
Mendengar semua kejadian ketika Daren kecelakaan waktu itu dia sangat tidak menyangka ternyata orang yang telah menyelamatkannya adalah Freya, rasa bersalah pun hinggap di dalam lubuk hati Daren kesedihan langsung terpatri dalam dirinya bagaimana dia memperlakukan Freya kurang baik waktu itu.
Dia mengingat bagaimana dia memerintahkan Freya untuk kerja lembur dan membuatnya kelelahan padahal sekarang dia hidup dengan satu ginjal. “Bagaimana ini mam aku sudah keterlaluan kepada Freya.”
“Mami tidak tahu harus berbuat apa tapi yang pasti Freya sudah memaafkan mu, namun yang harus kamu ingat adalah sekarang ini kebahagiaan Freya yang lebih utama.” Lydia dengan sabar mengelus-elus kepala Daren yang sudah masuk kedalam pelukannya.
“Sekarang kamu paham kenapa mami ingin sekali kamu selalu memperlakukan Freya dengan baik. Mami sebenarnya ingin sekali memberitahu mu namun karena janji mami kepada Freya untuk menyembunyikan kebenarannya mami tidak pernah memberitahu mu.”
Kini Daren sudah melepas pelukannya dari Lydia menatap kedua bola mata maminya dengan tatapan yang tidak dapat di mengerti. “Mam, aku sekarang paham dan aku benar-benar ingin Freya bahagia maka dari itu aku akan berusaha untuk melepasnya, membiarkan dia mencari mencari kebahagiaanya walau kini bahagianya mungkin bukanlah bersama ku.”
Lydia ikut menangis mendengar kata-kata anaknya yang terdengar menyayat hati. “Sebenarnya aku ingin sekali bahagia Freya adalah bersama dengan ku, namun rasanya tidak mungkin maka tidak ada pilihan lain selain melepaskannya dan mendoakan kebahagiaannya. Mami tahu kenapa ?”
Lydia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendapati pertanyaan Daren. “Karena aku sangat mencintainya mam.”
Hati Lydia terenyuh mendengarnya dia sekarang yakin bahwa Daren sudah benar-benar mencintai Freya namun sayang semuanya sudah terlambat. “Maafkan mami Daren maafkan mami.” Kini Lydia yang merasa bersalah karena tidak jujur dari awal walaupun dia harus melanggar perjanjiannya dengan Freya.
__ADS_1
“Tidak ini bukan salah mami tapi ini memang murni kesalahan yang telah Daren perbuat.”
.
.
.
.
.
“Terimakasih dokter kalau begitu mari saya antar.” Lydia pun mengantarkan dokter tersebut keluar kamar Daren dan meninggalkan anaknya yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjangnya dengan mata yang tertutup namun tidak tertidur, karena pikirannya terus mengelana merapalkan nama Freya.
Setelah mengantarkan dokter ke depan rumah Lydia pun kembali menghampiri Daren yang sudah tidur miring membelakangi pintu kamarnya. “Lebih baik mami juga kembali ke rumah mami aku sendiri saja di sini.”
__ADS_1
Mendengar permintaan Daren tentu maminya tidak setuju bagaimana dia bisa meninggalkan anaknya yang sekarang dalam keadaan sangat terpuruk. “Tidak mami tidak akan pulang mami akan di sini saja menemani mu.”
“Mam, tapi aku ingin sendiri saja di sini.” Kini Daren sudah berbalik badan dan melihat ke arah Lydia yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
“Baiklah mami pulang kamu istirahatlah, mami tahu kamu ingin menenangkan diri.” Lydia pun pamit.
Namun dia tidak benar-benar pulang karena dia masih khawatir dia hanya berbohong kepada Daren agar anaknya tidak merengek lagi memintanya pulang karena saat ini Daren sedang terpuruk dan Lydia tidak ingin menambahkan beban yang sedang di pikul oleh Daren.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......