
Setelah Freya pergi meninggalkan Daren di rumah lebih tepatnya kabur dari rumah, Daren langsung menenggak satu botol air menghilangkan dahaga akibat lari maraton mengejar Freya. Di dalam rumah Daren dibuat uring-uringan tidak jelas dia terus berjalan dari halam rumahnya dan kembali kedalam rumahnya bergitu seterusnya selama beberapa menit.
Tidak ingin terus memikirkannya Daren pun mencoba mengalihkannya dengan melanjutkan pekerjaan kantornya yang belum selesai namun tetap saja hal tersebut tidak berhasil sampai akhirnya emosinya meluap Daren menggebrakan meja dengan kerasnya.
Hingga akhirnya sebuah ide muncul dipikirannya dengan sigap Daren mengambil ponselnya yang sedang tergeletak di atas meja kamarnya dan dengan gerakan cepat sambil menekan ponselnya dengan keras hingga bisa membuat ponselnya hancur jika saja ponselnya terbuat dari sterofom. Mencari nomor seseorang dan langsuung menempelkannya di telinga Daren.
Tak berselang.beberapa lama akhirnya seseorang diseberang sana mengangkat panggilan dari.Daren.
“Hei pembuat onar,
kau dimana ?” sudah dengan suara tinggi “Kembali sekarang !”
“........”
“Kuperingatkan kau, sebaiknya kembali sekarang !!!”
“........”
“Benar-benar kau, awas saja kau kalau sudah kembali ke rumah.” Hening tidak ada jawaban. “Halo ? Halo ?” sudah dengan emosi yang mendidih seperti gunung merapi ketika dengan beraninya Freya sengaja mematikan teleponnya.
Ditekan lagi ponselnya berusaha untuk menghubungi kembali Freya dan memarahinya tentunya karena beraninya dia memutuskan sambungan telepon dari seorang Daren. Namun sayang ponsel Freya bahkan sekarang tidak aktif dan hanya layanan operator yang menjawab sambungan telepon milik Daren.
Dengan terus menghembuskan napas kasar Daren menatap layar ponselnya cukup lama dan setelahnya dia melempar ponsel tersebut dan meninggalkannya yang sudah teronggok mengenaskan dilantai.
°
°
~
°
°
Setelah Freya sampai di depan restoran yang sudah dijanjikan dengan temannya James Freya segera turun dari dalam taksi dan membayar biaya taksi tersebut. Ketika kaki Freya baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah terdengar suara ponselnya berdering
dari dalam tas kecil miliknya dengan sigap Freya langsung melihat siapakah penelepon
tersebut dan segera menerima panggilan teleponnya.
Dengan malas Freya mengangkatnya dengan terus berdecak kesal.
__ADS_1
“Halo !” menerima panggilan telepon dengan nada tinggi “Kenapa ?”
“Hei pembuat onar, kau dimana ?” sudah dengan suara tinggi juga “Kembali sekarang !”
“Kakak pikir aku akan melakukannya.” Mengumpat kesal dan melirik ke arah ponselnya.”Baik lakukan saja seperti yang kakak inginkan.” Tanpa jeda langsung saja Freya mematikan sambungan teleponnya dan me non aktifkan ponsel tersebut tanpa mengetahui kemarahan apa yang akan di terima nantinya.
Dengan kemarahan yang ada Freya berusaha menenangkan dirinya dia tidak ingin James jadi sasaran karena kekesalannya terhadap Daren. Freya mencoba mengatur napasnya terus melakukan teknik relaksasi napas dalam (deep breathing) yang selain berguna
untuk mengurangi stres fisik maupun tentunya emosional teknik ini juga meningkatkan oksigenasi darah. Tentunya banyak manfaat salah satunya mengurangi cemas ketentraman hati karena terus berdebat dengan kak Daren yang menguras emosi.
Terlihat sosok James tengah duduk di salah satu tempat di restoran yang sudah dia pesan yaitu di Five Sails Restaurant. Sungguh tempat duduk yang tepat dimana mata Freya langsung di manjakan akan pemandangan dari laut biru yang membentang dengan pemandangan gunung dan juga kapal yang sering berlayar di hadapannya.
