
Langkah Freya kini sudah tergesa-gesa ingin segera menyusul suami dinginnya yang sudah berdiri di dekat pintu mobil karena hari ini mereka harus segera menepati janjinya kepada Lydia untuk pergi mengunjungi
kediamannya.
“Freya cepatlah, berapa lama lagi kau bersiap-siap ?” Teriak Daren dengan jengkelnya.
“Iya kak, sebentar aku kunci pintu rumahnya terlebih dahulu.” Bergegas Freya segera mengunci pintu rumahnya sebelum dirinya menyusul suaminya yang sudah gusar menunggunya.
Daren segera memasuki mobilnya setelah melihat Freya mengunci pintu rumah mereka dan segera menyalakan mesin kendaraan roda empat tersebut, sementara Freya segera mendekat ke arah mobil dan mendudukkan dirinya di kursi depan bersampingan dengan Daren yang sudah siap dengan seatbelt nya.
“Cepat pakai sabuk pengaman mu. Kita harus cepat karena kita tidak akan menginap di rumah mami. Besok aku ada rapat penting.”
“Iya, iya cerewet sekali.” Freya hanya mencebikkan bibirnya kesal dengan Daren.
Kini mobil mereka melaju membelah jalanan yang mereka lewati dengan kondisi yang cukup ramai karena ini adalah akhir pekan dimana.orang-orang akan sibuk mempersiapkan diri untuk mencari tempat untuk mengistirahatkan pikirannya masing-masing.
Di dalam mobil sendiri tidak ada satupun diantara keduanya yang ingin memulai pembicaraan mereka terdiam sepanjang perjalanan dan tanpa disadari mereka sudah sampai di kediaman Lydia tepat berhenti di halaman rumah.
Kini dua pasang kaki tersebut sudah menginjakan nya di halaman rumah Lydia dan kedua pasang kaki tersebut mulai bergerak dan berjalan menyusuri halaman rumah menuju ke dalam rumah Lydia yang selalu rapih lengkap dengan furniture mewah yang berada di dalamnya yang selalu rapi di tempatnya.
“Freya, sayang !!” Lydia berlari dan berhambur segera memeluk Freya mencium kedua pipinya. “Ayo nak masuk, kita minum dulu pasti kamu haus.”
Lydia langsung saja memberikan segelas jus segar kepada Freya dan terus memperhatikannya hingga jus itu tandas di minumnya.
Sementara Daren sudah mendecakan lidahnya merasakan kekesalan, bagaimana tidak sebenarnya yang anaknya disini siapa Freya atau kah dirinya kenapa rasanya Daren di perlakukan seperti anak tiri, bahkan Lydia dengan gamblangnya mengabaikan Daren yang sudah berdiri di belakang Freya.
“Anak mami itu siapa sih ?” bertanya dengan ketusnya “Apa mami tidak tanya apa aku haus juga, lagipula yang menyetir kesini kan aku.” Sudah protes seperti anak kecil.
“Kalau haus ya minum, kamu kan sudah tahu letak air minumnya dimana. Manja sekali anak itu.”
“Terserah aku ingin ke kamar saja tiduran. Gara-gara mami jadwal tidurku di akhir pekan ini terganggu.” Kini Daren sudah menaiki anak tangga dan sudah berada jauh dari hadapan Lydia dan Freya.
__ADS_1
“Hishh anak itu memang tidak ada sopan nya sama maminya.” Lydia terus saja menggerutu Daren karena rasa kesalnya.
Daren sudah berada di depan kamar yang dulu menjadi kamar pribadinya dan mendorong pintu kamar untuk membukanya, matanya kini sudah berfokus pada ranjang besar yang sudah sangat di rindukannya ketika dia sudah berada di rumah tersebut, tubuhnya pun sudah bersiap merebahkan dirinya di ranjang kesayangannya dulu.
