
Niat awal Daren yang ingin menjemput Freya kini di lupakannya karena ciuman yang dia sendiri tidak menduganya semuanya sangat mendadak bahkan dirinya pun tidak tahu apa yang harus di lakukannya, dengan langkahnya kini Daren sudah meninggalkan Freya yang masih setia berdiri di tempatnya, hingga mobil di lajukan pun Freya masih tidak bergeming dari tempatnya.
Dan Kini tinggalah Freya sendiri yang sudah di tinggalkan oleh Daren dengan ditemani dinginnya angin malam dan lampu dari gedung yang berada di dekatnya yang sedikit memberikan cahaya dari gelapnya malam.
Merasa kalut dengan pikirannya Freya memutuskan untuk mencari angin segar untuk menenangkan pikirannya, hingga terlintas di pikirannya tempat yang cocok untuknya untuk menghilangkan kegusaran yang tengah di rasakannya kini. Tanpa berpikir dua kali kini langkahnya mantap mencari kendaraan yang siap sedia mengantarkannya ke tempat tujuan.
Dengan bermodalkan sebelah lambaian tangan kini sudah ada kendaraan roda empat yang berhenti tepat di hadapanya siap mengantarkan Freya kemanapun ke tempat yang di tujukannya, hanya dengan ucapannya saja.
Sementara kendaran roda empat milik Daren kini sudah terparkir di halaman rumahnya dan mempersilahkan sang pemilik untuk turun. Kini sepasang kaki tersrebut sudah menginjakannya ke atas tanah dan bergerak memasuki rumah yang sedari tadi di tujunya. Di rebahkannya tubuhnya yang sedari tadi merindukan sesuatu yang empuk untuk menyandarkan beban dari tubuhnya yang meminta untuk dimanjakan dengan kenyamanan.
“Huh, nyamannya. Rasanya sungguh melelahkan.”
Hingga tanpa sadar kini kedua kelopak mata yang sedari tadi siap meredup kini tertutup dengan rapatnya diikuti dengkuran halus yang terdengar dari tenggorokannya. Menandakan bahwa kini Daren sudah memasuki alam
mimpinya.
Entah kenapa kini sepasang mata tersebut terbuka dan langsung saja di lihatnya jam yang kini melingkar di pergelangan tangannya, dan menyadari dirinya sudah tertidur selama satu jam. Pikiran Daren langsung saja tertuju pada gadis yang kini sudah menjadi istrinya.
“Apakah dia sudah kembali ke rumah.” Rasa penasaran dalam dirinya muncul menyeruak begitu saja “Tapi kenapa aku tidak mendengar ada suara dia memasuki rumah, apa karena aku terlalu lelap tadi ketika tidur.”
Rasa penasarannya di gantikan dengan derap langkah kaki yang sudah menuju kamar Freya, diketuknya pintu tersebut namun sayang beberapa kali dia ketuk tidak ada tanda akan ada seseorang yang menyahutinya dan membukakan pintu untuknya.
“Freya apa kau di dalam, tolong bukalah pintunya. Frey.” Hening tidak ada jawaban.
Merasa lelah di dorong pintu tersebut dan benar saja tidak ada sosok Freya di dalam kamar. Membuat Daren semakin kebingungan dibuatnya dan tentunya menimbulkan ke khawatiran yang mendalam.
Sempat terpikirkan ke arah kamar mandi dan seperti sebelumnya di ketuklah pintu tersebut dan sama tidak ada jawaban di doronglah pintu yang tidak terkunci tersebut dan hasilnya sama tidak ada sosok Freya di dalam kamar mandi.
Kini ke khawatiran muncul dari raut wajah Daren, semua pikiran negatif sudah masuk ke dalam kepalanya. Apa yang sudah terjadi dengan gadis pembuat onar tersebut, itulah yang kini berada dalam pikiran Daren.
“Apa dia mati saking kesalnya.” Kini pikiran mengerikan itu yang muncul dalam kepalanya yang keras. ”Ah tidak mungkin, dia bukan orang yang seperti itu.”
Kini tangannya bergerak masuk ke dalam saku celananya menarik benda pipih yang tersimpan di dalamnya, dengan cepat diketiknya suatu pesan untuk Freya agar gadis tersebut segera kembali ke rumah.
“Hei sekarang kau dimana ?” chat pertama sudah terkirim
Satu menit, dua menit belum juga ada balasan hingga hatinya yang kini mulai geram memaksakan jempol tangannya untuk mengetik kembali dengan ketikan penuh penekanan yang jika orang lain melihatnya sungguh merasa iba kepada ponsel tersebut.
“Kalau dalam sepuluh menit kau belum kembali akan aku hukum kau.”
Bahkan setelah pesan ancaman yang dikirimkan Daren tidak mendapatkan balasan dan hanya menyisakan centang dua abu tanpa berubah warna menjadi biru. Padahal pesannya terkirim pikir daren tapi kenapa dia tidak membacanya dan membalasnya.
Mencoba memikirkan tempat mana yang akan di kunjungi Freya selain rumah ibunya, karena merasa tidak mungkin Freya pulang ke rumah ibunya karena melihat itu suatu hal yang mustahil untuk Freya lakukan kini, mau tidak mau Daren memeras otaknya mencari tempat yang kemungkinan besar si pembuat onar tengah berada di sana.
Hingga satu tempat muncul dalam benaknya yaitu tempat dimana mereka melakukan perjanjian pernikahan. Tempat dimana mereka berdiskusi tentang pernikahan yang mereka jalani adalah pernikahan kesepakatan tanpa berdasarkan cinta.
