
Selesai makan bersama Freya berjalan santai menikmati pemandangan yang ada. Freya penasaran tatkala dirinya mendengar sayup-sayup suara ibunya seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Karena penasaran Freya pun mencoba melihatnya dan alangkah terkejutnya ketika dua melihat seseorang sedang duduk bersama dengan ibunya.
" Kak ? "
Freya terkejut tatkala melihat Daren sudah duduk bersantai di sofa rumahnya dan berbincang hangat dengan ibunya.
" Nak, kemarilah duduk sini." perintah Iris sambil menepuk-nepuk sofa disebelahnya yang kosong.
Dengan langkah ragu akhirnya Freya mendekat ke sisi ibunya dan duduk berhadapan dengan Daren.
" Oh iya nak Daren pasti haus sebentar ibu siapkan minum terlebih dahulu, kalian mengobrolah."
Irish beranjak dari sofa yang dia duduki dan berjalan ke arah dapur untuk segera mempersiapkan minuman untuk menantunya.
" Kenapa kak Daren bisa ada disini ? " tanya Freya penasaran.
" Kenapa memangnya ? " bertanya dengan ketusnya. " Aku juga kesini disuruh mami, dia khawatir. Merepotkan saja."
" Oh begitu. Mana barang-barang kakak biar aku rapihkan kedalam kamar."
Freya berdiri dan mengambil koper milik Daren setelah mendapatkan petunjuk dari pemiliknya di arah mana barangnya berada.
Sibuk dengan baju baju Daren yang dia masukan kedalam lemari, tanpa sadar sudah ada sesosok makhluk yang memperhatikannya dari belakang.
" Aku bosan, ayo kita jalan-jalan." sambil bersandar disisi pintu kamar yang sedari tadi dibiarkan terbuka oleh Freya.
" Astaga kak, mengangetkan saja." melirik ke arah Daren sambil mengusap dadanya mencoba menenangkan detak jantungnya karena kejutan Daren.
" Bersiaplah aku tunggu di depan rumah, tadi juga sudah meminta izin bibi."
" Baiklah Freya bersiap-siap terlebih dahulu."
°
°
°
^•√•^
°
°
°
Setelah bersiap-siap dengan memakai baju casual dress Combi Stripe nya yang dipadu padankan dengan warna merah muda dengan banyaknya gambar buah ceri di bajunya tak lupa heels berhak rendah dan topi yang terpasang di kepalanya, memperlihatkan kaki jenjang Freya yang putih mulus. Tak lupa dengan polesan make up tipis membuat kecantikan Freya yang natural semakin terpancar.
Sebelum menemui Daren tak lupa Freya berpamitan kepada ibunya dan setelahnya berlalu dan menghampiri Daren yang tengah duduk bersantai di teras rumahnya.
Mata Daren dibuat terkesima tatkala melihat Freya yang sedang menghampirinya, Daren mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyadarkan dirinya dari lamunannya.
" Lama sekali kau, ayo cepatlah ! " Daren mulai protes dan langsung berbalik menaikan sudut bibirnya hingga nampak sebuah senyuman dari bibirnya dan segera menuju mobilnya.
" Dasar tukang protes." Freya berdecak sebal.
__ADS_1
Di dalam mobil jantung Freya berdetak kencang tatkala menyadari hal tersebut mirip seperti kencan, sehingga tak luput membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran. Daren mengangkat sebelah alisnya ketika melihat keanehan Freya, ya walaupun dia selalu aneh menurut Daren.
" Kau kenapa Frey, apa kau sakit ? " sambil terus fokus menyetir mobilnya. " Kenapa kau terus tersenyum seperti itu , sungguh menakutkan. Aku turunkan jika kau sungguh kemasukan."
" Ti, tidak. Freya baik-baik saja." pipi Freya langsung merah merona menahan malu karena tertangkap basah. " Lagipula siapa yang kemasukan." memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.
" Ya, ya tidak ada satupun makhluk halus yang akan berani." ledek Daren.
" Kak Daren ! " memprotes ucapan Daren, sambil memanyunkan bibirnya.
Sementara Daren hanya tergelak merasa puas mengerjainya, dan terus mengacak-acak rambut Freya dengan tangan kanannya.
