
Freya masih mengusap-usap pucuk kepala Daren dan terus memeluk erat menyalurkan kehangatan kepada tubuh yang kini di peluknya. Suara gemeletukan gigi Daren kini sudah tidak terdengar lagi menandakan kini hawanya tidak terlalu dingin membuat Freya bernapas lega. Kedua kelopak mata itu tanpa terasa sudah tertutup rapat karena kelelahan karena sedari tadi hanya sibuk mengurusi suaminya sehingga rasa lelah hinggap menghampiri membuatnya tanpa sadar mengikuti alam mimpi bersama Daren.
Kini sang mentari mulai menampakan sinarnya hingga sorot cahayanya sedikit menyilaukan mata Daren membuat kedua kelopak matanya terpaksa terbuka sempurna dan menyadari kini tubuhnya tengah berada dalam pelukan gadis yang selalu membuat onar dalam hidupnya. Kedua sorot mata Daren nampak tak ingin mengalihkan pandangannya dari hadapan Freya, dilihatnya mata, hidung dan bibir merah merona itu ingin rasanya dia menempelkan bibirnya dengan bibir merah itu. “Tidak, tidak apa yang aku pikirkan. Hilangkan pikiran bodoh mu itu
Daren.”
Tak ingin berlarut dalam rasanya kini langkahnya menuju ke arah kamar mandi untuk bersiap diri memulai hari dan berangkat kerja karena di rasa demam yang semalam menderanya sudah hilang. Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat gadis yang terbaring di atas ranjang membuka matanya mencari asal suara, setelah mengetahui asal suara yang itu berasal dari pintu kamar mandi yang baru saja tertutup kini tangannya meraba mencoba mencari letak ponsel yang untuk melihat pukul berapa sekarang ini.
Sesaat setelah melihat jam dari ponselnya kini Freya menurunkan badannya dan mulai berjalan menjauhi kamar Daren berbalik menuju kamar pribadinya berniat menyiram seluruh tubuhnya yang sudah terasa lengket dan bersiap untuk berangkat bekerja.
.
.
.
.
.
.
Sarapan kini sudah tersaji di atas meja makan dan kedua insan tengah duduk untuk sarapan tidak ada kata yang terucap hanya rasa canggung yang menerpa mereka. Tak ingin lebih canggung lagi Daren segera menyelesaikan sarapan paginya memakannya dengan lahap dan bersiap untuk menuju kantor. “Aku berangkat, terimakasih sarapannya.”
Mendengar ucapan terimakasih dari mulut Daren sungguh membuat Freya sedikit terkejut dia bertanya-tanya apakah itu efek samping dari demam semalam. Kenapa hari ini suaminya bersikap sopan seperti itu. “Jika efek samping demam seperti itu semoga saja kak Daren demam tiap hari, eh tidak-tidak bagaimana Freya kamu bisa tega mengharapkan laki-laki yang kamu cintai sakit dan menderita, itu tidak akan sanggup bahkan untuk melihatnya saja.”
Tidak ingin berlarut dalam pikirannya yang di rasa semakin kacau setiap harinya, Freya kini sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja dengan tekad yang kuat kini dia menyerukan semangatnya dengan meninju-ninju udara dengan tangan kosongnya. “Semangat, Freya. Semangat !!!”
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
“Hei bro bagaimana keadaanya hari ini, sudah sehat ?” tanya Levon sesaat setelah Daren tiba dan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
“Hmmm.” Jawab Daren cuek.
“Mendengar jawabannya seratus persen yakin dia sudah sembuh.” Ejek Jeff.
“Aku tidak menyangka Daren bisa sakit juga.” Kini Sean sudah mulai menggoda Daren.
“Memang kau pikir aku bukan manusia tidak bisa sakit.” Menatap tajam ke arah Sean.
“Bukan !” Teriak tiga serangkai kompak.
