
Setelah pengumuman tentang pernikahan Freya di ketahui oleh semua orang ternyata para komite perusahaan masih penasaran dengan hubungan Daren dan Freya sehingga mereka menahan pasangan yang baru saja terungkap itu untuk tetap tinggal.
“Aku hanya ingin tahu mengapa kamu menikah dengan Daren?” Tanya salah satu komite perusahaan kepada Freya yang sudah menunjuk Daren dengan matanya. ”Bagaimana kamu bertemu dengannya ?”
“Karena keberuntungan ?” Goda yang lainnya.
“Apakah kamu mendapatkannya secara gratisan ?” Tentu saja pertanyaan itu membuat yang lainnya tergelak tawa mendengarnya.
Tak ingin terlalu jauh Freya pun segera menjawabnya. “Tidak, karena kami tinggal berdekatan.” Dan jawaban yang di berikan Freya membuat yang lainnya menggoda pasangan yang berada di depan mereka.
“Jadi, kenapa kamu ingin menikah dengannya ?” Tanya komite perusahaan tersebut yang sedari tadi aktif bertanya.
“Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Pernikahan kami sudah diatur oleh para orang tua.” Mendengar jawaban Freya membuat Daren yang berada di sebelahnya sedikit cemberut.
“Apa kamu tidak lelah menjadi istrinya ?” Pertanyaan kali ini membuat Freya menoleh ke arah Daren dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti sementara Daren hanya tersenyum jantungnya berdebar menanti jawaban Freya.
“Aku lelah.” Menjawabnya sembari menghembuskan nafasnya secara kasar. Semua orang terdiam termasuk Daren yang hanya bisa melihat raut wajah Freya yang terlihat biasa saja setelah mengucapkan kata-kata yang membuat dada Daren terasa nyeri.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Daren hanya diam sepanjang hari memikirkan rasa bersalahnya kepada Freya yang selama ini telah dia lakukan dia sadar bahwa sikapnya selama ini keterlaluan kepada Freya. Bahkan ketika pulang dari kantor dan selama di dalam mobil keduanya hanya diam dan tak berbicara satu patah kata pun.
Mobil yang Daren kendarai sudah sampai di depan rumah mereka tanpa mengatakan apapun Freya langsung meninggalkan Daren dan berlalu menuju kamarnya. “Kak aku masuk ke kamar duluan aku lelah dan ingin segera istirahat.”
Sementara Daren ragu harus mengikuti Freya atau naik ke kamarnya. Dan akhirnya Daren mengikuti Freya ke dalam kamar Freya. “Kak kenapa mengikuti ini kamar ku, kamar kakak di sana.” Sembari menunjuk arah tangga yang menuju kamar Daren.
“Iya aku tahu, tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan.” Katanya sembari menahan Freya yang seperti ingin segera memasuki kamarnya.
“Tapi kak bisakah nanti karena aku ingin mandi terlebih dahulu, kakak juga mandilah nanti kita bertemu di ruang tengah saja.” Freya sudah tersenyum ke arah Daren yang nampak ragu-ragu anatar menuruti perkataan Freya atau tidak.
Jujur saja rasanya mengganjal di dalam hati Daren karena tidak bisa mengatakannya segera. “Baiklah aku juga akan mandi kalau begitu dan kita langsung bertemu di ruang tengah, kamu jangan terlalu lama mandinya.”
__ADS_1
“Iya baiklah, aku merasa badan ku lengket saja.”
Daren pun segera berlari ke arah kamarnya dan bersiap untuk mandi untuk bisa segera meminta maaf kepada Freya. Selama di dalam kamar mandi Daren menyusun kata-kata yang akan di ucapkannya di dalam kepalanya mencoba mengingat-ingat agar dia tidak salah bicara nantinya.
Setelah mandi Daren bergegas mengganti bajunya dan mengeringkan rambutnya dengan menggosok handuk dengan keras agar rambutnya segera mengering.
.
.
.
.
.
Author mau malak Vote boleh, nih pisau buat malaknya🔪🔪🔪🔪 vote gak nih melayang nih pisaunya 😒🙄😒
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya.....
__ADS_1