Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Jadilah Sekertarisku


__ADS_3

Kini hanya suara isakan yang terdengar dibalik selimut yang menyelimuti tubuh yang terlihat ringkih itu, sungguh perkataan yang terus saja di lontarkan oleh Daren rasanya seperti dirinya diiris perlahan oleh sebuah pisau, namun sepertinya rasa itu malah lebih sakit daripada irisan sebuah pisau dari dalam dirinya. Freya tahu Daren tidak mencintainya namun jika Daren menunjukannya seperti itu sungguh rasanya belum sanggup dirinya untuk menerimanya. Apakah setakut itu jika orang-orang mengetahui tentang pernikahan meneka, apakah sungguh tidak ada satu celah pun untuk dirinya di terima dalam hati Daren bahkan sekecil pun tidak adakah.


 Mencoba terus menahan air matanya yang terus saja mengalir dengan derasnya namun dia rasa dia tidak sanggup untuk menahannya terasa perih kini hati dan matanya sehingga lagi dan lagi air mata itu kini telah lolos dengan mudanhnya melewati pipinya yang mulus. Ia yakin besok pagi matanya akan bengkak karena dirinya yang tidak ada


hentinya menangis, terlalu menyakitkan untuk tidak ia keluarkan rasa sakitnya melalui air matanya.


Setelah dirasa cukup tenang walau masih terdengar suara sesegukan Freya mencoba memikirkan rencana, apakah ada jalan untuk dirinya tetap bisa bekerja di kantor, sehingga membuat Daren menyerah untuk membuatnya berhenti dari kantor. Sungguh Freya sangat menyukai pekerjaannya kini dan jangan lupakan suasana kantor dan juga sahabatnya yang sudah seperti keluarga baginya bagaimana bisa dia dengan mudahnya berhenti dan harus berdiam diri di rumah, ataupun jika dia harus berpindah tempat kerja setelah Daren berhasil mencarikannya tempat lain untuk bekerja.


Sehingga dengan tekadnya yang kuat kini dia sudah yakin akan melancarkan aksinya besok pagi dan membuat Daren tidak berani lagi, sungguh kini Freya akan menantang Daren secara terang-terangan karena sudah berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan yang dirasakan olehnya kini. Sudah cukup kesakitan dalam dirinya yang tidak dicintai apa sekarang juga kesakitannya harus bertambah dengan keegoisan dari Daren, bahkan dirinya


berusaha untuk selalu mengikuti keinginan Daren, namun apa kini dirinya harus berhenti bekerja, tidak ini adalah hal pertama yang tidak akan pernah Freya turuti atas perintah Daren.


Kicauan burung membangunkan Freya dari tidur lelapnya, walau terasa sangat berat ketika hendak membuka kedua kelopak matanya yang terasa menempel keras. Dengan sigap kini dirinya dihadapkan di bawah guyuran shower kamar mandi yang memberikan kesejukan ke seluruh tubuhnya sehingga memberika ketenangan dan


dirinya kini merasakan keringan dari dalam tubuhnya.


Tanpa menunggu bahkan mempersiapkan sarapan seperti biasanya Freya sudah begegas setelah memakan du helai roti dan segelas susu kini Freya sudah bersiap dengan setekah kantornya dan jangan lupa dengan senjatanya setelah dia membuka kotak yang tadi berada dalam kamarnya dan mengeluarkan isinya dan sekarang cincin tersebut sudah terpasang pas di jari lentiknya. Freya akan memancing orang-orang kantor dengan cincin tersebut dan mengungkapkan bahwa dirinya sudah menikah sehingga hal tersebut di yakini Freya bisa membuat Daren tidak berani lagi untuk memintanya mengundurkan diri, Freya akan mengancam dan memberitahu siapa nama suaminya sehingga mau tak mau Daren akan mengalah.


“Ini adalah hadiah untuk mu sayang.” Gumam Freya sambil menampilkan senyuman jahatnya.


Berhasil dengan rencananya, kini banyak karyawan kantor yang bergosip tentang pernikahan Freya, dan bertanya-tanya siapakah suaminya dan kenapa dia harus menyembunyikan pernikahannya, bahkan Freya tidak mengundang karyawan kantor satupun. Dengan kekuatan mulut manusia dibantu dengan penyebaran gosip melalui smartphone pintar gosip tersebut sudah terdengar di telinga semua karyawan kantor dan tentunya sampai di telinga Daren dan Emily tentunya.


