
Dalam rangka memperingati ulang tahun kantor dan juga demi membangun team work yang baik para karyawan tengah di sibukan dengan berbagai kesibukan yang ada demi melancarkan acara yang akan berlangsung sebulan kedepannya, untuk kesuksesan acara karyawan mendedikasikan dirinya dan sering mengadakan rapat perihal olahraga apa saja yang harus di jadikan perlombaan dalam pekan olahraga nanti dan tentu saja hadiah yang akan diberikan yang bisa menjadi pemicu semangat seluruh karyawan untuk segenap hati memeriahkan perlombaan.
Setalah di adakan rapat beberapa kali dan memutuskan lomba apa saja yang harus di sertakan dan salah satu lomba yang di setujui adalah Futsal dan Dance untuk karyawan wanita dan tentunya masih banyak lagi, kini semua karyawan membuat kesepakatan tentang tim-tim yang akan bersaing karena Freya adalah salah satu divisi c dia pun ikut serta membantu divisi c serta berlatih bersama sedangkan Daren sibuk dengan divisinya sendiri. Dan sungguh karena kesibukan masing-masing jarak antara mereka berdua dirasa semakin menjauh.
.
.
.
.
.
.
.
“Frey kamu beneran gak mau ikutan lomba Dance bareng kita, ini juga maksimal tujuh orang kita lima orang ya kita udah minimal sih segitu, tapi kan seru kalau kamu ikut juga.” Daisy terus saja merajuk kepada Freya dan memohon agar dirinya ikut bergabung di tim dance alaynya Daisy bersama dengan Bella tentunya.
Freya merasa sudah bosan mendengar perkataan Daisy yang dengan gigihnya selalu saja memintanya untuk ikut bergabung di tim alay tersebut, bukannya tega namun Freya hanya memporsirkan dirinya menyadari dia tidak akan sanggup karena itu bukanlah kemampuannya. Bahkan Daisy masih saja gigih saat keempat orang tersebut yang selalu bersama kini tengah berjalan menuju kantin perusahaan. ”Bella kenapa hanya diam saja, kau juga bujuk Freya untuk ikut.”
“Aku lagi yang di suruh.” Bella sudah bosan mendengar permintaan Daisy.
“Sudahlah kalian jangan memaksa Freya, lagi pula Freya kan harus berlatih juga denganku.” Tangan James kini sudah tidak bisa di kondisikan sudah berani merangkul pundak Freya dan perlakuan James mengundang rasa amarah dari tatapan mata Daren yang tengah berjalan di belakang Freya walaupun agak jauh namun Daren tidak sebutan itu untuk tidak melihat tangan James yang dengan beraninya memegang bahu istrinya.
“Wah beraninya dia merangkul bahu Freya ku.” Langsung saja perkataan Jeff yang kini tengah beriringan berjalan bersama dengan Daren dan yang lainnya langsung mendapat pelototan tajam dari kedua sorot matanya. ‘Freya Ku.’ Tak berani berkata lagi Jeff hanya bisa mengunci rapat bibirnya diikuti gerakan tangannya menirukan cara orang menutup bibir rapat.
“Mampus kau Jeff.” Ledek Sean yang sudah menahan gelak tawa sedari tadi, dia menahannya karena melihat pancaran cemburu dari kedua bola mata Daren yang melihat seorang pria tengah merangkul Freya seolah pria yang di tatapnya kini dadanya akan bolong karena tatapannya.
“Kenapa dia diam saja di rangkul seperti itu.” Daren hanya bisa berkata dalam hatinya menahan gejolak emosi yang membara.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Tanpa ada niatan James ingin melepaskan tangannya dari pundak Freya dan begitu pula sebaliknya mereka kini tengah fokus berjalan menyusuri jalanan menuju kantin perusahaan, Daisy merasakan hawa panas dari belakang dan tanpa sadar kini dia sudah mengusap tengkuknya yang merinding dengan memberanikan diri dilihatnya Daren dengan temannya berjalan mengikuti langkah kaki mereka. Daisy terus saja mencekal pergelangan lengan Freya setelah menyadari keberadaan Daren, bukan tanpa alasan karena di lihat dari segi apapun tatapannya seperti ingin membunuh seseorang.
“Frey, frey lihatlah ke belakang ada suami mu yang seperti siap menerkam.” Daisy terus saja berbisik ke telinga Freya dengan pelan. Karena suara Daisy yang teramat pelan Freya tidak bisa mendengar kata-kata yang di
ucapkannya. Dan kini langkah Freya malah terhenti menunggu penjelasan Daisy.
