Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Maafkan Aku


__ADS_3

Kedua tubuh tersebut kini sudah basah karena terguyur hujan dan hanya meninggalkan rasa dingin yang menusuk ke dalam tubuh, kedua pasang kaki tersebut pun sudah berada di depan rumah Lydia dan melangkahkan kakinya untuk masuk dan ingin segera mencari kehangatan untuk kedua tubuh tersebut. Lydia yang melihat anak dan menantunya basah kuyup tentu saja langsung berhambur mendekat ke arahnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka bisa kembali dengan keadaan sudah basah di seluruh tubuh.


Setelah sedikit berdebat tentunya hanya Daren dan Lydia jika masalah perdebatan kini sepasang suami istri tersebut memasuki kamar dan segera memandikan tubuhnya dengan air hangat dan berganti baju. “Kau saja yang mandi duluan, nanti aku akan masuk setelahnya.” Melihat Freya yang gemetaran karena kedinginan tentu insting seorang laki-laki akan mempersilahkan Freya untuk mandi terlebih dahulu.


Beberapa saat setelah Freya mandi di susul Daren setelahnya keduanya pun berniat untuk pamit kepada Lydia untuk segera pulang karena besok kesibukan kerja di kantor tidak bisa di tinggalkan masih banyak tugas yang


menunggu mereka, dan keduanya pun sudah menuruni anak tangga setelah melihat sosok yang mereka cari kini tengah duduk di ruang tengah lengkap dengan tiga gelas yang sepertinya berisikan minuman hangat.


“Nak minumlah air jahe hangat ini untuk menghangatkan tubuh kalian berdua.”


Keduanya pun menuruti perintah sang titah yang tidak bisa di tolak dan meminumnya secara perlahan. Di tengah-tengah acara minum tersebut Daren meminta izin lebih tepatnya memberikan pemberitahuan bahwa mereka akan pulang karena besok harus bekerja. “Mam aku akan pulang dengan Freya, besok kita harus kerja.”


“Kenapa tidak izin saja ?”


“Tidak bisa lagipula itukan bukan kantor Daren.” Menolak dengan tegasnya.


“Lagipula kenapa harus bekerja di kantor itu, mami kan sudah pernah mengatakan untuk kau urus saja hotel kita.”


“Mam jangan mulai deh, Daren lelah untuk berdebat lagi.”


Merasa tidak tega akhirnya Lydia menyetujui dan mengantarkan kepergian mereka sampai di depan rumah hingga kendaraan yang mereka naiki sudah hilang dari pandangan mata Lydia.

__ADS_1


Hari ini di kantor benar-benar sibuk membuat kepala Daren terasa berat dan pusing pun di rasakannya, bibirnya terlihat pucat namun dirinya hanya menghiraukan dan melanjutkan pekerjaan yang masih belum terselesaikan.


Tiga serangkai sebenarnya khawatir dan sudah menyarankan Daren untuk pulang saja ke rumahnya namun si workaholic dengan keras kepalanya menolak untuk pulang ke rumah.


“sudah ku katakan kau pulang saja, kenapa kau ini keras kepala sekali. Pokoknya sekarang tidak ada penolakan.” Jeff khawatir setelah melihat Daren yang berjalan sempoyongan dan Jeff sudah memapah Daren untuk segera mengantarkannya.


“Kau banyak pekerjaan, aku aka pulang naik taksi saja.”


“Baiklah aku antarkan sampai kau mendapatkan taksi.”


Daren berjalan dengan sempoyongan dan merasakan berat di kedua kakinya ketika berjalan, kamar sekarang adalah tujuan utama Daren untuk segera merebahkan dirinya di atasnya. Usaha yang cukup berat hanya untuk merebahkan diri di atas kasur saja hingga Daren pun sudah terlelap lengkap dengan setelan kantor dan sepasang sepatu yang masih menempel di kedua kakinya.