Mendengar ancaman Daren tiga serangkai mundur perlahan dan mulai duduk di kursinya masing-masing menutup rapat mulutnya karena tidak ingin mendapatkan pekerjaan tambahan, pekerjaan yang ada saja rasanya melelahkan ini dengan gamblangnya Daren berniat menambahkannya, sungguh kenapa tidak di bunuh saja, mereka saja sudah sedikit kurang waras karena pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Kini kedua bola mata Daren tidak henti-hentinya melirik ke arah meja kerja Freya, dirinya merasakan penasaran kenapa dia belum datang juga pikirnya. Melihat tingkah Daren yang sedikit aneh tidak seperti biasanya tentu mengundang tanya Jeff yang melihatnya. “Ada apa Daren apa kau mencari seseorang ?” sambil terus mengikuti arah pandang Daren yang entah tertuju ke arah mana.
Mendengar pertanyaan tersebut dari Jeff membuatnya gelagapan rasanya apa yang harus dia jawab dan kenapa pula dirinya harus mencari gadis pembuat onar tersebut, apakah yang sedang terjadi dengan dirinya. Apakah ini karena efek demam kemarin sehingga dia menjadi bodoh. “Ah.. ap.. apa. Sudah sana kerja.”
“Kamu makin bodoh setelah sakit, awas kalau kamu sakit lagi mungkin nanti kau tidak punya otak.”
“Kau !!” Menunjuk Jeff dengan geram.
Mendengar pertikaian Jeff dan Daren hanya membuat Sean Levon tergelak dengan kerasnya dan membernarkan perkataan Jeff. Ditengah kekesalannya terhadap tiga serangkai kini matanya tengah fokus kepada gadis yang sedari tadi di tunggunya dilihatnya Freya sedang mulai mendudukkan dirinya dan mulai menyalakan layar komputer yang berada di hadapannya.
Daren langsung mengalihkan pandangannya ketika tanpa sengaja bersitatap dengan dua manik mata Freya dan berpura-pura mengetikan sesuatu di atas keyboardnya. Sementara Freya merasa kecewa dan mencebikkan bibirnya karena senyumannya kepada Daren tidak terbalaskan. “Tuh kan dia jadi aneh setelah sakit.”
__ADS_1
Melihat Freya mencebikkan bibirnya membuah Daren terkekeh pelan dan merasa gemas untuk mendatanginya dan mencubit kedua pipinya yang di kembungkan Freya dengan sengaja, namun terlihat mulutnya sedang bersungut-sungut entah apa yang di gumamkan Freya namun itu terlihat menggemaskan. Ternyata Daren tidak tahu jika gerutuan Freya tertuju untuk dirinya.
Jeff langsung bersemangat setelah melihat pujaan hatinya yang kini sudah menjadi milik orang lain dan menghampirinya. “Freya gimana kabarnya hari ini.”
“Baik kak.” Tersenyum ceria.
Terlihat dua insan yang tengah bercanda yang menurut Daren cocok dalam hal kekonyolannya namun entah mengapa Daren merasakan ketidaksukaannya melihat pemandangan di depan matanya yang membuat matanya sakit sehingga tanpa sengaja dia berteriak memanggil nama Freya dan membuat keduanya terlonjak saking kagetnya.
“Freya !!!”
“Kenapa aku marah hanya karena melihat mereka mengobrol. Sungguh aku bingung dengan perasaan ku kini.” Daren terus bergumam sendiri tidak jelas.
Mendengar suara Daren yang sepertinya tengah marah Freya takut-takut untuk mencoba menghampirinya apalagi kini dirinya hanya sendiri setelah beberapa saat Jeff melarikan diri setelah mendengar suara Daren yang menggelegar. Kini di pikirannya hanya ada rasa penasaran kesalahan apa yang di perbuat olehnya apakah hari ini adalah akhir hidupnya, padahal ini masih pagi hari pikirnya kesalahan apa yang sebenarnya di perbuat. Tugas kantor kah ? bahkan dia hanya baru menyalakan layar komputernya dan belum mengetikan apa-apa. Kenapa pagu ini sangat berat sekali pikir Freya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
__ADS_1
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