Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Semoga Kau Bahagia


__ADS_3

“Nak ayo kita harus segera pergi mengunjungi orang yang special untuk kita hari ini.” Teriak Daren kepada


seroang bocah kecil berusia lima tahun yang sedang menuruni anak tangga.


“Iya papi.” Jawab anak kecil tersebut yang kini sudah tumbuh dewasa dan menjadikan Daren sebagai orang tua yang sempurna karena kehadiran sang buah hati.


Dia semakin terharu karena anaknya mampu tumbuh dengan mandiri hingga saat ini, masih ingat di bayangannya ketika memangku Devano untuk pertama kalinya. Dunianya serasa sempurna sejak saat itu.


“Kalian berangkat sekarang ?” Pertanyaan Lydia membuyarkan lamunan Daren.


“Iya mam, aku akan pergi dengan Devano.” Jawab Daren.


“Yasudah hati-hati ya nak dan jaga cucuku baik-baik jangan sampai ada yang lecet sedikit pun.” Wejangan maminya pun keluar dari mulutnya.


“Nanny aku pergi dulu ya.” Pamit Devano kepada neneknya yang di sambut ciuman bertubi-tubi dari Lydia.


“Hati-hati sayang, papay.” Neneknya lebay juga batin Devano. (Baru sadar)

__ADS_1


Ketika dalam perjalanan Daren menghentikan mobilnya di depan toko bunga seperti yang sering dia lakukan sebelum-sebelumnya.


“Papi mau beli bunga tulip lagi ?” Tanya Devano yang seperti sudah hafal dengan kebiasaan Daren.


“Iya nak.” Sambil mengusap kepala Devano.


“Dan membeli bunga tulip lagi ?” Tanya Devano yang memang mulai cerewet di usianya saat ini. “Kenapa tidak membeli bunga lain, seperti mawar ?”


“Karena papi tau dia menyukainya.” Dan Daren pun segera menuruni mobilnya dan membeli sebuket bunga untuk dia berikan saat tiba di pemakaman nanti.


Daren dan Devano pun tiba di sebuah tempat pemakaman umum dimana itu memanglah tujuan utama mereka sedari awal.


“Kenapa apa kamu tidak sedih, padahal papi sudah menceritakan semuanya. Dia adalah penyelamat hidup kita.”


“Sedih tapi aku lebih sedih melihat papi menangis.” Terang Devano sembari membukakan pintu mobilnya sendiri.


Daren berjalan mendahului Devano yang setia mengekori ayahnya, Devano sungguh menjadi anak yang sangat cerdas dan berusaha untuk tidak merepotkan Daren, padahal sudah jadi tugas orang tua si repotkan oleh

__ADS_1


anaknya sendiri.


“Kami datang lagi dan tidak lupa membawakan sebuket bunga untuk mu.” Daren pun meletakan bunga tersebut di atas kuburan tersebut. “Seperti biasa bunga tulip yang aku bawakan karena aku yakin kau pasti


menyukainya karena itu menjadi bunga favorit mu.”


“Kau lihat anak ini, dia adalah anak yang tangguh dan kami bisa bahagia karena dirimu jadi kami berdoa kau juga selalu bahagia di sana semoga kau bahagia, semua pengorbanan mu kami  tidak akan pernah melupakannya, kau adalah orang yang terpenting dalam hidup kami.”


Suara Daren mulai serak dan Devano tahu ayahnya hampir menangis lagi. “Ayah, aku ingin segera pergi.”


Tanpa menunggu jawaban Devano sudah berjalan meninggalkan Daren yang masih berdiri di tempatnya.


“Aku pamit, nanti kami akan berkunjung lagi kesini.” Dan Daren pun berlari kecil mengejar Devano yang sudah agak menjauh.


“Tunggu papi nak.” Mengatakannya sembari meraup tangan kecil anaknya dan menggenggam erat. ”Jalan mu cepat sekali papi sudah berumur jadi pelan-pelan saja.”


“Papi jangan berlebihan.” Menatap papinya sinis. “Setiap hari berolahraga saja mana ada berlari kecil seperti tadi membuat mu kelelahan.”

__ADS_1


“Mulutnya ini persis seperti aku.” Daren terkekeh dalam hatinya.


__ADS_2