
Melihat Freya dan Daren semakin dekat dan terlihat mesra membuat sudut hati Emily terasa sakit ada perasaan tidak suka, tidak rela karena dia sungguh-sungguh mencintai Daren dan dia adalah laki-laki yang menurut Emily bisa memberikan kebahagian yang tidak pernah dia dapat dari siapapun.
Hidupnya serasa hancur karena tuntutan dari ayah kandungnya sendiri dan juga dari suaminya yang kejam Alvon.
Iri itulah yang di rasakan Emily tepatnya melihat orang lain bahagia sementara hidupnya penuh penderitaan karena harus hidup bersama suami yang kasar yang dengan mudahnya mengangkatkan tanganya untuk memukulinya memberikan luka fisik dan juga psikisnya.
“Apakah aku tidak pantas untuk bahagia, tidak bisakah aku hidup dengan mu Daren. Kau adalah sumber kebahagian yang telah aku temukan, aku bersumpah jika kamu tidak bisa hidup dengan ku maka wanita manapun tidak akan bisa hidup dengan mu.”
Dan dengan senyum liciknya Emily sudah bertekad untuk memisahkan Daren dan juga Freya tidak perduli akan akibat yang harus dia tanggung.
“Aku sudah tidak takut lagi dengan ancaman apapun, bukankah selama ini hidup ku juga sudah cukup menderita menerima segala siksaan yang telah di berikan Ayah dan juga Alvon.”
Emily mengeluarkan ponselnya yang tersimpan di dalam tasnya dan terlihat tengah sibuk mengetikan sesuatu.
💌 “Daren temui aku sekarang juga, jika kau tidak mau menemui ku jangan harap istri mu akan selamat.”
Daren yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya perhatiannya menjadi teralihkan setelah mendengar ada suara notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Merasa penasaran karena juga khawatir takut itu adalah pesan yang penting Daren memutuskan untuk membuka pesan tersebut. Alangkah terkejutnya Daren membaca pesan tersebut hingga tanpa sadar dia mengumpat membuat Freya mendengar umpatannya mengalihkan pandangannya ke arah Daren.
“Kak Daren kenapa.” Daren langsung merasa gugup karena mendapat pertanyaan dari Freya hingga tanpa sadar Daren langsung menggelengkan kepalanya bahkan kini Daren sudah berbohong kepada Freya.
“Tidak ada apa-apa, kau lanjutkan saja pekerjaan mu aku ada urusan sebentar.” Terlihat Daren terburu-buru meyakinkan Freya bahwa Daren tengah berbohong dan sedang menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh Freya.
Daren sudah melangkah menjauhi Freya yang masih duduk di kursinya namun tanpa Daren ketahui ternyata Freya sudah berjalan terlalu jauh memang namun dia masih bisa melihat kemana arah Daren pergi, selama Daren
berjalan dirinya terus mendapatkan pesan dari Emily yang mengatakan lokasi dimana mereka harus bertemu.
💌 “Datang lah ke atap gedung kantor ini.”
Itulah pesan yang dikirimkan oleh Emily dan tanpa basa-basi Daren langsung menaiki lift dan menekan tombol untuk ke lantai paling atas.
Freya terlihat mengerutkan keningnya karena melihat nomor di samping lift menunjukan Daren tengah menaiki lantai atas. “Untuk apa kak Daren ke lantai paling atas ?”
__ADS_1
Dan segera setelah pintu lift terbuka Freya langsung melangkahkan kakinya untuk segera menyusul Daren.
.
.
.
.
.
“Akhirnya kau datang juga Daren.” Tanpa basa-basi Emily langung melingkarkan kedua tangannya memeluk Daren yang baru saja sampai di atap gedung kantor mereka.
Daren yang merasa risih berusaha melepaskan pegangan tangan Emily yang semakin hari terlihat semakin agresif di matanya. “Lepaskan tangan mu dari ku.” Dengan sekuat tenaga Daren berusaha menghempaskan kedua tangan
Emily.
