
Hari itu adalah hari libur kantor dimana Daren dan Freya sedang bersantai di ruang tengah, Keheningan mereka seketika terganggu karena ulah snow yang akan menerkam pretty yang tenang dan juga ikut bersantai tertidur di atas sofa.
Ruang tengah ramai ketika Freya berusaha menyelamatkan pretty dari kenakalan snow, Daren yang melihatnya langsung membantu Freya.
Belum juga kekacauan snow berakhir, suara teriakan dari luar sontak membuat Daren dan Freya kaget bukan main. Kedatangan Jeff, Levon dan Sean langsung membuat mereka kalang kabut.
" Daren !" teriak Jeff dengan suara bassnya.
" Wah rumah Daren sangat besar, dan sangat indah." Levon dibuat kagum oleh desain rumah Daren.
Jeff terus memanggil nama sang pemilik rumah yang kunjung tidak ada jawaban.
" Kenapa mereka kemari ?" Daren mengintip di jendela rumahnya.
" Kami ingin melihat-lihat rumahmu !" Sean berteriak.
Mereka terus berteriak diluar rumah seolah-olah mereka berada di tengah hutan.
Freya yang penasaran ikut melihat teman Daren dari jendela yang sama dengan Daren, seketika kepala Freya ditekan dan didorong oleh Daren karena dia tidak ingin temannya melihat dia sedang bersama dengan seorang wanita.
" Oy, oy, kak Daren. Apa ?" masih terus melirik ke arah teman Daren.
" Kenapa kamu kesini ?" geram Daren.
" Siapa mereka ?" tanya Freya penasaran.
" Kembali ke kamarmu sekarang."
Freya pun bertanya-tanya kenapa harus kembali kedalam kamar, Daren pun menjelaskan bahwa dirinya malas harus menjawab pertanyaan yang nantinya akan dilontarkan oleh tiga temannya yang cerewet itu. Akhirnya Freya menuruti perintah Daren dan hendak kembali ke kamarnya.
Freya berlari secepat mungkin agar segera tiba ke kamarnya, sayang ketika dia memegang gagang pintu ternyata kamar Freya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di ruang tengah mereka.
Freya berlari kesana-kemari ketika mendengar suara teman-teman Daren sudah masuk ke rumah mereka, Freya pun berusaha menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat oleh yang lainnya.
" Rumahmu seperti taman." puji Levon
" Kamu tidak memberitahu kami bahwa kamu memiliki rumah yang indah, temanku." Jeff berjalan sambil melihat isi rumah Daren dengan membawa plastik yang berisikan camilan.
Mereka terus memuji rumah Daren tiada hentinya, Sean membuat Daren gugup ketika dia bertanya apakah ada sesuatu yang Daren sembunyikan dari Sean, dia menanyakan hal tersebut karena melihat rambut Daren yang berantakan dan bertanya apa yang sudah dia lakukan.
" Aku tidak menyembunyikan apapun." sambil berkacak pinggang.
Mereka mengira bahwa semalam Daren habis bermain-main dengan seorang wanita. Mereka terus menggoda Daren dan memintanya merayakannya. Di sisi lain Freya yang terjebak berusaha memberitahu Daren bahwa kunci kamarnya berada di atas sofa, Freya melempari Daren dengan kerikil kecil yang dia dapat dari pot bunga rumahnya agar menyadari ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Freya melempar tepat di wajah Daren dan membuatnya langsung menengok ke arah lemparan batu tersebut. Freya terus memberi isyarat agar Daren mengambilkan kuncinya yang tertinggal di atas sofa dan Freya bisa segera memasuki kamarnya.
Daren yang cepat tanggap langsung melihat ke arah sofa dan menemukan kunci yang Freya maksud, tangan Daren yang sudah terulur dan siap mengambil kunci tiba-tiba terhalangi oleh aksi Levon yang duduk secara tiba-tiba dan menghalangi kunci yang hendak Daren ambil.
__ADS_1
Sementara Jeff dan Sean sibuk dengan rencana mereka yang akan sering mengunjungi rumah dan Daren dan minum-minum dirumahnya setiap hari.
Karena Daren tidak berhasil meraih kunci Freya diapun langsung memerintahkan agar Freya bersembunyi dikamar Daren saja. Dengan langkah yang penuh hati-hati Freya berusaha masuk ke kamar Daren.
Daren berusaha mengalihkan perhatian teman-temanya dia beralasan akan menyiapkan makanannya dan memerintahkan mereka untuk duduk diluar sambil menunggu makanan.
Sean merasa ada yang aneh dari Daren karena tidak biasanya dia mau direpotkan, apalagi berbaik hati menyiapkan makanan.
" Bukankah kamu sangat aneh ?" tanya Sean. " Biasanya selalu kamu yang memerintahku sepanjang waktu."