°
°
°
^•√•^
°
°
°
Freya dan Daren akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, Freya dibuat terkejut tatkala melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Banyak balon udara yang berterbangan di hadapan mereka, dengan sigap Daren mengaitkan jemarinya ke dalam jemari Freya sontak Freya langsung berdebar dan terus memandangi tangannya yang digenggam erat oleh sang pujaan hati. Daren pun membawanya mendekat ke arah balon udara, dan mulai melepaskan genggaman tangannya dari tangan Freya.
Setelah melakukan prefer dan mendengarkan instruksi Daren dan Freya akhirnya siap menaiki balon udara, tangan Freya gemetar karena itu adalah pengalaman pertamanya, dia memegang ujung baju Daren dengan erat, sambil memejamkan tangannya.
" Mau sampai kapan kau memejamkan matamu ? "
" Hemmm, aku takut kak." semakin mempererat kelopak matanya.
" Apa kau tidak mau melihat pemandangannya, lihatlah langitnya begitu indah."
Dengan ragu-ragu Freya membuka kelopak matanya mencoba melihat pemandangan yang indah yang disebutkan Daren. Mata Freya mengerjap beberapa kali tatkala menyadari bahwa pemandangannya benar-benar sangat indah.
Freya terus melihat ke sekelilingnya dan kebawah nya namun akan menjerit setelah melihatnya karena tingginya keberadaan mereka sekarang, jeritannya terus memekakkan telinga Daren.
" Hei bocah, bisa tidak kau jangan berteriak. Telingaku sakit mendengarnya. Sekali lagu kau berteriak aku dorong kau dari atas sini." mulai dengan protesan nya.
" Baiklah aku akan diam." sambil mencebikkan bibirnya.
" Aku kan takut wajar saja jika berteriak, dasar gak punya perasaan. Sudah tahu aku takut masih saja membawaku menaikinya, kenapa tidak kau sendiri saja yang naik." Freya terus bergerutu.
Daren yang mendengarnya langsung menatap tajam ke arah Freya dan langsung disambut oleh keterdiaman nya.
" Freya kau cari mati, kalau dia benar-benar melempar mu dari atas sini habislah aku. Nanti aku pulang tinggal nama saja."
Seakan tidak ingin melewatkan kekagumannya Freya tidak lupa mengambil gambar dirinya dan juga pemandangannya dengan ponsel yang dibawanya, dia terus meminta Daren untuk mengambil gambar dirinya, walau dengan setengah hati Daren tetap menyetujui permintaan Freya, tak henti-hentinya Freya terus tersenyum melihat ke sekelilingnya.
°
__ADS_1
°
°
^•√•^
°
°
°
Setelah puas akhirnya balon udara mereka diturunkan dan mereka pun berencana untuk segera pulang. Selama dalam perjalanan Freya terkantuk-kantuk dan sesekali kepalanya terbentur kaca mobil, rasanya hari ini tenaganya terkuras habis setelah puas berjingkrak-jingkrak di balon udara tadi.
Akhirnya mereka sampai di halaman rumah Iris namun ketika Daren hendak turun dia menyadari bahwa makhluk disebelahnya sudah tertidur dengan lelapnya
. Tanpa sadar Daren terus memandang wajah Freya yang tenang ketika tidur dan terlihat sangat menggemaskan.
Daren langsung panik tatkala menyadari mata Freya mulai terbuka perlahan, berpura-pura tenang namun hal tersebut tak berhasil.
" Kau tidur seperti orang mati, kau tau sudah berapa lama aku menunggumu bangun. Menyusahkan saja."
" Maafkan aku kak, maaf." sambil terus mengatupkan kedua tangannya. " Kenapa kak Daren tidak membangunkan ku saja."
" Oh jadi ini salahku." Daren pun turun dan menutup pintu mobil dengan kerasnya.
" Freya bodoh kenapa kau bisa tertidur, dan kenapa dia berlebihan seperti itu. Arghhh."
mengacak rambutnya Frustasi.
Freya segera menyusul Daren yang dirasa sudah masuk kedalam rumahnya, Freya yang sesekali menutup mulutnya karena rasa kantuk yang menyergapnya, dan berjalan sempoyongan mencoba menyeimbangi tubuhnya.
°
°
°
^•√•^
°
°
°
Jangan lupa 😉
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
__ADS_1
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Suamiku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