
Baru saja Daren melewati pintu depan rumah Freya dan pintu itu seketika terbuka membuat Daren langsung mengukir senyuman di kedua sudut bibirnya.
“Akhirnya.” Ucapnya di dalam hati.
Tanpa mengatakan apapun Freya langsung melengos masuk ke dalam rumahnya tanpa menuggu Daren. Dan dengan tidak tahu malunya Daren langsung masuk ke dalam rumah Freya mengekornya dari belakang.
Kini Daren berdiri di ruang tengah rumah Freya menunggu Freya yang sedang masuk kedalam kamarnya. Daren terus menekan jari-jarinya menunggu Freya dengan harap-harap cemas.
Freya sudah keluar dari kamarnya lengkap dengan bantal dan selimut yang dia bawa, dengan sigap Daren langsung mengambil bantal dan selimut tersebut memeluknya erat. “Terimakasih.”
“Kak Daren harus sudah pergi dari rumah ku pagi-pagi sekali karena aku tidak ingin melihat kak Daren masih berada di sini besok pagi.” Tangan Daren yang sedang menyiapkan tempat tidur untuknya langsung mengehentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Freya.
“Freya, Frey.” Namun Freya sudah masuk kedalam kamarnya menghiraukan panggilan Daren.
Tapi Daren tetap merasa bahagia karena dia menyadari jauh di dalam lubuk hati Freya, dia masih memikirkan Daren bahkan dia menyiapkan selimut dan bantal untuknya. “Terimakasih Frey.”
.
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🍂🍂🍂🍂🍂
.
Freya marah karena melihat Daren masih tertidur di sofa ruang tengahnya. Dia pun berniat untuk membangunkan Daren untuk segera meninggalkan rumahnya. “Kak Daren bangun kenapa masih di sini ?” Tanya Freya sinis.
“Freya...” Dan entah kenapa Daren merasa mual sepertinya dia ingin segera muntah dan dengan cepat Daren pun menuju kamar mandi mengeluarkan apa yang ingin dia keluarkan dari mulutnya. “Huwek, huwek.”
Namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya hanya cairan putih bening yang keluar. “Kak Daren kak ? Kakak tidak kenapa-napa kan ?” Freya terus menggedor pintu kamar mandinya menanyakan keadaan Daren.
Daren pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan Freya dengan tidak sadar menyentuh wajah Daren yang terlihat mengkhawatirkan. “Kak Daren, kakak tidak apa-apa kan ?”
“Yasudah mari kita duduk dulu aku akan siapkan air hangat untuk kak Daren.” Melihat Freya yang mengkhawatirkan dirinya maka Daren sepertinya ingin sekali memanfaatkannya.
Freya sudah membawa air hangat dan dengan hati-hati Daren meminumnya. “Bagaimana apa sudah lebih baik ?”
Daren hanya menggeleng manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Freya setelah meletakan air minumnya di atas meja. “Belum aku masih pusing, rasanya lemas sekali Freya.”
__ADS_1
Daren langsung memeluk tubuh Freya dengan menyembunyikan senyumannya di bahu wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut. Tidak tega Ferya pun mengusap-usap kepala Daren membuat Daren merasa puas karena sakitnya
menjadi senjatanya saat ini.
“Mungkinkah ini morning sickness.” Tebak Freya. “Apa ini juga termasuk couvade syndrome ?”
Daren yang bingung langsung bertanya kepada Ferya apa itu couvade syndrome. “Apa maksud mu dari couvade syndrome ?”
“Couvade syndrome itu disebut juga kehamilan simpatik tau juga ngidam pada ayah. Jadi bukan hanya pada si ibu yang sedang hamil pria juga bisa mengalami gejala seperti ibu hamil termasuk muntahnya kak Daren tadi, tapi ini terjadi hanya pada trimester pertama.”
Daren hanya mengangguk mengerti mendengar penjelasan Freya. “Iya karena aku sangat menantikan kehamilan mu maka dari itu aku mengalami couvade syndrome.”
.
🌾🌾🌾🌾🌾🍂🍂🍂🍂🍂
.
__ADS_1
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......