
Pagi yang cerah Freya tengah berkutat di hadapan laptopnya dengan tangannya yang masih sibuk mengetik dengan teknik sepuluh jarinya, keningnya yang sedikit berkerut memeriksa apakah ada kesalahan dalam pengetikannya dan setelah dirasa cukup Freya mencetaknya dengan mesin printer.
Daren yang tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi dan disuguhkan dengan camilan serta minuman terganggu akan kehadiran Freya yang menutupi arah pandangnya terhadap televisi yang sedang dilihatnya.
Sambil berkacak pinggang Freya menyerahkan kertas tersebut terhadap Daren.
"Apa ini ?" tanya Daren keheranan.
"Baca saja"
"Jadwal tugas ? " Daren semakin bingung untuk apa Freya membuat jadwal tugas dan dibuat sangat terperinci.
" Iya itu jadwal tugas, dan kita harus jaga privasi masing-masing. Kak Daren setuju, kan ? "
" Tentu jika masalah privasi memang kita harus menjaganya masing-masing."
Sebenarnya bukannya tidak sakit perasaan Freya kini, bahkan sangat sakit. Tapi jika harus melihat Daren setiap waktu rasanya Freya yang tidak akan sanggup. Bukan rasa cinta Freya yang menghilang, hanya saja sepertinya cara ini yang terbaik.
" Mulai sekarang takkan begitu lagi, Freya akan berusaha tidak menganggu kak Daren sebisa mungkin." menarik nafasa panjang sebelum meneruskan penjelasnnya. " Mulai sekarang saat kak Daren pergi, akan kubersihkan semua rumah. Dan Freya akan keluar saat kak Daren sudah pergi, atau sebelum kak Daren pergi Freya yanh akan keluar terlebih dahulu. Semua sarapan dan makan malam kakak juga akan kusiapkan. Kalau butuh sesuatu, tulis dimemo itu." sambil menunjuk ke arah kulkas.
Daren yang masih tampak bingung terus membolak-balikan kertas yang hanya berisikan satu lembar jadwal saja, dia tidak mengerti kenapa Freya melakukan hal konyol seperti ini. Dan bukankah selama ini baik-baik saja. Dia dan Freya sudah tinggal satu rumah sejak Freya kuliah.
Kenapa harus ada peraturan untuk tidak saling bertemu, apa mungkin dia sudah kehilangan akalnya pikir Daren.
" Kalau begitu Freya permisi dulu."
Daren masih menganga tak sempat mengatakan apapun, dan hanya melihat punggung Freya yang semakin menjauh.
°
°
°
^•√•^
°
°
°
Keesokan paginya sarapan benar-benar sudah disiapkan oleh Freya, Daren terus melihat ke arah pintu kamar Freya. Dan nampaknya Freya memang sudah pergi bekerja. Dengan santainya Daren duduk dan memakan sarapannya.
Sementara di kantor Freya sudah disibukan oleh berbagai pekerjaan yang banyak dan menggunung-gunung.
" Ada bagusnya juga banyak pekerjaan." gumam Freya.
" Apanya yang bagus ? " tanya Daisy kebingungan.
" Tidak, tidak apa-apa. Baiklah aku ingin melanjutkan pekerjaanku."
" Baiklah." Daisy yang melihatnya terheran-heran. Ada Apa dengan Freya di semakin gila setelah menikah.
Freya sekuat tenaga untuk tidak berpapasan dengan Daren bahkan di kantor sekalipun, jika ada kesempatan untuk bertemu Freya akan bergegas untuk sembunyi. Bahkan saat Daren tidak menyadarinya karena kesibukannya.
__ADS_1
Daisy semakin frustasi melihat tingkah Freya seolah-olah dia adalah seorang maling, ataupun orang dengan hutang yang sangat banyak. Membuat kepala Daisy berdenyut setiap melihat tindakan yang dilakukan Freya.
" Freya ! " teriak Daisy setelah berusaha menahan kesabarannya. " Apa tidak sebaiknya kita pergi ke dokter saja ? "
Mendengar kata dokter langsung panik dan mendekat ke arah Daisy sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Daisy dan mengecek suhu tubuhnya dan menyamakan dengan suhu tubuh Freya dengan cara yang sama.
" Tapi kau tidak demam, apa yang sakit ? " Freya mulai panik. " Dimana sakitnya ? "
" Hah lupakan saja ! "
Daisy langsung meniggalkan Freya yang sedang berteriak memanggil namanya. Namun teriakan Freya berhenti setelah mendengar suara Daren seperti mendekat disertai suara gelak tawa teman-teman Daren, yaitu Jeff, Levon, dan Sean.
