
Seluruh karyawan divisi c khususnya tim Freya sudah bergegas mengemasi barang bawaannya dan bersiap memindahkannya ke ruangan baru, tempat dimana mereka akan bekerjasama dengan divisi c yang dipimpin oleh Daren.
Semua orang terlihat sibuk dan berhati hati ketika membawa barangnya masing-masing terkhusus ketika mereka menuruni tangga, karena ruangan tersebut di desain dengan dua lantai.
Dengan hati-hati sambil terus berjalan melihat ke arah pijakannya karena pandangannya terhalang oleh kardus yang di didekapnya dikedua tangannya berjalan perlahan mengikuti langkah Daisy yang berada di depannya diikuti oleh Bella teman sekantor Freya yang menjadi dekat setelah lama bekerja di kantor yang sama, sementara James sudah berada didepan Daisy, yang terus mengintruksikan untuk berhati-hati.
" Hati-hati Daisy gaunmu terlalu panjang." Kalimat ke khawatiran terucap dari mulut James.
" Baiklah."
Mereka pun sampai dimeja masing-masing yang sudah di sesuaikan terlebih dahulu. Dengan perasaan malas Bella meletakan kardusnya dengan terus bergerutu. Haruskah dia membereskan kembali barang-barangnya setelah lelahnya mengangkut barang.
" Aku terlalu malas untuk bergerak." menumpahkan kekesalannya kepada James. " Apakah kita benar-benar akan bekerja disini ? Kita belum selesai memindahkan barang, pindahan memang sangat melelahkan."
Bella terus melihat memindai tempat barunya yang akan digunakannya dia menilai ruangannya terlalu sempit Bella kembali menggerutu dan memaki tempatnya bekerja.
"Lihatlah tidak ada ruangan untuk barang-barang kita, dimana kita akan meletakkannya ? Di dalam otak kita ? " sambil terus menunjuk kesemua tempat dan terakhir menunjuk kepalanya dengan kedua tangannya.
" Sudahlah kita akan memikirkan solusinya. Kemarilah."
Sementara disisi lain kepala divisi c merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan oleh anggota timnya, kepalanya terasa seakan siap meledak menyemburkan larva seperti gunung berapi.
" Kenapa sangat berisik sekali." teriaknya dengan lantang. " Karena semua orang sudah berada disini, saya akan memperkenalkan kepala manager sekaligus dia akan menjadi bos baru kita yang akan membimbing kita."
Inti dari perkataannya adalah dia akan memperkenalkan siapa yang akan berwenang mengatur semua karyawan yang sekarang bekerja dibawahnya, semua orang berdiri dengan rapi secara berbanjar disisi tempat meja kerja mereka.
Seketika terlihat sosok seorang pria yang sangat gagah bahkan bisa terlihat hanya dengan caranya berjalan. Dia adalah Daren yang sudah rapih dengan memakai kemeja biru tuanya berjalan menghampiri karyawan divisi c dan berhenti di barisan depan Freya.
Freya seketika langsung menciut dan menggeserkan tubuhnya maju bersembunyi dibalik punggung Daisy dengan matanya yang terus bergerak ke kanan dan ke kiri dengan wajah pucat pasi, dia takut Daren nantinya akan memarahinya karena tidak memberitahukan bahwa dirinya akan bekerja bersama- sama dengan Daren.
Daren yang nampaknya belum menyadari kehadiran Freya masih dengan wajahnya yang dingin dan terkesan arogan hanya berdiri dan memperkenalkan namanya tanpa embel-embel menyapa yang lainnya dengan ramah. Seketika matanya melebar ketika melihat sosok Freya muncul dari belakang punggung seorang wanita yang sedang mengintip ke arahnya.
Seketika dengan wajahnya yang kaku berusaha tersenyum lebar ke arah Daren menunjukan wajah tidak berdosanya, lagi dan lagi hanya Freya yang bisa membuat Daren menghemebuskan nafasnya secara kasar.
" Kalau kalian sudah selesai merapikan barang kalian, saya akan segera mengadakan rapat. Saya akan berbicara tentang aturan tempat kerja disini."
Kesan yang kejam itulah yang langsung membekas dibenak karyawan divisi c, tidak ada kata lain Daren langsung membalikan badannya berniat meninggalkan tempat tersebut namun langkahnya terhenti dan melihat ke arah Freya dengan tatapan tajamnya, yang dilihat hanya melengos dan menundukkan kepalanya sembari menggenggam bawah bajunya yang dirasa sudah keringat dingin.
__ADS_1
Freya terlihat pasrah setelah kepergian Daren dia yakin tidak lama lagi badai pasti akan menerpanya.
•
•
•
***
Daren berjalan dengan perasaan yang tidak dapat mengerti marah sudah bercampur aduk dalam diri Daren, belum cukup Freya membuatnya kesal kini sudah hadir wanita yang paling menyebalkan dimuka bumi pikir Daren. Dan dengan wajah tanpa dosanya malah menegur Daren dengan santainya.