Di perjalanan pulang sebenarnya Freya sudah meraskan gelisah terlebih ketika di kantor dia melihat Jeff memapah Daren yang sudah terlihat pucat, sebenarnya ingin maksud hati Freya segera menyusul Daren siang tadi namun karena tuntutan pekerjaan dirinya juga tidak bisa meninggalkan kewajibannya terlebih lagi Daren melarangnya dan menjadikan kedua poin tersebut menghentikan niat Freya.


Saat ini dalam mobil Daren Freya terus menggigit ujung kukunya karena merasa kesal dengan kemacetan yang sungguh tidak tepat pada waktunya, hinga perjalan pulang harus tersendat dan menghambatnya untuk segera melihat keadaan suaminya yang sedang sakit, hingga pikiran untuk menyalahkan dirinya sendiri muncul. “Pasti ini karena kemarin hujan-hujanan, kak Daren jadi sakit karena aku. Kenapa kau bodoh sekali Freya.”


Derap langkah kaki keras karena hentakan kaki Freya yang sudah berlari langsung memasuki kamar Daren tanpa permisi, melihat keadaan Daren kekhawatiran Freya kini sudah menaiki level. Di rabanya dahi Daren dan betapa terkejutnya Freya karena merasakan panas yang menjalar dari dahi ke telapak tangannya. “Astaga, panas sekali suhu tubuhnya.”


Dengan telaten Freya merawat Daren dengan melepaskan sepatu yang masih terpasang dan mengangkat kedua kaki tersebut yang masih menjuntai di sisi ranjang, Freya sudah melepaskan kemeja kerja Daren dan menggantinya dengan kaos tipis dan menyingkirkan selimut ke bawah kakinya karena orang demam tidak boleh memakai baju tebal dan selimut tebal karena rasa panas justru bisa meningkatkan suhu tubuh, dengan telaten Freya sudah mengompres dahi Daren setelah sebelumnya mengelap tubuh bagian atas Daren.


Karena takut demamnya tidak segera turun Freya segera memasak bubur untuk Daren bisa meminum obat penurun demamnya. Tangan Freya sedikit menepuk-nepuk pipi Daren agar kesadarannya tiba dan Freya bisa menyuapi bubur tersebut. “Kak bangunlah ayo makan dulu setelah itu minum obatnya.” Dan kini Daren sudah bersandar sambil menikmati beberapa suap bubur yang diberikan oleh Freya.

__ADS_1


Makan bubur sudah minum obat sudah kini kedua pasang mata yang terlihat lemah melihat ke arah Freya dan menggenggam tangan Freya erat. “Maafkan aku.” Daren mengatakannya dengan lirih dan tentu saja membuat Freya sedikit terkejut, apa maksud dari permintaan maaf Daren.


“Mungkin dia hanya mengigau.” Begitulah Freya berpikir karena Daren sedang sakit jadi dia mungkin tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya.


Malam semakin larut kini Freya sudah tidur di bawah kasur dengan tangan yang masih di genggam erat oleh Daren, hingga Freya merasakan gemetaran dari tangan Daren dan melihat Daren gemetaran karena hawa dingin kini


menyelimutinya, Daren mencari kehangatan agar sesuatu bisa menghangatkan tubuhnya. Freya yang tengah berdiri ditarik tangannya oleh sehingga kini Freya sudah menubruk tubuh Daren.


Di miringkannya tubuh Daren dan menghadap ke arah Freya dengan mata yang masih terpejam dan memeluk erat tubuh Freya yang dirasanya menyalurkan kehangatan terhadap dingin yang kini di rasakannya. “Jangan pergi tetaplah seperti ini.”


Perkataan dan pelukan Daren membuat jantung Freya semakin berdebar dengan kencangnya bahkan kini kedua tangan Daren sudah memeluknya erat dan membenamkan wajahnya ke dada Freya. Merasa tidak tega walau niat hati ingin melepaskan kecanggungan yang di rasa kini tangan Freya sudah terulur dan mengusap punggung Daren dan kepala Daren, sehingga senyuman tercipta dari kedua sudut bibir Daren.


Jangan lupa


klik favorit 📌


like 👍


Dan komentar nya ya 💌


Dan jangan lupa juga vote❤️

__ADS_1


Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞


__ADS_2