Dengan sekuat tenaga Freya langsung melarikan diri dan menyusul Daisy dengan kecepatan tinggi bak motor pembalap profesional tapi tanpa bensin untuk bahan bakarnya.
" Kenapa saat berusaha menghindar malah sering bertemu, takdir memang sangat lucu."
keluh Freya dalam hatinya.
Jeff yang masih sempat melihat punggung Freya sebelum berbelok, merasa heran kenapa berlari sekencang itu, kalau tersandung bagaimana.
" Kenapa Freya sepertinya terburu-buru ? " entah terhadap siapa pertanyaan itu dia ajukan.
Sean dan Levon yang melihat ke arah yang ditunjuk Jeff merasa heran karena tidak melihat adanya Freya.
" Mana ? " tanya Sean.
" Tadi di sana, sekarang dia sudah pergi. "
" Kalau suka memang susah, selalu berhalusinasi." goda Levon.
" Beneran, aku gak bohong ! " Jeff tidak terima.
" Cepatlah kita banyak kerjaan, jangan bercanda saja." menyingkirkan lengan Sean dari bahunya.
" Sepertinya susah, lihat saja kakaknya seperti gunung es." timpal Jeff.
Sementara Daren semakin mempercepat langkah kakinya meninggalkan yang lainnya.
°
°
°
^•√•^
°
°
°
Sudah hampir dua minggu Freya bersikap seperti itu, terus berusaha menghindari Daren. Daren melihat rumah sunyi senyap dan melihat makan siang sudah disiapkan di meja makan. Lama-lama Daren merasa kesepian dan merasa seperti hidup sendiri, Daren pun mulai membuat ulah.
Daren menggedor pintu kamar Freya dengan keras dan gedoran di pintu kamar Freya sungguh memekakkan telinga.
__ADS_1
" Freya, keluarlah ! "
Freya dengat sangat kesalnya membukakan pintu kamarnya dan mengeluarkan kepalanya sedikit.
" Keluarlah ! "
" Tulis saja di memo, kalau malas kirim pesan saja juga tidak apa-apa."
Freya langsung menutup pintu dan meninggalkan Daren yang masih berdiri di depan pintu.
Daren kembali menggedor pintu kamar Freya lagi. Dan semakin kesal karena respon yang diberikan oleh Freya.
" Freya, Aku mau bicara. Hey! Hey! Freya."
Freya dengan sangat kesalnya keluar dari kamarnya dan menatap tajam ke arah Daren, jika mata Freya memiliki laser mungkin sudah membuat mata Daren buta dilihatnya.
" Apa ? Kakak mau apa ? "
" Apa? " Daren yang bingung karena mendapatkan pertanyaan dari Freya mulai bingung dan mencari-cari alasan. " Rumah ini kotor sekali. Bersihkan semuanya."
" Nanti kukerjakan." menjawab dengan ketusnya.
" Nanti? Nanti kapan ? " mulai meninggikan suara " Kubilang bersihkan sekarang juga."
Freya melotot dan menutup pintu kamarnya dengan kesal segera mengambil peralatan untuk membersihkan rumah.
Daren dengan senyum puasnya dan duduk santai di sofa empuknya sambil memakan camilannya melihat Freya membersihkan rumah dengan terus menghentak-hentakan kakinya. Tapi bukan Daren namanya jika tidak membuat ulah, seperti tidak cukup membuat Freya yang mengerjakan pekerjaan rumah setengah hati dia bahkan terus berbuat usil.
" Yang itu belum." Daren menunjukan ke arah lainnya. " Bersihkan semuanya! aku tidak suka pekerjaan yang setengah-setengah."
Freya hanya diam sambil mengepel dan mempererat pegangannya pada gagang pelnya.
" Lagipula untuk apa hanya diam di dalam kamar, lebih baik kau banyak bergerak itu baik untuk kesehatanmu."
" Aishh ingin aku pel saja mulutnya itu !"
" Apa ? aku ingin mengepel mulutku juga ? "
Spontan Freya menoleh dan bertanya-tanya bagaimana dia tahu.
" Ala kau lihat-lihat, cepat lanjutkan. Dan kerjakan pekerjaan yang lainnya. Entah kenapa akhir-akhir ini rumah sepertu tidak terawat."
" Sabar Freya, sabar."
°
°
°
^•√•^
°
°
__ADS_1
°
Jangan lupa klik favorit, like dan komentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku 😘🤗💞💞