“Apalagi yang dilakukan si pembuat onar kali ini.” Gumam Daren.


Namun Freya tidak mengetahui akibat tindakan tersebut banyak hati laki-laki yang patah karena mengetahui fakta tentang dirinya yang sudah menikah, termasuk James dan tentunya sahabat Daren Jeff yang diam-diam namun terlihat dari tingkahnya sangat mencintai Freya.


James sendiri tidak menyangka kini dirinya seakan kehilangan kesempatan untuk bisa bersanding dengan wanita yang dicintainya selama dua tahun mereka bekerja bersama, merasa tidak percaya kini dirinya memberanikan diri untuk melihat secara langsung cincin yang kini tengah terpasang si jari Freya. Sungguh sesak dan rasanya tidak percaya apakah ini nyata atau ini hanya mimpi buruk. Jika mimpi sungguh James berharap seseorang membangunkannya dirinya tidak ingintidur lebih lama lagi dari mimpi buruk tersebut.


Kini tanpa sadar James mendekati Freya yang tengah duduk santai di cafeteria perusahaan mereka dia ingin memastikan secara langsung mendengarnya dari mulut Freya apa benar dia sudah menikah. Dengan hati-hati kini tangannya terulur untuk menark kursi yang berada di samping Freya dan mendudukinya secara perlahan.


“James.”

__ADS_1


“Frey apa kau punya waktu sebentar ?” mencoba mengatur perasaanya “Ada yang ingin aku tanyakan.”


“Iya, apa itu ?”


“Apakah kamu benar-benar sudah menikah ?” langsung berbicara kepada intinya. “Aku tahu, hanya saja aku ingin mendengarnya dari mulutmu langsung.”


Dengan tersenyum canggung Freya menganggukan kepalannya secara perlahan, sebenarnya dia tahu kini dirinya sudah menyakiti perasaan James ada rasa tidak mengenakan dalam hatinya, tapi inilah kenyataannya dirinya tidak mungkin membohongi James.


“Iya.”


Seketika jawaban Freya sungguh meruntuhkan sedikit penyangkalan dalam diri James sepenuhnya, dan merasakan bahwa kali ini benar-benar nyata. Freya yang sudah mengatakannya secara langsung tepat di hadapannya.


“A.... aku minta maaf.” Terdengar suara Freya sedikit bergetar.


“Kenapa kamu meminta maaf ?” tersenyum dengan senyuman yang di paksakan kamu tidak melakukan kesalahan. Ini adalah kesalahanku karena aku jatuh cinta kepadamu.”


Mendengar kata jatuh cinta sungguh membuat beban perasaan dalam diri Freya bertambah kini dirinya sadar sudah menyakiti perasaan James, sahabatnya yang berharga yang selalu membantunya. Tapi Freya bisa apa, bahkan rasanya aneh jika dia menghibur James sekarang, karena kesakitannya berasal dari Freya.


“Aku hanya meminta kamu jangan mengabaikan ku Frey, tetaplah jadi sahabatku. Baiklah kalau begitu aku pergi.”


Kini hanya tinggalah Freya dengan segala pikirannya setelah ditinggalkan pergi oleh James, dirinya hanya duduk bersantai dan tak terasa jam istirahat telah usai sehingga mengharuskan dirinya beranjak dari tempat duduknya kini untuk melanjutkan pekerjaan yang kini tengah menunggunya.


Karena rasa penasaran wanita-wanita kantor kini mereka mendatangi meja kerja Freya dan menginterogasi tentang seperti apa sosok suaminya tersebut, menanyakan apakah suaminya sering bersikap romantis seperti membantu setiap pekerjaan rumah mereka, ataupun sering memberikan hadiah romantis yang tidak pernah di duga-duga.


“Tidak kak Elis dia malah seperti bersikap seorang tuan muda jika berada di rumah. Bersikap romantis jangan berharap bahkan setiap hari dia hanya meneriaki ku saja, dirinya seperti hidup di dunianya maka dari itu aku tidak berani membantahnya, karena kemarahannya sungguh menakutkan. ”  Freya tanpa sadar membeberkan aib suaminya, walaupun itu memang kenyataanya


“Kenapa dia seperti itu, kamu jangan mau ditindas oleh pria seperti itu. Jangan terlalu mencintai laki-laki yang bersikap seperti raja.”