Daren tidak memperdulikan pertanyaan yang diajukan Sean dan langsung beranjak ke arah dapur.
" Apa yang bisa kubantu ?" Levon menawarkan diri.
" Tidak apa-apa." jawab Daren.
***
Keempat laki-laki lajang tersebut duduk di halaman rumah Daren, Daren dianggap lajang karena belum diketahui statusnya oleh yang lain. Mereka bersantai sambil memakan camilan dan Jeff yang terus bernyanyi dengan suara fals nya, yang jika didengar oleh katak bisa langsung membuatnya hamil.
" Diam." perintah Jeff tiba-tiba.
Prett...
Jeff mengeluarkan gas beracunnya yang langsung disambut makian oleh yang lainnya.
" Sialan, Jeff ! " teriak Sean.
Ketika biasanya orang akan ikut menguap ketika melihat orang lain menguap berbeda dengan Jeff dan Sean. Ketika Jeff yang buang angin malah Sean yang sakit perut dan ingin beranjak ke toilet.
" Kenapa ?" tanya Daren ketika melihat Sean memegangi perutnya.
" Dimana toiletnya ?" tanya Sean menahan mulas diperutnya.
" Di dapur. Jalan lurus belok kanan. Masuk di sana." Daren menjelaskan letak toilet rumahnya.
" Terimakasih. Aku pergi dulu." Sean berlari menandakan ketidaktahanan nya.
Tidak berselang beberapa lama akhirnya Jeff juga merasakan sakit diperutnya.
" Bisakah aku menggunakan toiletmu ?" pinta Jeff.
" Di kamar. Jalan lurus belok kiri. Masuk di sana." masih belum menyadari bahwa Freya sedang berada di dalam kamarnya.
Jeff berlari ke arah yang ditunjukan Daren. Berselang beberapa detik Daren baru menyadarinya, Daren yang sedang meminum air putih langsung menyemburkannya ke hadapan Levon.
" Daren kamu menyemburkan air padaku ! "
__ADS_1
Daren tidak memperdulikan keluhan Levon langsung berlari mengejar Jeff.
" Belok kiri, belok kiri." Jeff mencoba mengingat arahan dari Daren sambil memelintirkan kakinya menahan perutnya yang sudah sangat mulas.
" Eh jeff, jeff ! " teriak Daren dan langsung menarik tangan Jeff.
" Kenapa kamu pergi ke sana ?" tanya Daren menunjuk ke arah kamar pribadinya. " Disini ada satu kamar mandi lagi, ikuti aku." perintah Daren.
Daren menyeretnya ke arah toilet yang berada di Dapur.
" Sean sedang ada di dalam."
" Kalau begitu tunggu sebentar." masih memegang tangan Jeff.
Daren terus mengetuk-ngetuk pintu toilet yang digunakan oleh Sean dan memaksanya agar cepat keluar dari dalam toilet. Sean yang masih mulas mengatakan kepada Daren bahwa dirinya masih akan sangat lama di dalam toilet.
Jeff yang benar-benar tidak tahan berusaha kabur dan segera masuk kedalam toilet yang berada didalam kamar Daren. Jeff heran kenapa dia tidak boleh menggunakan toilet tersebut dan langsung menanyakannya kepada Daren. Daren beralasan bahwa dirinya tidak bisa berbagi toilet dengan yang lainnya.
" Bisa tidak kamu ini berhenti cerewet." protes Jeff
Sambil memegangi perutnya Jeff berlari ke arah kamar Daren, yang masih dikejar oleh Daren dari belakang hingga akhirnya Daren berhasil mendahului Jeff yang terlihat pucat pasi menahan perutnya yang bergemuruh.
Daren berhenti di depan kamarnya dan mengetuk ngetuk pintu kamarnya sendiri.
" Aku disini bersama Jeff. Dia ingin menggunakan toilet." teriak Daren dari luar kamarnya.
" Apa yang sedang kamu lakukan ?" terlihat Jeff yang sangat tersiksa. " Dengan siapa kamu berbicara. Aku perlu ke toilet sekarang."
" Aku berbicara dengan dewi bumi." Daren beralasan. " Aku bilang kalau kamu ingin menggunakan toiletku."
Jeff yang sudah tidak bisa berpikir rasional mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Daren bahkan dirinya meminta izin menggunakan toilet kepada dewi bumi yang disebutkan oleh Daren.
" Bolehkah aku menggunakan toiletnya dewi bumi ?" teriak Jeff
Sementara Freya dibuat kalang kabut setelah mendengar pernyataan Daren dan berusaha bersembunyi namun dia dibuat kebingungan karena tidak menemukan tempat yang pas untuk bersembunyi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa klik favorit, like dan comentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku, jangan lupa vote guys. 😘😘🤗🤗💞💞