Sementara Lydia dan Freya sedang berada di dapur mempersiapkan makan siang yang akan mereka santap nantinya, mereka nampak asyik mengobrol hal-hal yang tidak bermanfaat memang seperti itulah wanita jika sudah bersatu selalu saja ceritanya melebar dengan sendirinya dari menceritakan hal A sampai berakhir di Z.
Tidak terasa kini masakan yang sudah mereka masak sudah hampir selesai karena di bumbui dengan obrolan yang sudah menjalar kemana-mana sehingga masak pun terasa menyenangkan dan terasa mudah di jalani.
“Akhirnya nak, masakannya sudah selesai.”
“Iya bibi, kalau begitu biar Freya saja yang bereskan dan siapkan semuanya tante istirahat saja. Nanti kalau sudah selesai Freya akan memanggil bibi.”
“Ya ampun kamu itu memang menantu idaman ya, kalau begitu bibi ke atas saja melihat si pembuat onar. Sedang apa anak itu, kalau dia diam itu kadang bibi curiga.”
Freya hanya terkekeh mendengar alasan yang diberikan Lydia, Freya tahu walaupun Lydia sering memarahi Daren namun sebenarnya itu adalah rasa sayangnya yang besar kepada Daren.
“Baiklah bi.”
Lydia pun bergegas menaiki anak tangga dan segera menghampiri kamar Daren untuk melihat apa yang sedang di lakukan anaknya yang selalu membuat kepalanya berdenyut tanpa henti. Dilihatnya pintu kamar Daren
yang sedikit terbuka menampakan sepasang sepatu yang masing terpasang lengkap pada
kaki yang kini berada di atas kasur.
Melihat kelakuan Daren membuat emosi Lydia naik, kenapa anaknya ini malas sekali, bahkan hanya untuk melepaskan sepatu saja. Langsung saja Lydia memelintirkan telinga Daren dan membuat telinganya sudah kemerahan menahan rasa sakit, sehingga membuatnya meringis dan menekan-nekan nya.
“Aww mamih ada apa sih ?” tuh kan marah, dasar Daren.
“Kamu itu malas sekali membuka sepatu, kalau tidur di lepas dulu sepatunya. Dasar jorok.”
Sungguh hal yang paling Daren benci adalah mendengar suara maminya yang selalu memekakkan telinganya, rasanya telinga Daren sudah kebal dengan suara maminya yang entah kenapa selalu saja teriak di hadapan Daren.
__ADS_1
“Daren capek mih, ini saja di permasalahkan.”
“Dasar anak kurang ajar, untung saja kau punya istri seperti Freya yang bisa tahan dengan sikap mu yang tidak ada bagus-bagusnya ini.”
“Lagi pula siapa yang membuat pernikahan ini terjadi. Dan juga Daren sudah berkonsultasi dengan pengacara keluarga kita kalau Daren akan bercerai.”
“Apa ?” teriak Lydia tidak percaya.
“Aku ingin bercerai dengan Freya mih. Lagi pula tidak mungkin laki-laki itu akan terus mengawasi Daren kan ?”
“Ada apa dengan mu Daren, kenapa kamu melakukan ini.”
“Ada apa apanya, tentu saja karena aku tidak mencintai Freya.”
Langkah Freya kini terhenti di dalam kamar Daren, dadanya kini terasa sesak mendengar kata cerai terucap dari mulut Daren, niat hati ingin memberitahu kepada Lydia dan Daren bahwa semua makanan yang di masak sudah siap dan sudah tersaji di atas meja makan mengajak mertua dan suaminya untuk makan bersama, namun kita tubuhnya serasa mencelos ketika kata-kata Daren untuk mengajukan cerai terdengar jelas di telinga Freya.
“Freya !” ucap Daren.
Ingin rasanya Freya menangis namun da mencoba menahannya agar air mata nya tidak lolos
dari penampungan yang sudah Freya bangun dengan kokoh sehingga hanya menyisakan
kemerahan dari sorot mata Freya.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
__ADS_1
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