas dalam sebelum mulai bercerita. pria itu pun mulai bercerita, tidak ada yang di kurangi ataupun di lebih lebihkan oleh Hantara, semua sesuai dengan kenyataan yang diketahui olehnya.
Meski wajahnya nampak begitu terkejut mendengar cerita dari suaminya namun Gita memilih diam, setelah Hantara selesai bercerita barulah Gita bersuara.
"Bagaimana mungkin semua itu terjadi, tidak mungkin Mama yang aku kenal begitu baik bisa menjadi perusak rumah tangga orang lain, mas." ucap Gita seraya menggeleng tak percaya, seolah tidak yakin dengan tudingan Dimas pada sosok ibunya setelah Hantara usai menceritakan semuanya.
"Meski tidak mengenal mama secara langsung tetapi Mas pun berpikir seperti itu sayang, tetapi untuk saat ini kita tidak bisa menyanggah tudingan Dimas terhadap sosok mama kamu, sayang, sebelum mas berhasil menemukan kebenaran yang sebenarnya." ujar Hantara, mencoba memberi pengertian pada istrinya dan Gita pun perlahan mengangguk.
"Aku hanya bisa berdoa semoga semua tuduhan tuan Dimas terhadap mama tidak benar, mas." ucap Gita penuh harap.
"Mas harap juga seperti itu sayang." jawab Hantara.
Selain mengatakan hal tersebut Hantara juga mengatakan pada Gita jika saat ini Adiknya tengah hamil dan anak dalam kandungan Renata adalah anaknya Dimas.
Kabar kedua yang baru tadi dengarnya tak kalah membuat Gita terkejut, sampai membuat wanita itu tak bisa lagi berkata kata.
Namun satu hal yang belum di sampaikan Hantara pada istrinya yaitu kondisi memprihatinkan yang kini di alami nyonya Veronica yang mengalami depresiasi berat yang di sebabkan oleh masa lalunya.
__ADS_1
Cukup lama Hantara berbincang serius dengan Gita, sampai dengan sebuah panggilan dari papanya yang meminta dirinya untuk segera datang ke mansion membuat Hantara terpaksa mengakhiri perbincangan keduanya.
Hantara pun pamit pada istrinya untuk segera menuju mansion karena kedua orang tuanya telah menantikan kedatangannya.
"Ini semua seperti mimpi buruk, jika benar aku dan tuan Dimas memiliki ayah yang sama, itu artinya tuan Dimas adalah saudara kandungku, lalu kenapa dia tega ingin mencelakai aku??? apa yang membuatnya sampai tega melakukan semua itu, sedangkan aku sendiri tidak tahu apa apa tentang hal ini??." begitu banyak pertanyaan yang kini berputar di kepala Gita setelah kepergian suaminya ke mansion.
"Awhhhh....aku tidak boleh sampai stres...!!!." gumam Gita seolah memperingatkan dirinya sendiri saat mulai merasakan sakit di perutnya.
"Maafkan mama sayang." ucapnya seolah mengajak calon buah hatinya berkomunikasi seraya mengelus lembut perutnya. seakan anak yang ada di dalam perutnya tersebut mengerti akan ucapannya, kini rasa sakit di perut Gita berangsur membaik."Terima kasih sayang, anak mama memang pintar." dengan mengembangkan senyumnya Gita berucap sambil mengelus lembut perutnya yang kini semakin terlihat besar.
****
Di mansion
Tuan Adipura Sanjaya yang kini tengah duduk di sofa single, terlihat menatap marah ke arah seorang pria yang kini duduk di hadapannya. namun begitu Pria paru baya tersebut mencoba untuk menahan emosinya agar tidak melakukan kekerasan.
"Saya tahu, anda sangat marah dan kecewa atas perbuatan saya, dengan itu saya tidak keberatan jika anda ingin menghajar saya jika itu bisa sedikit mengurangi kekecewaan serta kemarahan anda, tetapi saya mohon izinkan saya menikahi putri anda!!." lanjut ucap Dimas.
Tuan Adipura Sanjaya nampak menghembus napas bebas di udara sebelum mengatakan." bagaimana saya bisa menghajarmu sedangkan wajahmu saja saat ini sudah babak belur begitu." ujar tuan Adipura Sanjaya dengan gurat datar di wajahnya.
Pria itu bisa menebak jika luka lebam di wajah Dimas saat ini merupakan hasil mahakarya dari Putranya, Hantara.
Dimas yang mendengarnya hanya bisa diam tidak berniat menimpali ucapan tuan Adipura sebab apa yang di katakan pria itu benar adanya, bahkan luka lebam di wajahnya saat ini nyaris tak memiliki spasi.
Beberapa saat kemudian Tuan Adipura meminta istrinya untuk memanggil putrinya yang tengah berada di kamar. tak selang lama nyonya Merina pun kembali bersama dengan putrinya, Renata.
__ADS_1
Renata yang baru saja tiba di ruangan tersebut terlihat menatap datar ke arah Dimas, jauh berbeda dengan tatapan Dimas padanya yang nampak jelas kerinduan dari sorot mata pria itu.
"Jadi kapan rencananya kamu akan menikahi putri saya???." tanpa banyak basa-basi, pertanyaan tuan Adipura di tujukan pada Dimas.
"Secepat_" jawaban Dimas melayang begitu saja di udara saat Renata terdengar menyela.
"Aku tidak ingin menikah dengannya, pah." sela Renata, dan hal itu membuat papanya bingung mendengarnya.
"Maka menikahlah dengan salah satu rekan bisnis mas!!." Suara Hantara yang baru saja tiba terdengar menggema di ruangan tersebut sehingga membuat semua yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangan ke sumber suara, tidak terkecuali Dimas.
"Jangan bercanda mas." ujar Renata dengan wajah kesal.
"Mas tidak sedang bercanda." jawab Hantara, dan hal itu sempat membuat Dimas menatap tak suka ke arah Hantara.
"Aku tidak mau, Lagi pula mana ada laki laki yang bersedia menikah dengan seorang gadis yang tengah mengandung anak dari pria lain." sanggah Renata ingin mematahkan ucapan Hantara.
"Mau tidak mau setuju atau tidak kau harus tetap menikah Renata dan pilihannya hanya ada dua, menikah dengan laki-laki pilihan mas atau menikah dengan ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan kamu!!" ucapan Hantara terdengar begitu mengintimidasi seolah tidak ingin mendengar bantahan.
Melihat raut wajah Kakaknya membuat Renata tidak berani lagi membantah. apalagi saat ini kedua orang tua mereka hanya diam seolah tidak keberatan dengan keputusan kakaknya.
"Baiklah, aku akan menikah dengan Dimas tapi sebelumnya aku ingin bicara empat mata dengannya." ucap Renata terpaksa memilih opsi kedua.
Hantara yang mendengarnya nampak menyunggingkan senyum tipis, saking tipisnya tidak ada yang melihatnya."Sesuai dengan dugaanku, kau pasti akan memilih menikah dengan pria itu." batin Hantara seraya melirik ke arah Dimas untuk beberapa saat.
Renata kemudian berdiri dari duduknya hendak melangkah sedangkan Dimas yang sudah paham akan hal itu segera ikut berdiri kemudian mengikuti langkah Renata setelah lebih dulu meminta izin pada tuan Adipura Sanjaya.
__ADS_1
Sayang sayangku Jangan lupa bunga sekebon....kopi segalon ....yaaa,,,,,🥰🥰🥰🥰😍😍😍😍😍 and don't forget to menekan tombol favorit ya,,,,,