“Aku bilang lepaskan dan jelaskan apa maksud dari pesan yang kau kirimkan.”
Daren dan juga Freya.
“Dasar kau wanita ular.” Daren sudah kesal dan mengeluarkan kata umpatan untuk wanita yang berada di hadapannya. Namun bukannya sakit hati Emily malahan tertawa dan mengangkat kedua tangan Daren dan meletakannya di kedua pinggang rampingnya.
Daren berusaha melepakan kedua tangannya namun Emily menahannya. “Jika kau berani menurunkannya, kau akan tahu akibatnya. Jangan kau pikir aku bercanda dengan semua ancaman ku, kau tidak tahu aku istri siapa ?” Emily kini sudah menyeringai di hadapan Daren yang membuatnya semakin terlihat menjijikan di mata Daren.
“Jika kau pikir hanya Allvon yang bisa nekad aku juga bisa, bisa melakukan apapun untuk melenyapkan istri mu itu.”
“Dasar perempuan gila !!” Mendengar kata gila Emily semakin tertawa keras dan menghamburkan dirinya mendekat ke arah Daren dan kini menempelkan bibirnya di bibir Daren bahkan tangannya sudah melingkar di leher Daren dan menekan ciumannya semakin memperdalamnya.
Melihat itu Freya hanya bisa menutup mulutnya dengan sebelah lengannya tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini, terlihat Daren tengah memegangi pinggang Emily dan menciumnya.
Freya tidak akan salah paham jika tidak melihat Daren melingkarkan tangannya di pinggang itu karena dirinya bisa saja berpikir jika itu adalah ciuman paksa dari Emily namun kini dia tidak isa menyangkalnya karena Daren terlihat menikmatinya. Karena menurut Freya jika Daren tidak menginginkannya Daren tidak akan meletakan tangannya di pinggang Emily tapi di kedua bahunya.
__ADS_1
Sementara Emily terlihat begitu bahagia karena rencananya bahkan melebihi harapannya jadi dia tidak perlu repot-repot mengirimka video ciumannya kepada Freya karena ciumannya kini adalah siaran langsung untuk Freya. “Memang keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada ku.” Gumam Freya dalam hatinya dengan pandangan terus tertuju kepada Freya yang perlahan mulai meninggalkan mereka.
Dengan sekuat tenaga Daren langsung mendorong Emily hingga tubuh kecilnya terdorong dan terjerembab ke bawah, bahkan Daren tidak perduli dengan protesan Emily yang merasakan kesakitan.
“Dasar wanita gila, ular, tidak punya harga diri. Apa yang kau lakukan hah ?!”
“Bukankah kau merindukan bibir ini ?” Tidak ingin ikut menjadi gila Daren meninggalkan Emily yang kini tersenyum penuh kemenangan entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu Daren tidak ingin peduli.
.
.
.
.
.
Di dalam toilet Freya terus-terusan menangis dan menghabiskan seluruh tisu toilet karena mengusap air mata yang terus mengalir di tambah cairan putih yang ikut meluncur dari hidungnya. ”Dasar pembohong !” Freya sibuk
mengumpat dan mengusap air matanya dengan tisu. “Pembohong, katanya kau mencintai ku. Aku tau itu semua tidak akan pernah terjadi dirinya tidak akan pernah mencintai ku, jangan bodoh Freya, jangan bodoh.”
“Ayah, ibu kenapa kak Daren tega berbohong kepada ku, apa salah ku kepadanya ?” Setelah merasa tenang Freya menuju wastafel dan membasuh mukanya agar terlihat segar dan menyembunyikan dari semua orang bahwa dirinya sudah menangis cukup lama, dengan tekad yang kuat Freya semakin yakin untuk menceraikan Daren, karena dirinya yakin sampai kapan pun Daren tidak akan pernah mencintai dirinya.
Kata cinta yang di ucapkan oleh Daren itu semua hanyalah kebohongan belaka entah apa maksud dari kata-kata Daren melakukannya karena dasar cinta, Freya tidak ingin lagi memikirkannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......