
Setelah pernikahan satu minggu mereka Daren memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri dengan Freya, dia tidak ingin tinggal bersama dengan keluarganya. Sebelumnya Lydia menyarankan agar pengantin baru tersebut untuk pindah dan tinggal dirumah Irish. Namun Daren protes akan usulan yang diajukan maminya.
" Aku sudah bermalam di sana, dan aku merasa sangat tersiksa mam." Protes Daren
" Kalau begitu mami tidak akan menjadikan kamu sebagai pewaris ku." ancam Lydia. " Kamu tidak akan menerima satu persen pun dari mami, rumah dan mobilmu adalah milik mami. Mami akan mengambilnya kembali."
" Mami !" teriak Daren
Daren yang putus asa akhirnya meminta bantuan Delano yang sedang berdiri di samping tidak jauh dari Daren.
" Bantu aku kak !" pinta Daren.
Delano yang merasa kasihan terhadap adiknya berniat untuk ikut membantunya, namun Lydia juga mengancam akan melakukan hal yang sama kepada Delano jika dia ikut campur dan menolong Daren.
" Mami." Delano mulai berbicara.
" Dan kamu." menunjuk ke arah Delano " Kalau kamu membantu adikmu, mami tidak akan menjadikanmu seorang pewaris juga."
Delano langsung berubah haluan ketika maminya juga mengancam hal yang sama terhadapnya. Delano menghampiri Lydia dan merayunya mengatakan bahwa mereka dalam kapal yang sama.
" Mami tidak akan berani melakukan itu." Daren mencoba meyakinkan Delano.
"Daren... Kamu harus, menyelesaikan sendiri masalah ini." merangkul pundak maminya. " Kakak lupa memberitahumu. sebenarnya, aku adalah orang yang menjunjung tinggi keadilan. Lakukan saja apa yang mami dikatakan."
" Iya." Lydia menyetujui Delano
Daren tersenyum sinis ke arah dua orang yang sangat suka menindasnya, Daren tak kehabisan akal dia meminta pertolongan kembali kepada Ella kakak iparnya, yang sedang berdiri dibelakangnya. Daren menatapnya dengan senyuman dan tatapan penuh arti.
" Kak Ella, bantu aku." menghampiri Ella.
" Aku mengikuti apa yang Delano katakan." meninggalkan Daren dan menghampiri Delano dan juga Lydia.
Seakan sudah terbiasa, dirinya selalu saja tidak ada yang mendukung hanya menatap tiga orang tersebut dengan kesal.
" Tidak akan ada siapapun yang menolong kamu." ejek Lydia.
Akhirnya untuk satu minggu tersebut dihabiskan Daren untuk tinggal di rumah Freya, sebenarnya Freya juga merasa tidak enak karena membiarkan suaminya tinggal di rumah yang sangat sederhana tersebut yang jika dibandingkan sangatlah berbeda dengan rumah Daren yang mewah.
***
Setibanya di rumah baru mereka, Daren dan Freya masuk dan bersiap siap untuk merapihkan barangnya dan beristirahat setelah lelah duduk di bangku pesawat. Daren langsung pergi dari ruang tengah dan menuju kamar pribadinya, Freya yang bingung kenapa Daren masuk ke kamar yang berada dilantai atas mengejar Daren untuk meminta penjelasan.
Freya berusaha membuka pintu kamar yang ditempati Daren, namun seketika itu juga Daren hendak keluar dari kamarnya. Freya yang mendorong pintu membuat jidat Daren terkena pintu dan memukulnya dengan keras.
" Apakah sakit, kak Daren ?" langsung mengusap jidat Daren.
__ADS_1
" Tidak apa - apa." menyingkirkan tangan Freya.
" Maafkan aku !" mengatupakan kedua tangannya.
" Apa yang sedang kamu lakukan ?" tanya Daren keheranan.
"Freya melihat kak Daren membawa barang - barang ke dalam ruangan ini."
" Lalu ?" tanya Daren.
" Lalu... lalu aku.." Freya menghentikan perkataanya.
" Apa kamu ingin berbagi kamar denganku." tanya Daren penuh selidik.
" Aku hanya melakukannya seperti kata bibi Lydia." Freya beralasan. "Kata bibi Lydia kita sudah menikah, bukan ?" berbicara dengan penuh hati - hati. " Itu sebabnya aku ingin..."