“Hai Frey.” Sapa James sambil melambaikan tangannya.
“Hai James, Sorry banget sudah membuatmu lama menunggu. Tadi ada sedikit masalah” sambil mengatupkan kedua lengannya.
“Tidak apa Frey, kau seperti kepada orang asing saja.”
Freya mendaratkan pantatnya untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengan James, tak lupa meletakan tas dibelakang punggungnya. Setelahnya Freya sibuk melihat menu makanan yang akan dipesannya.
“Oh iya James, aku sering bilang akau akan mentraktir mu spaghetti, tapi sampai sekarang aku belum juga mentraktir mu. Kalau begitu kau pesan apa saja nanti aku yang traktir.”
Ketika Freya sibuk memilih-milih menu makanan. Sebuah troli makanan sudah datang menghampiri dengan adanya kue diatasnya. Sungguh Freya merasa terharu karena mendapatkan kejutan dari James. Sementara James dan pelayan restoran yang ada terus menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Tanpa terasa air mata Freya jatuh begitu saja.
James berpikir mungkin Freya merasa terharu karena mendapatkan kejutan ulang tahu namun jauh di dalam hati Freya sungguh dia ingin kak Daren mengingat ulang tahunnya untuk sekali saja seumur hidupnya. Daren memang benar-benar tidak pernah mengucapkannya selama mereka tinggal bersama.
“Tidak, tidak Frey.
Jangan seperti ini kamu harus selalu bersyukur karena bisa terus dekat dengan
kak Daren.”
Freya sadar dari lamunannya tatkala James meminta Freya untuk meniup lilin yang semakin lama semakin meleleh, dengan tanggap Freya langsung meniup lilin dan mengucapkan terimaksihnya kepada James.
“Terimakasih James karena mengingat ulang tahunku.”
“Iya tidak masalah. Lagipula aku minta maaf karena mungkin aku orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun. Pasti Daisy dan Bella sudah mengucapkannya dari semalam.”
“Iya mereka sudah mengucapkannya semalam, dan tidak udah meminta maaf, aku bahagia .” tertunduk menahan kesedihan “karena masih ada orang yang tida mengucapkannya sama sekali.” bergumam secara pelan bahkan kata-kata terakhir Freya nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
Mencoba melupakan kesedihannya akhirnya Freya menikmati perayaan ulang tahunnya dan makan bersama dengan James sambil terus tertawa ceria entah apa yang mereka bicarakan hingga tanpa sadar waktu sudah berlalu dengan cepat. Bahkan sang mentari sudah lama meninggalkan langitnya.
Akhirnya mereka pulang setelah Freya secara halus menolak ajakan James untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya ada rasa tidak enak tapi mau di bagaimanakan lagi daripada nanti James tahu kalau dia tinggal dengan Daren dan mengetahui rahasia pernikahannya. Bisa habis Freya di tangan Daren.
°
°
~
°
°
Daren merasa kesal hingga dia lupa bahwa dirinya belum makan apapun dari tadi siang. Daren melangkahkan kakinya dan membuka penanak nasi tak lupa sudah ada piring di tangannya. Namun lagi-lagi pikirannya tak henti hentinya memikirkan Freya dan berhasil membuat perasaanya kembali turun. Daren menutup kembali penanak nasi dengan tekanan kerasnya dan meletakkan
piringnya dengan kasar.
Dengan amarah yang masih mengebu-gebu Daren kembali ke ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya kasar. Diangkatnya sebelah kakinya dan digigitnya kuku-kuku tangannya karena saking kesalnya. Sampai Daren melihat objek pelampiasannya selanjutnya ya remote televisi yang sudah ada di hadapannya.
Terdengar suara chanel televisi yang terus berpindah pindah dan setelahnya dimatikan kembali lalu dilemparkan lah remote yang tak berdosa tersebut.
°
°
~
°
°
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
__ADS_1
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