
Insiden di dalam club sungguh masih terbayang-bayang diantara keduanya yang kini sudah berada dalam satu mobil yang sama dengan tujuan yang sama, tidak ada yang membuka suara perihal tentang apa yang terjadi. Namun tidak bisa di pungkiri kini hati Freya tengah berbunga-bunga karena perlakuan Daren sehingga senyuman terus terpancar dalam diri Freya.
Dengan ragu-ragu Freya mencoba membuka suaranya ketika keduanya sudah menginjakan kakinya di ruangan tengah rumahnya. Freya memanggil nama Daren yang kini tengah berjalan mencoba masuk ke arah kamarnya. “Kak Daren.”
Mendengar namanya di panggil Daren menoleh ke arah Freya. “Ada apa ?”
“Soal kejadian tadi...”
“Lupakan soal tadi aku hanya ingin menyingkirkan wanita itu.” Jawabnya acuh namun dalam hatinya merutuki kebodohannya. Pernyataan Daren membuat dada Freya sesak dan matanya mulai memerah menahan tangis yang rasanya ingin
pecah saat itu juga, namun karena harga dirinya Freya berusaha menahannya, tidak ingin terlihat lemah di hadapan Daren.
“Maksud kak Daren apa ?” Mulai meninggikan suaranya dan terdengar lantang. “Jadi kak Daren hanya memanfaatkan aku begitu. Jadi apa mau mu ?”
Mendengar suara Freya yang meninggi dengan pertanyaan sinisnya menyulut emosi Daren. “Bukannya kau tau itu tujuan kita menikah dan lagi pula bukannya kau juga tahu bahwa kita akan segera bercerai !”
“Oh jadi itu mau kak Daren baiklah mari kita bercerai namun jangan harap itu akan mudah.” Kini Freya sudah berani mengancam Daren.
“Apa maksudmu ?” tanyanya sedikit bingung di kata-kata akan mudah.
“Jika kak Daren ingin bercerai denganku berikan aku uang kompensasi karena kakak seenaknya memainkan perasaanku. Satu milyar adalah uang kompensasinya dan jika kakak sanggup hari itu juga kita cerai, itu sebagi uang kompensasi karena kakak sudah membuat perasasaan ku terluka. Terluka karena aku sudah sangat bodohnya mencintaimu. Dan ya jika kakak tidak sanggup untuk membayar uang kompensasi tunggu aku sampai aku bisa mencintai seseorang dan aku bisa menikah dengannya.”
__ADS_1
Kini napas Freya tengah memburu karena tersenggal setelah berbicara tanpa jeda di tambah dengan sedikit berteriak membuat tenggorokannya sedikit merasa sakit namun lebih sakit hatinya. Sementara Daren hanya bisa mematung tidak percaya dengan perkataan yang baru saja di ucapkan Freya. Kini Freya sudah berlari menjauh dari hadapan Daren dan membanting pintu kamarnya dengan keras bahkan sebelum Daren mengatakan satu patah kata pun dari mulutnya.
”Jadi Freya mencintaiku ?” Masih sedikit tidak percaya. ”Dan apa aku bayar satu milyar dari mana aku dapatkan uang itu, dan apa dia akan mencari laki-laki lain. Beraninya dia !!” Di jambaknya rambutnya sendiri dengan kasar merasakan pusing dengan kejadian yang baru saja terjadi, sakit hati yang di rasa entahlah semuanya sudah bercampur menjadi satu. Dan apa yang harus dilakukannya kini dirinya hanya bisa mengerang frustasi.
Sementara di dalam kamar Freya dia hanya bisa menangis menumpahkan segala rasa kesedihannya yang menerpa namun dirinnya berpikir tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan dan untuk apa bersedih pada pria yang sangat egois karena belum tentu pria itu melakukan hal yang sama. Freya bangkit dari dan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan seluruh badan dan mencoba mendinginkan pikirannya dengan basuhan air dingin mungkin itu akan sedikit membantu pikirnya.
