Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Haruskah Seperti Itu


__ADS_3

Meski Freya berusaha menghilangkan perasaannya namun ketika melihat Daren terluka tentu saja rasa khawatir menyelimuti dirinya, bertanya dalam hatinya apakah dia tidak apa-apa. Apakah lukanya parah. Untuk menghapuskan rasa yang sudah bersarang lama dalam hati bukanlah perkara mudah, sekuat tenaga pun berusaha menghindar berusaha tidak perduli dan  berusah untuk terus mengingkari hati semua haruslah memerlukan proses.


Derap langkah kaki Freya terasa menggema di lorong perusahaan berusaha mengejar sesuatu yang teramat berharga bagi dirinya, memastikan dengan kedua bola matanya bahwa Daren baik-baik saja. Kini kedua kaki mungil itu sudah menapakan dirinya di depan ruang kantor Daren berusaha membukakan pintu yang menghalanginya untuk melihat keadaannya.


“Dimana kak Daren ?” Dengan deru nafas terengah-engah berusaha meraup udara dengan rakusnya, menyapu seluruh ruangan dengan pandangannya namun tidak ditemukan Daren di sana hanya ada Jeff, Sean, dan Levon.


“Daren meminta kita untuk mengantarkannya tadi ke loby dan memberhentikan taksi, katanya dia ingin istirahat di rumah saja.” Kini Sean berusaha menerangkan segalanya kepada Freya yang kini terlihat khawatir.


“Lalu bagaimana keadaanya ?”


“Jangan khawatir, kakinya hanya terkilir saja.” Jeff berusaha menenangkan Freya dengan perkataannya


“Kalau begitu Freya izin pulang duluan kak, permisi.”


.


.


.


 


.


 


Sesampainya Freya di pelataran rumahnya langkahnya langsung menuju ke dalam rumah melihat seberapa parah keadaan Daren. Melihat seseorang yang tengah mengompreskan es batu di pergelangan kakinya  Freya hanya bisa bernapas lega dengan terus berjalan mendekat langsung mendudukan dirinya di sofa samping Daren. “Kesini


biar aku bantu kompres.”


Melihat Freya yang telaten mengompres kakinya hati Daren terenyuh merasakan kebahagiaan karena perhatian yang di tunjukan melalui kesabarannya merawat Daren. Dirasa momen tersebut sedikit romantis namun si pembuat onar langsung membuyarkan keromantisan tersebut dengan kicauan mulutnya yang seperti burung beo. “Kenapa kakak ceroboh sekali sampai bisa keseleo seperti ini. Memangnya disimpan di mana matanya, makannnya jangan sok keren jadinya keseleo kan.”


“Diamlah kau berisik sekali sih kuping ku sakit mendengarnya.” Mendengar protesan Daren tentu saja membuat Freya kesal dan langsung menekan keras kompresan es batu yang kini berada di tangannya sehingga membuat Daren meringis kesakitan. “Hissss... auw... sakit, pelan-pelan.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


 


“Apa kau bahagia ?” Mendengar pertanyaan Daren membuat Freya mengkerutkan dahinya mencoba memahami apa maksud dari perkataannya. “Dasar bodoh, maksud ku tim kalian kan menang apa kau bahagia ?”


“Tentu saja bahagia, dari awal  memang itu tujuannya agar menang mana mungkin aku tidak bahagia.”


“Oh pantas saja kau sampai sejauh itu harus memeluk erat laki-laki yang menjadi pasanganmu di lomba lari ikat kaki menggunakan sapu tangan itu.” Mendegar kata-kata Daren yang sangat ketus tersebut membuat suasana hati Freya menjadi sedikit kesal.


“Apa maksudnya aku mencari kesempatan seperti itu dengan dalih memenangkan perlombaan.” Sungguh kesal mendengarnya,batin Freya terus saja menggerutu.


“Tentu saja, aku harus memeluknya agar tim kami menang itu kan wajar.” Perkataan Freya langsung menusuk ke dalam dadanya merasakan sedikit nyeri dengan jawaban yang diberikan.


“Wajar ?!” Teriaknya kini.


Karena kesal dengan sikap Freya yang acuh langsung saja di tariknya kaki yang kini tengah di kompres membuat Freya tersentak karena terkejut. “Haruskah Seperti Itu ?”