“Ada apa Das ?” Sapaan akrab Freya untuk Daisy.
“Kenapa berhenti, ayo jalan lagi. Malah harus lebih cepat kalau bisa kita akan mati Frey.” Bingung dengan gelagat Daisy Freya hanya bisa mengkerutkan dahinya mencoba mencerna apa maksudnya akan mati. Dan kini langkah Bella dan James pun ikut terhenti karena gelagat Daisy. “Maksudmu apa, aku semakin bingung Das.”
Dengan langkah lebarnya kini Daren sudah lebih dekat jaraknya dengan Freya sementara tiga serangkai sedari tadi ikut tergesa-gesa menyusul langkah Daren. Melihat Daren yang sudah berada di hadapannya membuat Freya sedikit terperanjak kaget berbeda dengan tatapan Bella yang memang membenci boss arogannya itu lain lagi dengan Daisy yang sedang bersembunyi di belakang Bella menahan rasa takut.
“Siang pak.” Kompak Freya dan yang lainnya tetap menjaga etika di hadapan Daren yang memilki jabatan lebih tinggi dari mereka.
Mereka bingung, hah siapa yang sakit yang berada di tempat itu saling melempar pandangan satu sama lain. Kurang paham apa yang di maksud kamu itu siapa pikir mereka kenapa berbicara sepotong-sepotong.
“Kamu.” Menunjuk ke arah Freya dengan tatapannya. Sementara Freya hanya menunjukan dirinya dengan telunjuknya ‘Aku ?’ itu maksudnya. “Iya, kenapa kau di rangkul oleh lelaki ini ?” Tidak sudi menyebutkan namanya. “Bukankah itu tandanya kau tidak kuat berjalan. Sungguh rugi perusahaan ini memiliki karyawan lemah seperti mu.”
Meras terhina di katakan lemah langsung saja Freya menghempaskan tangan James dan menggeliatkan diri di hadapan Daren menunjukan bahwa dia bukanlah orang lemah dan terus memandangnya dengan tatapan tak kalah tajamnya. “Tidak, dan apa rugi. Perusahaan ini malah beruntung memiliki karyawan berbakat seperti ku.”
“Siapa ?” tanya Daren.
“Saya !” Jawabnya tegas.
“Peduli.” Daren langsung melangkahkan kakinya setelah berhasil menyingkirkan tangan pria yang tidak sudi dia sebutkan namanya sambil menyeringai merasakan kemenangan karena berhasil menggoda Freya.
Kedua tangan Freya terkepal erat menahan amarahnya kenapa seperti itu saja sudah terpancing emosi, sungguh kekanak-kanakan pikirnya. Dan Bella dari level benci menjadi level lebih benci lagi setelah melihat kelakuan bos arogannya itu.
“Wahh... Emang tuh bos arogan harus kita racunin kali biar mulutnya gak pedes kayak cabe. Dikira mah perhatian ternyata.... emmmm....” Amarah Bella sudah sampai di ubun-ubun. “Hei kamu jangan keras-keras nanti dia
__ADS_1
mendengarnya.” Daisy mencoba menutup mulut Bella dengan tangannya karena jika marah Bella mulutnya seperti tidak ada filternya.
“Sudahlah jangan ribut.” James mencoba menengahi. ”Lebih baik kita segera makan, nanti waktu istirahat habis. Dan Daisy lepas tanganmu nanti Bella mati kehabisan napas.”
“Maaf Bella.” Cengengesan tanpa rasa bersalah.
“Dasar kau kalau aku mati bagaimana ?” Kini Bella sudah meraup oksigen sebanyak banyaknya. “Dan ya kenapa tangan mu bau sekali ?”
“Hehe aku dari toilet tadi buru-buru belum cuci tangan dengan sabun. Tapi ini aku mau cuci tangan lagi kok kan mau makan.”
Mendengar perkataan Daisy langsung saja Bella mengejarnya dan siap memukul kepalanya.”Kau jorok berhenti ku pukul kepala mu biar sadar.” Melihat kekonyolan Bella dan Daisy hanya bisa mengundang gelak tawa James dan Freya yang melihatnya.
.
.
.
.
.
.
.
Please kalau kalian suka cerita author tolong di like sebagai bentuk penghargaan dan juga votenya buat ngedukung author.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
__ADS_1
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