
“Freya maafkan aku aku tahu aku salah jangan tinggalkan aku. Apakah kamu akan meninggalkan ku ?" terlihat guratan ke khawatiran yang muncul dari wajah Daren.
"Tolong jangan tinggalkan aku. Apakah kau tidak percaya bahwa aku mencintaimu ?" Kini Daren sudah terbangun dari pangkuan Freya duduk bersimpuh di hadapannya dengan bertopang di kedua kakinya.
"Kak aku sudah memaafkan mu, dan sungguh aku ingin sekali mempercayaimu. Sungguh." Suara serak yang tercekat sungguh menyiksa Freya kini.
"Tapi aku tidak bisa, jangan seperti itu aku tidak ingin melihatnya berdirilah jangan bersimpuh seperti itu." Kedua tangan Freya sudah memapah kedua bahu Daren untuk berdiri.
Di pandangnya wajah Daren oleh kedua bola mata Freya yang terlihat juga merasakan kesedihan. “Kak berikanlah aku waktu, jangan terus mendesak ku.” Daren hanya diam tidak menimpali perkataan Freya.
“Kalau begitu aku masuk ke kamar aku sudah mengantuk dan ingin segera tidur, kak Daren juga tidurlah istirahat jangan membahas hal ini lagi.” Dan Freya pun berlalu meninggalkan Daren yang sudah kalut akan pemikirannya sendiri.
“Besok aku harus segera menemui mami aku tidak akan membiarkan Freya pergi bagaimana pun caranya.” Setelah mengatakan niatnya Daren juga kembali ke kamarnya tak sabar menantikan hari esok.
Di dalam kamar Daren terus saja merasa gelisah dia tidak bisa tidur mencoba memaksakan matanya untuk terpejam karena dia harus melakukan sesuatu yang besar besok sebelum semuanya terlambat.
“Tidurlah Daren kenapa kau masih terjaga, besok banyak hal yang harus kau lakukan.” Dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang selalu gelisah.
__ADS_1
“Apa aku telepon mami saja memintanya untuk membantu ku. Tapi pesan ku saja dia tidak membalasnya hanya di baca saja. Arggghhh kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini.” Daren terus menjambak rambutnya sendiri memukul kepalanya agar dia bisa melampiaskan seluruh kekesalan yang dia rasakan.
.
.
.
.
.
Dia ingat ternyata dirinya memutuskan untuk minum melampiaskan semuanya lewat alkohol yang di tegaknya hingga menghabiskan beberapa botol dia merasakan pengar karena terlalu banyaknya minum semalam. “Akhhh kepala ku rasanya sakit sekali.”
Daren mendengar seperti suara mobil dan dia melihatnya melalui jendela kamarnya alangkah terkejutnya ketika dia melihat Freya sudah menenteng kopernya yang sepertinya berisikan baju-bajunya dengan secepat dan sekuat tenaga Daren yang masih merasa pusing berlari dan mengejar Freya. “Tidak, tidak dia tidak boleh meninggalkan aku, Freya !!”
Suara Daren menggelegar mencoba memanggil nama istrinya yang sudah memasuki mobil dan siap untuk meninggalkan rumah yang selama beberapa waktu mereka tinggali bersama. “Freya !! Freya !! Berhenti, jangan berani kau meninggalkan aku Freya !!”
__ADS_1
Dengan berurai air mata Daren mengejar mobil yang membawa Freya bahkan dia tidak merasakan telapak kakinya yang memerah tidak mengenakan sandal, pandangannya kabur karena air mata yang mengenang di kedua bola matanya. “Freya, kembali Freya, Freya !!”
Sekuat tenaga Daren memanggil nama istrinya namun sepertinya Freya sudah tidak peduli lagi bahkan kini mobil yang membawanya sudah tidak terlihat di penghujung jalan yang berbelok. “Mana ponsel ku aku harus segera meneleponnya.”
.
.
.
.
.
Udah ah gak mau ngombong lagi yang penting jarinya jangan lupa di mainkan 🤣🤣
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......
__ADS_1