“Walaupun sedekat ini ?” Daren mencoba memperagakannya dengan terus merapatkan tubuhnya mendekat ke tubuh Freya. “Sedekat ini ?” Terus mendekat sehingga kini tidak ada jarak antara keduanya.


“Tentu !” Jawab Freya acuh namun sayang debar jantungnya sudah tidak terkontrol, serasa akan meledak karena jarak sedekat itu dengan Daren.


“Woah benar-benar kau ini...” Daren terus mengeratkan giginya menahan amarah. Tak ingin merasa salah tingkah nantinya Freya sudah siap berdiri namun kini pergelangan tangannya dicekal oleh Daren sehingga posisi mereka saling berhadapan dengan Freya berada di atas tubuh Daren.


Kini kedua pasang bola mata itu saling memandang satu sama lain seperti tidak ingin melepasnya begitu saja, kedua tangan Daren yang kini berada di belakang Freya terangkat dengan ragu antara haruskan dia memeluk


“Ehemm... kalau begitu aku permisi ke kamar dulu, kalau masih sakit kompres saja sendiri.” Dengan langkah terburu-buru Freya pergi dengan cepatnya meninggalkan Daren yang masih diam mematung di atas sofa yang


menjadi tumpuannya kini.


“Bodoh, bodoh, bodoh kau Daren sebenarnya apa mau mu ?” Daren terus mengacak rambutya frustasi.”Dan kenapa jantung mu berdebar seperti ini, apa benar aku sudah jatuh cinta dengan si pembuat onar itu ?” Daren terus


memegangi dadanya tepat di atas jantungnya berada dan merasakan debaran yang masih sangat cepat berdetak bahkan setelah kepergian Freya.


.


.


.


 


.


.


 

__ADS_1


EPILOG


Sementara sahabat-sahabat Freya yang kini berada di kantor bertanya-tanya akan keberadaan Freya, bukankah tadi hanya izin untuk pergi ke toilet kenapa sampai sekarang belum muncul juga. “Hei kemana Freya kenapa belum datang dari tadi kita kan sudah janji akan makan malam bersama untuk merayakan kemenangan divisi kita.” Kini Bella tengah bertanya kepada Daisy karena dialah yang selalu tahu dimana Freya.


“Entahlah, di telepon juga tidak di angkat pesan pun sama tidak dibaca. Kalau begitu aku coba susul ke toilet.” Daisy mencoba memberikan ide dan menawarkan diri untuk menyusul Freya.


“Baiklah.” Jawab Bella.


Terdengar ketukan satu per satu di pintu kamar mandi mencoba dari pintu ke pintu mencari keberadaan Freya namun nihil tidak ada satu pun tanda-tanda keberadaan Freya. “Astaga kemana anak ini ?” Merasa usahanya


sia-sia Daisy memutuskan untuk kembali dan menyampaikan hasil dari kunjungan toiletnya, namun di tengah perjalanan dirinya melihat salah satu sahabat Daren yaitu Levon tengah berjalan keluar dari toilet khusus laki-laki.


“Kak, kak, temannya kak Daren kan ?”


“Iya, kenapa ?”


“Mau tanya, kakak lihat Freya tidak dari tadi di cari-cari tapi orangnya gak kelihatan.”


“Freya sudah pulang menyusul Daren, karena tadi kakinya keseleo.”


“Oh begitu, terimakasih kak infonya. Permisi.”


Dengan langkah terburu-buru Daisy kembali ke dua sahabatnya yang kini tengah menunggu info darinya yang sudah duduk sembari memainkan ponselnya masing-masing. “Freya katanya sudah pulang dia ada urusan.”


“Anak itu benar-benar, kenapa tidak mengabari dari tadi. Kamu dapat info dari siapa kalau Freya sudah pulang.” Tanya Bella.


“Tadi aku nanya sama temennya yang di divisi a, gitulah pokonya dia udah pulang jadi gimana lanjut makan malam bersamanya ?”


“Yasudah kita bertiga saja, awas saja kalau ketemu aku toyor tuh si Freya.” Ucap Bella jengkel.


“Hei sudahlah mungkin Freya ada urusan mendadak jadi tidak sempat pamit.” James berusaha menengahi memberikan pengertian. “Ayo berangakat.”


.


.


.


 


.


.


 Jika kalian suka jangan lupa likenya kawan-kawan pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar juga biar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......

__ADS_1


__ADS_2