" Tidurlah dilantai bawah, itu kamar untukmu. Kenapa kita harus berbagi kamar ?" Daren keheranan. " Kita ini sekarang berada jauh dari rumah mamih dan dari kotamu enderby, ini bukan di sana. Kamu tidak perlu menganggapnya serius."
Daren menutup pintu perlahan dan mendorong Freya keluar kamar.
" Jangan beri tahu mamiku tentang hal ini." mengambil kunci yang masih terpasang diluar.
" Iya."
" Kak Daren, kak Daren." teriak Freya.
" Apa lagi ?"
" Apa yang membuat kak Daren begitu yakin kalau... orang itu... tidak akan memata - matai kita ?"
" Freya, dia laki - laki, bukan cicak. Tidak mungkin dia memata - matai kita sampai ke rumah ini." Daren meyakinkan Freya.
" Iya." mengangguk dan tersenyum canggung.
Daren langsung menutup pintunya dengan kasar setelah menjelaskan panjang lebar kepada Freya, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.
***
Pagi - pagi Freya sudah bangun dan membersihkan rumah baru mereka, Freya beranjak menghampiri Daren dan menyiapkan sepatu kerjanya.
" Bukankah kamu bilang akan tidur tiga puluh menit lagi ?" menyerahkan kaos kaki untuk Daren.
" Terlalu berisik. Kupingku sakit rasanya." memakai kaos kakinya.
Freya hanya tersenyum sinis mendengar jawaban Daren.
__ADS_1
" Dasar laki - laki sensitif yang seperti pantat bayi. Protes saja kerjaannya."
" Kak Daren akan pergi bekerja, tunggu Freya sebentar. Aku akan ikut menumpang dengan kak Daren." Freya berlari - lari kecil. " Biarkan aku bersiap - siap sebentar, tunggu aku akan cepat, hanya sebentar, kak Daren." sambil terus berteriak.
Ketika Freya sudah siap dengan pakaian kerjanya dia sudah tidak melihat Daren di ruangan tengah rumah mereka dengan tergesa-gesa dilihatnya Daren yang sedang menuju mobil pribadinya.
" Aku akan terlambat ke kantor."
Pada akhirnya Daren pergi meninggalkan Freya dan keluar rumah lebih dahulu, Freya langsung menyusul ke luar rumah ketika tidak melihat sosok Daren di ruang tengah.
" Kak Daren tunggu aku, kan Freya sudah bilang hanya sebentar saja." terus berteriak memanggil nama Daren.
Daren yang sudah berada di depan pintu mobil pun berbalik dan melihat ke arah Freya.
" Aku tidak ingin berangkat ke kantor bersama denganmu, kau pergilah dengan naik taksi atau kendaraan umum, terserah kau saja."
Daren membuka pintu mobil dan menyalakan mesin mobil bersiap berangkat ke kantor dan pergi meninggalkan Freya yang masih berteriak memanggil nama Daren.
" Kak Daren !" berlari mencoba menghampiri mobil Daren namun mobil Daren sudah pergi dari hadapan Freya.
" Dasar kejam, tega. Semoga kau tersedak saat makan !"
Freya mengacak - acak rambutnya frustasi. Sebenarnya Freya dan Daren satu kantor yang sama hanya mereka berbeda divisi. Daren di divisi A sementara Freya di divisi C. Daren di kantornya sendiri menjabat sebagai manager, dan Freya hanyalah karyawan biasa. Divisi A dan C sendiri selalu bersaing ketat dan berada di lantai yang berbeda.
Dengan terpaksa Freya pergi ke kantor dengan menggunakan taksi, karena dia sudah terlambat pergi ke kantor jika harus menaiki kendaraan umum.
Inilah status baru yang disandang Freya kini dia sudah resmi menjadi istri seseorang, sekarang dia tidak hanya harus mengurus dirinya sendiri tapi juga Daren suaminya. Walaupun berat tapi Freya sangat bahagia menjalaninya. Freya bertekad untuk terus berada di samping Daren. 💪💪
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa klik favorit, like dan comentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku, Please ya Vote jika kalian suka 😘😘🤗🤗💞💞
__ADS_1