Dirasa sedikit tenang kini Freya sudah berbalutkan selimut setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya dan sebelum memejamkan matanya Freya bertekad dengan keras akan benar-benar melupakan Daren si pria egois itu kali ini harus benar-benar terjadi jangan lemah lagi pikir Freya dan segera setelah berdebat dengan pikriannya muncul pikiran lain cara mencari peyembuh lukanya. “Aku harus bahagia, semangat Freya !!” Namun sekali lagi air matanya lolos dari kedua bola matanya. “Jika di kehidupan ini kita tidak bisa bersama aku harap di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama.”
Kedua kelopak mata itu pun meredup setelah beberapa saat menyuarakan tekadnya yang menggebu-gebu meyakinkan dirinya untuk tidak lebih lama lagi menahan rasa sakit yang dia rasa cukup sampai disini karena mungkin di kehidupan sekarang Daren bukanlah jodohnya.
Sudah beberapa hari ini tekad Freya dibuktikannya dengan nyata dirinya kini acuh kepada Daren bahkan sangat acuh, tidak ada sarapan pagi di meja makan seperti biasanya, tidak ada makan malam setelah Daren pulang kantor, tidak ada sepatu ataupun kaos kaki yang biasa di siapkannya untuk di kenakan Daren. Jika di kantor pun Freya hanya berurusan dengan Daren masalah pekerjaan saja. Istirahat makan siang pun selalu di habiskannya bersama Daisy, Bella, dan James tentunya.
Sebetulnya sikap yang ditunjukan Freya sedikit membuat hati Daren terluka dan sedih kadang dirinya kurang tidur karena memikirkan permasalahan antara dirinya dan Freya. Jeff dan yang lainnya bukannya tidak menyadari pertengkaran yang tengah terjadi antara temannya itu namun mereka juga merasa tidak berhak mencampuri
urusan Daren.
Bahkan kini Freya terlihat acuh bahkan setelah mendengar Sean mengatakan bahwa wajah Daren pucat. “Daren kau pucat sekali, sudah lah jangan di paksakan istirahatlah sebentar.” Telinga boleh saja mendengar perkataan Sean namun arah pandangannya tetap saja tertuju pada Freya yang kini acuh bahkan jelas-jelas Freya mendengarnya karena kini Freya berada di sampingnya sedang memeriksa beberapa berkas.
“Aku sudah memeriksa berkas ini, aku izin ke meja ku untuk lanjut mengerjakannya.”
Rasanya perkataan Freya seperti timah panas yang menyentuh kulitnya dan masuk ke dalam hatinya, apakah ini sudah fatal pikir Daren. Apa yang sebenarnya aku inginkan.
__ADS_1
Suara pesan masuk ke dalam ponsel Daren dan membuat raut wajahnya bahagia karena yang mengirimnya pesan adalah Freya gadis yang beberapa hari ini mengacuhkan dirinya. Namun raut wajahnya kembali murung setelah
membaca pesan yang dikirimkan Freya. “Aku malam ini tidak pulang, Daisy memintaku untuk menginap. Bukan apa-apa hanya ingin memberitahukan saja.”
Sean yang geram tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya karena sudah jengah melihat Daren yang seperti zombie. “Sebenarnya ada apa dengan kalian hah ?” Menatap ke arah Daren namun yang di tatap malah menatap ke arah lain ya tentunya ke arah Freya tidak mungkin Jeff ataupun Levon karena permasalahan terjadi antara dirinya dan Freya.
“Tidak ada apa-apa , sudahlah lanjutkan saja pekerjaanmu.” Menjawabnya dengan datar seperti orang kurang darah.
Tidak ingin membuat dirinya naik darah Sean berlalu meninggalkan Daren yang sudah kembali terhadap pekerjaannya, percuma saja bertanya jika Daren belum siap untuk untuk menceritakannya. Jika memaksa pun hanya akan buang-buang energi pikirnya.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞
__ADS_1