" Halooo."
Seketika langkah kaki Daren terhenti mendengar suara Emily yang sudah berdiri di sisi ruangannya sengaja menunggu kedatangan Daren. Tak habis pikir Daren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, berpikir apa lagi yang diinginkan wanita ular ini, tidak cukupkah penderitaan yang diberikannya melalui suaminya yang hampir membuatnya kehilangan nyawanya.
Dengan langkah cepat Daren langsung menarik lengan Emily dengan kasar dan menyeretnya menjauhi ruangannya.
" Ikuti aku ! "
Namun seketika langkahnya terhenti tatkala mereka berpapasan dengan ayahnya Emily yaitu Joan. Sadar dirinya diperhatikan Daren langsung menurunkan lengannya dan bersikap biasa saja.
" Oh, aku ingat anda. Senang bertemu dengan anda secara langsung."
Daren menatap Joan dengan sinis karena terdengar dari kata-katanya seolah menghina Daren. Seolah mengatakan kamu adalah pria yang sudah merusak rumah tangga anakku.
Bukan tanpa alasan mengapa Joan mengatakan dia mengingat Daren karena dia tahu permasalahan apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga anaknya.
Sebenarnya Emily tidak mencintai Alvon karena mereka menikah karena dijodohkan oleh ayahnya Joan. Karena Alvon merasa tidak dicintai dari situlah dia sering menyiksa dan bahkan memukuli Emily sehingga pernah suatu waktu Emily masuk ke rumah sakit dan memerlukan perawatan intensif.
Joan tidak pernah tahu menahu masalah kekerasan yang dialami anaknya karena dia hanya mementingkan urusan bisnisnya dengan menantunya, sehingga apa yang dikatakan Emily tidak pernah dipercayai oleh Joan. Dan mengenai perselingkuhan anaknya Joan terus saja membela Alvon dan membenci Daren setengah mati. Tanpa mencari tahu kebenaran yang terjadi.
Ditengah-tengah obrolan mereka sebuah panggilan masuk membuat deringan ponsel Joan berbunyi.
" Halo pak Beni. Ah iya saya sudah disini.... Baik, baiklah."
Sebuah panggilan dari Direktur tempat Daren bekerja pak Beni dan itulah alasan kenapa Joan bisa berada di kantor tersebut. Setelah menerima panggilan tersebut Joan langsung memasukan ponsel ke dalam saku celananya dan berpamitan kepada Emily dan Daren.
__ADS_1
" Kalau begitu ayah pergi dulu, dan saya pergi dulu kita bertemu lagi nanti. Dan mungkin nanti kita akan sering bertemu"
Dengan senyum lebarnya Emily merasa bahagia karena dia juga ikut bergabung dengan proyek yang dilakukan perusahaan ayahnya dan perusahaan tempat Daren bekerja. Hal itu seperti kesempatan yang tidak akan Emily lepaskan begitu saja untuk bisa mendapatkan kembali hati Daren.
" Ayah pergilah dulu menemui pak Beni, nanti aku akan menyusul."
Joan hanya mengangguk dan meminta Emily untuk tidak terlalu lama dan pergi meninggalkan mereka berdua, dan Emily membalasnya dengan mengatakan dia tak akan lama.
Daren yang masih belum paham dari perkataan Joan yang mengatakan akan sering bertemu mau tidak mau menanyakannya secara gamblang kepada Emily.
" Apa maksud ayahmu ? " melihat Emily dengan enggan " Kenapa kami akan sering bertemu ? "
" Aku tidak suka mengakui kekalahan, aku selalu mendapatkan apa pun yang aku inginkan. Dan yang aku inginkan adalah kamu Daren."
" Aku katakan kepadamu. Ini akan menjadi kekalahan pertamamu. Karena kamu tidak akan bisa memiliki aku." menekankan setiap kata kata yang diucapkannya. " Melihat masa lalu kita, aku jadi kasihan kepadamu."
Tak berhenti disitu Emily menjawab setiap perkataan Daren tak ingin kalah dan ingin menunjukan dengan siapa dia berhadapan.
" Mulutmu ini..." menyentuh bibir Daren dengan telunjuknya. " Persis apa yang ingin aku menangkan."
Dengan perasaan jijik Daren langsung mengelak dari sentuhan tangan Emily, dan menyesali apa yang sudah dia perbuat di masa lalu sampai bisa bertemu dengan wanita yang tidak tahu malu, tepat berada di hadapannya.
" Tapi tidak apa-apa. Karena kita akan selalu bertemu setelah ini." menyentuh dada bidang Daren dan berlalu meninggalkannya.
Tentu saja hal tersebut semakin menyulut emosi dalam diri Daren.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa klik favorit, like dan komentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku 😘😘🤗🤗💞💞