"Apakah dia di sana ?" gumam Daren.
Pantai adalah tujuan Daren untuk melajukan mobilnya agar sampai disana secepat mungkin. Dan mencari sosok yang selalu setia berdebat dengannya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Perjalanan Daren mulus tanpa terhalang kendaraan lain karena kini sebagain orang sudah siap mengistirahatkan tubuhnya di rumahnya masing-masing. Hinda roda empat tersebut berhenti di jalan sekitaran pantai setelah menemukan sosok yang kini tengah berdiri di ujung bibir pantai.
“Itu dia si pembuat onar, untunglah dia masih hidup.”
Setelah menutup pintu mobilnya langkah Daren kini tertuju kepada sesosok tubuh mungil yang tengah berlaku kekanak-kanakan, bermain dengan riangnya dengan air pantai yang sesekali menyapu bibir pantai. Jika air laut menjauh tubuh mungil itu mengejarnya, namun bila mendekat dia akan berlari mundur menghindari sapuan air laut.
“Aku dari tadi menghkawatirkannya hingga mau mati rasanya dan dia kini lihatlah, apa yang dia lakukan. Dasar bodoh.” Daren yang terus saja menggerutu melihat tingkah Freya.
“Hei bodoh, kau si pembuat onar !”
Teriakan Daren sontak saja membuat Freya yang tengah asik bermain langsung menoleh ke arah pembuat suara. Yang perlahan kini semakin mendekat ke arahnya.
“Kak Daren !” memasang wajah terkejutnya. “Kenapa kakak bisa berada disini ?” tanya Freya penasaran.
“Tentu saja aku lapar tapi si pembuat onar tidak pulang untuk memasakan makanan untukku.” mencoba membohongi Freya.
“Hei, apa kau bodoh. Kalau mau masuk air kenapa menghindarinya ?”
Dan kini pertanyaan Daren hanya di balas tatapan sinis dari Freya yang tentu saja enggan menjawab pertanyaan dan bahkan memanggilnya bodoh. Hingga ide jail muncul dari dalam diri Daren karena gemas melihat tingkah Freya, di rangkulnya bahu Freya erat-erat dan menariknya mencoba memasukan tubuh mereka ke dalam air.
Merasakan tubuhnya tertarik, wajah Freya langsung pucat pasi dan memberontak mecoba melepaskan pegangan Daren pada bahunya yang sudah setengah jalan membawanya masuk hingga terasa air mulai membasashinya hingga separuh badannya.
“Kak Daren tunggu, jangan aku tidak mau. Aku tidak mau, kak Daren !” kini terdengar suara isakan tangis keluar dari mulut Freya di ikuti cairan bening dari kedua sudit matanya.
Melihat wajah Freya yang pucat dan kini sudah merangkul pundah Daren dengan eratnya dan menyilangkan kedua kakinya di tubuh Daren, langsung menyadarkan Daren dari tindakannnya dan kini matanya sudah menatap wajah Freya yang penuh ketakutan, seketika tubuh Daren mencelos merasakan sesak dari dalam tubuhnya.
“Freya !” berteriak khawatir “Ada apa, apa kau mempunyai Aquaphobia ?”
Freya yang masih terisak hanya bisa menganggukan kepalanya memberikan jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh Daren. Dengan posisi yang masih memeluk erat kini tubuh Freya di bawa ke tepi pantai menjauhi air laut yang membuat Freya ketakutan.
“Sejak kapan ?” sambil berjalan menggendong Freya “Bukankah kau bisa berenang ?”
Dengan napas yang masih tersenggal karena isakan tangis Freya menenangkan dirinya dan mencoba menjawab pertanyaan Daren yang kini sudah menurunkannya dari pangkuannya dan meletakannya di atas pasir putih, namun karena malam kini pasir tersebut terlihat sama gelapnya dengan warna langit malam.
“Ada banyak hal yang kak Daren tidak ketahui.” Menatapnya denan tatapan sendu.
Daren mengkerutkan keningnya mencoba memahami apa maksud dari perkataan Freya, apa yang tidak Daren ketahui. “Apa yang sedang kamu bicarakan ?”
“Iya memang aku bisa berenang, tapi suatu waktu aku pernah tenggelam. Jadi itulah alasannya yang membuatku takut.”
__ADS_1
Merasakan rasa bersalah Daren kini hanya membuang nafas kasar dan duduk bersimpuh di samping Freya mengucapkan kata penyesalannya. “Maafkan aku, aku sudah berlebihan terhadap mu.”
“Tidak apa-apa aku tidak akan marah kepada mu.” Tersenyum ke arah Daren.
Dan melihat senyuman kembali dari wajah Freya membuat sedikit rasa sakit dalam diri Daren memudar dan berganti dengan senyuman balasan ke arah Freya yang masih terisak dengar hidung memerahnya kini.
Melihat tubuh Freya yang sedikit gemetar mengalihkan perhatiannya dan berniat membopongnya ke dalam mobil. Freya yang berada dalam dekapan Daren semakin mengeratkannya dengan melingkarkan kedua tangannya mencari kehangatan dan tentunya tidak ingin mengabaikan kesempatan yang kini berada di pihaknya.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf pembaca setia novel aku, baru bisa update karena kesibukan yang aku jalani, kali ini author sedang sibuk untuk persiapan ujian praktek online, dan kemarin baru selesai berduka dan semoga kalian have fun baca novel ini, yang author sadari jauh dari kesempurnaan 🙏🙏🙏
.
..
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
Rate nya juga okayy 💃💃
Vote novel ini sebanyak banyaknya, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel ini, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞
__ADS_1