Perkataan mereka terpotong ketika terdengar suara yang sangat dikenal oleh Freya memotong percakapan diantaranya. Mereka terkejut dan langsung membelalakan mata mereka bulat-bulat terdengar suara atasan yang galak megintrupsi mereka, sehingga menguratkan rasa kekecewaan elis dan wanita-wanita penggosip yang turut hadir menemani berakhirlah acara gosip-menggosip tersebut.


“Daripada menghabiskan waktumu untuk bergosip, seharusnya kamu menyelesaikan pekerjaanmu. Atau mau kutambah pekerjaanya ?”

__ADS_1


Dengan gugup Elis membuat alasan bahwa mereka bukan sedang bergosip tapi sedang berdiskusi tentang ide untuk mereka rapat nanti dan mengedipkan sebelah matanya meminta yang lainnya untuk bekerja sama meyakinkan bahwa mereka tidak lalai dalam bekerja. Dengan canggung mereka hendak meninggalkan tempat


tersebut namun lagi-lagi mereka dibuat terkejut sampai mulut mereka seikit terbuka dengan keputusan yang diambil oleh Daren.


Langkah Daren dipersempit dengan menghampiri Freya dan tepat berhenti di hadapannya, sehingga mata mereka saling bersitatap.


“Aku punya pengumuman. Mulai sekarang, nona Freya akan menjadi asisten pribadiku. Jadilah sekertarisku.”


“Hah ?” hanya kata-kata itu yang lolos dari mulut Freya, dirinya sungguh tidak tahu lagi rencana apa yang sedang dimainkan oleh pria di hadapannya yang pandai sekali dalam berakting, setelah semalam memintanya  berhenti  dari kantor mencoba menjauhkannya dari hal yang disukainya, sekarang dengan mudahnya mengatakan dia harus menjadi asisten pribadi Daren. Freya memang tidak pernah bisa membaca pikiran Daren yang selalu saja dengan mudahnya berhasil mengejutkan dirinya.


“Apa kamu pikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan.” Bisik Daren di telinga Freya dengan sedikit membungkukkan badanannya. ”Baiklah aku akan mengikuti permainan mu tapi jangan harap kamu bisa lepas dari


pengawasanku.”


Kini dirasa sekujur tubuh Freya sedikit bergetar ketika mendengar pernyataan dari mulut suaminya yang selalu tajam dan sekarang semakin tajam, bagaimana bisa Freya seperti menggali lubangnya sendiri, pasti dirinya akan


disiksa dengan hal tersebut.


“Baiklah Freya sekarang kemasi barang-barang di mejamu dan pindah ke ruanganku sekarang juga. Aku beri waktu sepuluh menit harus sudah selesai.” Menampilkan senyuman jahatnya.


Dan kini Freya hanya bisa menggerutu dalam hatinya bagaimana dia mempunyai suami dan bos yang galak tidak cukup di siksa di rumah sekarang di kantor juga. Dengan tergesa-gesa kini tangannya sibuk memasukan semua barang-barang kantornya ke dalam dus bahkan perkataan Daisy dan Bella hanya di jawab sekenanya karena sekarang Freya di kejar oleh waktu, dia hanya menjawab bahwa dirinya akan menjadi sekertaris pribadi Daren, membuat Daisy dan Bella hanya bisa membelalakan matanya.


Bella menatap sedih kepergian Freya meraskan bahwa sebentar lagi neraka akan datang menghampirinya, Bella yang masih tidak tahu bahwa Daren adalah suami dari Freya terus merasa khawatir berebih bagaimana jika sahabatnya itu disiksa, berbanding terbalik dengan Daisy yang hanya diam tak merespon kekhawatiran Bella yang  terus saja di lontarkannya. Tentu saja dia tidak khawatir Daren adalah suami Freya pasti sahabatnya akan baik-baik saja.


Jangan lupa


klik favorit 📌


like 👍


Dan komentar nya ya 💌

__ADS_1


Dan jangan lupa juga vote❤️


Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞


__ADS_2